... Bagian 13 [Hipotensi]

10 5 1
                                        

Hai, bagaimana kabarnya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hai, bagaimana kabarnya?

Ramaikan part ini yaw.

───────♡───────

Sabatara malam ini terlihat sangat ramai. Diantara 150 orang yang mempunyai ID Card kemungkinan hampir 85 persen turut hadir. Akan ada pengumuman penting langsung dari anak sulung pemilik Sabatara. Opal, orang di Sabatara kerap memanggilnya Bang Opal. Lelaki itu sedang menempuh semester akhir dunia perkuliahan.

Reza sampai dibantu Zelvin dan Gilang untuk berdagang. Di area luar sendiri bangku dari ban bekas sudah penuh. Tidak ada kata sepi di sini, suara gitar terpetik dan seorang bernyanyi terkalahkan dengan sorakan pemenang permainan poker. Tidak ada pertaruhan cuman harus modal lipstik.

Bahkan ketukan keras anak-anak catur di papan catur kerkalahkan oleh jeritan galau para sad boy. Intinya beragam perasaan sekarang saling beradu.

"Bokap lu tugas lagi?" tanya Reza.

"Iye, kalo kaga, kaga bakalan gue ke sini malam ini." Zelvin mematikan kompor melihat mie yang sudah matang.

"Ga kebayang gabutnya lu di rumah."

Zelvin hanya terkekeh, ia menyuapkan mie ke mulut dalam satu angkatan sumpit dengan porsi banyak. Informasi saja, Zelvin menyukai makanan yang masih hangat.

"Kapan official sama Ana? Udah deket banget sampai kemarin lu gendong tuh."

Zelvin menyesap teh hangatnya. "Yang lu kira deket, ga harus official juga."

Reza cukup bergumam. Melihat Zelvin makan dengan nikmat, ia juga membuat makanan yang sama. Bubuk cabe juga ikut masuk ke dalam mangkok.

"Gila, mulut lu kaga kebakar, Ja?" tanya Dito yang baru datang.

"Sejak kapan mie bisa bakar mukut?"

Dito kicep beberapa saat. "Astaga, Ja, Ja, perumpamaan doang, lu mah ga bisa diajak canda-canda."

"WOY KUMPUL SEKARANG," ucap Radit dengan megaphone yang dibawanya.

Di samping Radit sudah ada Opal. Lelaki dengan kaos oblong juga rokok yang terselip di jari. Tampilannya begitu fresh.

Butuh sekitar tiga menit untuk semuanya kumpul di ruang utama Sabatara. Malam ini memang sengaja dilarang untuk bawa cewek ke sini, sebab sudah diduga bakal seramai ini. Jika ada kemungkinan besar akan disuruh pulang.

Opal naik ke kursi. Megaphone sudah berpindah tempat. Sebenarnya tanpa alat itu suara Opal masih bisa terdengar. Raditnya saja yang berlebihan membawa alat tersebut.

"Konyol lu, Dit, segala bawa alat ini ke sini. Sebagai bentuk penghargaan aja sih gue pakai ini," ujar Opal di depan pengeras suara tersebut.

Sedangkan Radit yang segala dibawa-bawa menggaruk kepalanya agak malu. "Biar semuanya denger, Bang," sahut Radit.

ZELVINACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang