Ga mau tau, pokoknya vote dulu.
───────♡───────
Seperti ungkapan pepatah, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga. Semuanya yang selama ini Ana simpan, akhirnya hari itu berakhir. Kebohongannya terbongkar, menyisakan tangis pilu yang Ana sendiri enggan mendengarnya, Hana menangis, begitupun dengan dirinya.
Wanita memang tak jauh dari kata tangis, bahkan setegar apapun jika menerima hal yang sangat menyakitkan, maka air mata yang akan bicara. Mengungkapkan perasaan yang benar-benar amat sakit.
Hana membungkam, masih kecewa terhadap putrinya. Seperti malam ini, Hana makan malam tanpa menunggu Ana. Setelah Ana tiba di ruang makan, ibunya sudah tidak ada.
Laparnya sudah menghilang entah kemana, Ana balik lagi ke kamar, sungguh ia tidak tau mau ngelakuin apa lagi, mau buat video endorse mood masih terombang-ambing. Mau berselancar di sosmed, ia malas. Oke, tidur adalah pilihan yang tepat.
_____
Kebetulan hari ini sekolah diliburkan, sebab di sekolahan ada kunjungan dari orang-orang dinas. Walaupun kemarin malam tidur lebih awal tidak membuat Ana terbangun pagi hari, ia masih ingat kalau hari ini sekolah di liburan. Bangun jam sembilan pagi, pastinya Ana melewatkan sarapan bersama Hana. Ah iya, mengingat kejadian kemarin Ana masih bingung cara agar Hana tidak lagi menghindarinya.
Usai mencomot roti satu lembar tanpa memberi topping, Ana balik ke kamar untuk bersiap-siap bertemu Arvan. Iya, memang mendadak, tapi tak apalah yang terpenting Ana harus bertemu Arvan hari ini juga.
Pria itu mesti berada di satu acara tv secara live setiap pagi, kemungkinan besar Arvan masih berada di sana, mengingat acara itu selesai pukul sepuluh pagi. Ana mencari kontak ayahnya di aplikasi chat, ia tersenyum miris, tidak ada satupun riwayat chat dengan Arvan.
Aku mau bertemu sama papa, jangan pergi dari situ.
Ojek online yang Ana pesan, sudah menunggu di depan rumah. Nampak gadis itu terburu-buru, terbukti Ana tidak merias wajahnya dengan sedetail mungkin, hanya skincare, bedak tabur dan liptint.
"Makasih, Pak."
Kedatangan Ana di tempat kerja Arvan, mengundang banyak perhatian, dari lantai satu sampai lantai kelima, terhitung puluhan orang menyapa Ana.
Ana menunggu Arvan, di salah satu sofa. "Lu itu jarang banget bahkan ga pernah mengumbar kedekatan lu sama Arvan, sekalinya datang udah jadi sorotan satu studio," ucap Cia, seorang yang akhir-akhir ini viral, karena booming di TikTok.
"Emang perlu kaya gituan, ga guna juga kan?" tanya Ana santai, setelah menghabiskan kunyahan apel yang diberikan Cia.
"Bisa jadi berpengaruh sama karier lu."
"Oh ya? Ntar deh gue pikir-pikir," kata Ana berusaha mengakhiri obrolan, yang ia khawatirkan Cia akan semakin mengorek tentang kehidupannya.
Mengetahui Arvan sudah selesai, Ana berpamitan kepada Cia lalu menghampiri ayahnya yang lagi meneguk air mineral.
"Pa," panggil Ana yang menimbulkan reaksi kaget Arvan.
"Kamu kenapa di sini? Ga sekolah?"
"Aku tadi udah chat papa mungkin belum sempat papa lihat. Pa, Papa bisa ga ajak aku ke sesuatu tempat? Di mana hanya ada aku dan papa." Arvan langsung menyetujui, sedikit ada pertanyaan tentang maksudnya Ana tapi ia yakin akan segera mendapat jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZELVINA
Teen Fiction⚠ CERITA INI BERTABUR GULA, siap-siap diabetes. ⸝⸝⸝ Roseana Dineshcara, gadis belia yang populer di kalangan anak muda. Memulai karier diusia terbilang sangat muda, 14 tahun. Segala hal tentang dunia maya, Ana sangat pandai. Urusan hati, kemungkina...
