Bagian 4 | Istana Daisy

83 17 5
                                        

Halo, boleh minta vote dan komentarnya?? Aku harap kalian suka dengan cerita ini, terima kasih. Mohon maaf untuk typo-nya. Jangan lupa tambahkan di library kalian ya^^
Happy reading^^

🧚‍♀️✨-----✨🧚‍♀️


Aku memperhatikan taringnya, kemudian beralih ke bola matanya yang masih berwarna merah.

"Jadi vampire itu benaran ada?"

"Ya, di dunia tanpa nama ini. Semua yang mustahil di duniamu dulu, akan menjadi nyata disini." Jawab Ken, suaranya lembut.

Aku mengedipkan mataku untuk memutus kontak mata dengannya, lalu berdiri tegak didepannya.

"Jika kamu vampire, kenapa kamu keluar di siang hari seperti ini? Bukankah kulitmu seharusnya terbakar karena sinar matahari?" Tanyaku yang masih belum yakin dengan ucapan Ken, tapi harusnya aku percaya dengan bukti bola mata dan taring itu.

"Seorang ratu elf memberiku ramuan agar kulitku tahan dari sinar matahari, namun ramuannya hanya bekerja dalam kurun waktu 24 jam saja." Mata Ken sudah kembali seperti semula.

"Ratu elf?"

Apalagi itu? Apa aku masuk ke negeri dongeng?

"Iya, ratu elf. Kamu harus percaya hal-hal di luar nalarmu di dunia ini, Isla."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Ken berjalan meninggalkanku yang masih berusaha mencerna semua fakta baru yang harus aku percayai.

"Meskipun banyak perbedaan di dunia ini dengan duniamu dulu, tapi hutan tetap menjadi tempat tinggal binatang-binatang liar, Isla. Kamu tidak mau kan jadi santapan mereka?"

Aku langsung berlari menyusulnya, "Bukankah kamu juga berbahaya?"

"Ya, apa kamu mau?" Langkah Ken berhenti, begitupun denganku.

"Mau apa?"

Untuk kesekian kalinya aku terkejut karena Ken tiba-tiba menyingkirkan rambut yang menutupi leherku dan bergerak mendekatinya, "Mau jadi santapanku, hm?"

Aku mendorong bahunya lalu berjalan cepat mendahului Ken, "Jangan mengada-ngada ya Ken, aku kesini untuk ibuku bukan untuk jadi makananmu. Sana cari mangsa yang lain saja!"

Bukannya marah atau kesal, aku tahu Ken hanya bercanda tapi candaannya itu membuat wajahku memanas.

Kudengar Ken tertawa dibelakangku, aku yakin dia tahu bahwa aku sedang malu sekarang. Ah menyebalkan!

*

Entah sudah berapa jam kami berada di dalam hutan, akhirnya pemuda vampire yang baru aku kenal itu mengatakan bahwa kami berdua sudah hampir sampai tujuan. Ken menyingkirkan ranting pohon pendek yang menutupi jalan dan saat itu pula aku terpesona dengan pemandangan indah jembatan bercat putih dengan sungai kecil yang jernih di bawahnya. Banyaknya bunga membuat kupu-kupu dan lebah berterbangan kesana kemari. Tidak jauh dari jembatan, ada bangunan megah dan terlihat aesthetic seperti istana yang berada di cerita dongeng. Dan yang membuatku semakin terpesona adalah banyaknya bunga Daisy tumbuh di sekitar istana itu.

"Selamat datang kembali, Isla." Ucap Ken disampingku, aku menoleh kearahnya.

Ia tersenyum padaku, akupun ikut tersenyum.

"Itu istanamu, Ken?" Tanyaku sembari berjalan ke arah jembatan putih.

"Bukan. Apa kamu yakin jika istana vampire akan tampak secerah itu?"

"Tidak, pasti terlihat suram seperti papan catur." Tebakku, dan ia membenarkan ucapanku dengan senyum miringnya.

"Lalu milik siapa itu?"

Isla AbrrielaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang