Halo, boleh minta vote dan komentarnya?? Aku harap kalian suka dengan cerita baru ini, terima kasih. Happy reading^^
🧚♀️✨-----✨🧚♀️
Terang dan sejuk...
Kurasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa diriku. Sebuah ketenangan yang selama ini aku impikan ketika berada di rumah. Mataku terbuka secara perlahan, memandang jauh ke depan. Pohon rindang yang kusandari ini cukup melindungiku dari terik sinar matahari, memberiku kenyamanan yang tidak ingin aku tinggalkan.
Namun punggung seseorang di jauh sana membuatku penasaran dan bangun dari posisi dudukku. Siapa? Kulangkahkan kaki menuju orang yang masih berdiri di tengah ladang bunga lavender itu.
"Siapa itu?" Aku mencoba bertanya pada orang asing itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Aku berjalan lebih dekat lagi, saat mau menyentuh punggungnya tiba-tiba suara teriakan dari belakang memanggil namaku.
"Isla!"
"ISLA!"
Dok! Dok! Dok!
Kelopak mataku terbuka secara paksa, pusing langsung menyerang kepalaku. Aku mendesis pelan karena bangun secara tiba-tiba lalu menatap pintu kamar dengan malas. Ibu tiriku, Freya Smith sudah memulai aksinya.
"BANGUN! MAU SAMPAI KAPAN KAMU TIDUR HAH?! CEPAT TURUN DAN BUATKAN KAMI SARAPAN!"
"Iya."
Aku bangun dari ranjangku dan mulai membersihkan diri sebelum keluar dari kamar kecilku. Bukan kamar sih sebenarnya ini loteng rumahku, sementara kamarku yang dulu direbut oleh adik tiriku, Charlotte Smith. Aku sangat menolak jika nama keluargaku dipakai oleh mereka yang benar-benar bukan keluargaku.
Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, aku keluar dari kamarku menuju dapur. Dua orang yang paling tidak aku sukai itu sudah duduk manis di ruang makan. Layaknya seorang pembantu aku pun memasakkan sarapan untuk mereka berdua. Memang dasarnya mereka pemalas dan tidak tahu diri.
"Ayahmu telepon tadi malam, katanya tahun ini belum bisa pulang lagi. Tapi ayahmu bilang akan memberikan apa yang kamu minta sebagai hadiah." Ujar nenek lampir itu yang jelas kepada Charlotte puteri kesayangannya.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan telepon ayah nanti dan aku akan mengatakan barang-barang yang aku inginkan. Kalung, anting-anting, gaun, dan masih banyak lagi." Jawab Charlotte dengan begitu semangatnya, aku muak mendengarnya.
"Jangan lupa alat make-up terbaru ya sayang."
"Cih." Aku mendecih pelan mendengar mulut mereka yang mengeluarkan kalimat-kalimat tidak berguna itu. Masuk ke rumah keluargaku dan dengan rakus memakan semua harta milik orang tuaku.
"Sarapannya mana?! Aku sudah lapar ini."
Suara cempreng Charlotte benar-benar merusak pendengaranku. Tanpa menjawabnya aku langsung membawa sarapan yang telah aku buat ke meja makan dan menaruhnya di depan mereka.
"Sandwich lagi?"
"Bahannya hanya cukup untuk membuat sandwich saja, aku belum sempat belanja karena kehabisan uang." Jawabku cepat sebelum Charlotte protes.
Pak!
"Belanja sana! Cari bahan makanan yang segar dan masak makanan yang enak, aku tidak mau puteriku kekurangan gizi karenamu."
Aku memungut uang yang ibu Freya berikan padaku dengan cara yang tidak sopan itu. Sudah jelas itu uang kiriman dari ayah, bagianku pun setengahnya dia ambil.
Aku tidak ingin banyak bicara dengan mereka dan memilih kembali ke dapur untuk sarapan.
Setelah selesai sarapan aku mulai melakukan rutinitasku yaitu membersihkan rumah, berkebun, dan memberi makan hewan ternak. Nenek lampir dan anaknya sudah tidak ada di rumah, tidak tahu mereka pergi kemana.
Sembari berkebun aku berpikir, kurasa memang benar kalau kisah hidupku mirip dengan cerita Cinderella tapi tentunya ada yang berbeda. Aku bukan gadis lemah lembut seperti si tuan puteri, tidak sebaik dia bahkan tak secantik dia juga. Aku masih memiliki niat jahat untuk membasmi para hama itu, mengusir mereka dari rumahku dengan cara yang sama seperti mereka memperlakukan diriku setiap harinya. Namun saat ini belum waktunya, aku masih terlalu lemah. Apalagi ayah belum bisa pulang tahun ini, jadi terhitung sudah dua tahun setelah satu bulan pernikahan kedua, ayah belum pernah pulang ke rumah. Kalau ayah di rumah kan kedua orang itu pasti tidak berani menggangguku.
Selain itu, yang aku harapkan selama ini bukanlah seorang pangeran yang datang ke rumah tapi ibu kandungku, Diandra Abrriela. Abrriela nama keluarga dari pihak ibuku. Kata ayah, dulu ibu yang meminta untuk mencantumkan marganya di namaku agar mudah dikenali, tidak tahu apa maksudnya tapi itu yang membuatku berharap dapat bertemu dengannya sampai sekarang.
Isla Abrriela Ackerley, nama yang keren menurutku. Terlahir dari dua orang yang dulunya saling mencintai namun sekarang berpisah karena salah satunya menghilang, Cedric Ackerley dan Diandra Abrriela.
"Sial, sebenarnya apa sih pekerjaan ayah? Kenapa jarang sekali pulang padahal hanya di kota saja kerjanya. Kenapa aku tidak diajak sekalian? Malah ditinggal di rumah bersama dua orang pemalas itu. Ibu juga, kemana sih perginya? Terus alasan ayah menikah lagi itu apa? Berpikir wanita itu bisa mengurusku dengan baik? Cih! Kalian berdua tidak bertanggung jawab." Umpatku pada kedua orang tuaku yang dengan teganya meninggalkan puterinya ini.
Ini perbedaan antara aku dengan Cinderella, tidak lemah lembut dan tidak berbakti pada kedua orang tuaku. Apa aku salah? Tidak!
Aku menaruh keranjang yang berisi sayuran itu disampingku, lalu terduduk di tanah dan diam karena merasa lelah menjadi seorang budak. Dulu, waktu aku masih kecil setiap ayah pergi bekerja aku akan dititipkan ke rumah paman, tapi sekarang paman sudah tidak ada. Mungkin memang benar, ayah berpikir dengan menikah lagi kehidupanku akan aman dan aku tetap mendapatkan kasih sayang. Tapi kenyataannya aku malah mendapatkan nasib buruk ini.
"Hahh...menyebalkan."
"ISLA! MAKAN SIANGNYA MANAA?!"
Aku menoleh ke arah pintu belakang rumah, Charlotte si otak makanan itu sudah berdiri di ambang pintu sambil berteriak padaku.
"Apa tangannya itu tidak berfungsi sama sekali, makan siang saja masih bertanya padaku." Gumamku pelan sambil beranjak dari posisi dudukku lalu berjalan kembali ke rumah.
-Tbc-
🧚♀️✨mohon tinggalkan jejak anda✨🧚♀️
KAMU SEDANG MEMBACA
Isla Abrriela
Romance🧚♀️✨Deskripsi cerita: Isla Abrriela Ackerley, gadis remaja berumur 17 tahun yang tinggal bersama ibu tiri serta adik tirinya di sebuah desa yang cukup terpencil. Hidup serba kekurangan karena perlakuan jahat dari ibu tirinya. Ibu kandungnya telah...
