⚠ CERITA INI BERTABUR GULA, siap-siap diabetes.
⸝⸝⸝ Roseana Dineshcara, gadis belia yang populer di kalangan anak muda. Memulai karier diusia terbilang sangat muda, 14 tahun. Segala hal tentang dunia maya, Ana sangat pandai. Urusan hati, kemungkina...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seperti yang sudah-sudah, sekarang kantin dipenuhi murid. Dari pintu kantin Ana mendengus, rasanya menyesal tidak gabung bersama para temannya tadi dan Ana tidak akan bisa bergabung dengan temannya, sebab kursi plastik itu tidak tersisa.
Ana memasukkan ponsel ke saku cardigan rajut. Menilik jam tangan yang dipakai, masih ada sekitar sepuluh menit sebelum memulai lagi pelajaran. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu Ana mempercepat langkah ke dalam kantin.
"Ana."
Pemilik nama langsung menoleh ke sumber suara. Aiko, gadis itu melambaikan tangan ke Ana.
"Tadi katanya ga ke kantin, sekarang ke kantin, mampus kan ga kebagian kursi."
"Namanya juga takdir bisa apa lagi."
Yaya berdiri. "Kalau mau duduk lu bisa pakek kursi gue, Na. Gue juga udahan kok makannya."
Ana tersenyum lalu menggeleng, ia tidak akan menerimanya. Itu kursi sudah menjadi tempat Yaya. "Ga, Ya. Lu lanjut duduk aja, gue cuman mau beli roti sama minum doang ntar balik ke kelas lagi."
"Gapapa sama sekali, Na, lu duduk aja di sini."
"Ga mau." Ana segera pergi, kalau terus berada di situ pasti akan membuang waktu dan melanjutkan obrolan bersama Yaya.
"Buk, roti bakar masih ada?"
"Yah udah habis, Neng, tadi tinggal dua tapi udah dibeli."
Ana berfikir sebentar, ia tidak tau harus membeli apa untuk mengisi perut laparnya. Es teh manis di tangan kirinya tidak akan cukup.
"Lu mau beli kaga sih, kalau kaga coba lu agak minggiran," tegur siswi di belakang Ana.
"Oke."
"Buat lu." Mengejutkan, Ana sungguh terkejut ketika Zelvin tiba-tiba memegang tangannya, memberikan dua roti bakar yang masih utuh di dalam kertas putih.
Belum sempat bertanya, cowok itu sudah menjauh keluar kantin.
"Dikasih ke gue?" tanya Ana setelah berhasil menyamakan langkah Zelvin.
"Bisa dibilang begitu." Zelvin berhenti di depan kelasnya, sedikit memandurkan langkahnya lalu duduk di kursi panjang depan kelas.
"Tapi kenapa?" Lelaki itu tertawa atas pertanyaan yang dilemparkan Ana. Kenapa Ana menanyakan pertanyaan jika roti bakar sudah dicomot.
Tidak bisa dipungkiri Ana ikutan tertawa melihat kekonyolan yang dibuat. "Gue laper banget."
"Masih kurang?"
"Cukup-cukup. Bentar bawain dulu es gue." Zelvin menurut. Merekam setiap gerak-gerik Ana.
Setelah lima ribu dikeluarkan, Ana menyodorkan ke Zelvin. "Ini uangnya. Makasih banget soalnya lu jadi pahlawan kelaperan gue."