SEBELAS - satu kebenaran

342 43 2
                                    

"Embun." panggilan lembut memberhentikan langkah kaki Embun yang berjalan pelan menuruni anak tangga. Gadis itu menoleh dan langsung mendapati Elina sedang membawa dua kemeja berwarna putih dalam keadaan terlipat rapi di tangannya. "Kamu habis dari mana, sayang?" tanya Elina lagi.

"Aku, habis—"

"Cerita saja, Nak." kata Elina. Ia tau ada sesuatu yang baru saja terjadi, Elina mengenal Embun dengan baik dan Elina tau betul bahwa gadis itu tengah tidak baik baik saja.

"Embun—tadi lancang masuk ke kamar Daniel. Tapi jujur Embun gak ada maksud apapun. Embun cuman mau bersihin kamar Daniel dan ambil beberapa baju kotornya. Embun sama sekali gak ada tujuan untuk ganggu privasi Daniel." kata Embun pelan di akhir kalimat.

Ia memakluminya jika Elina akan marah, ia sudah lancang. Entahlah, tetapi mendapat bentakan dari beberapa orang hari ini membuat kepalanya sangat sakit.

Elina mendekat. Berjalan kemudian mengusap puncak kepala Embun dengan sebelah tangannya ketika sudah berdiri berdekatan.

"Bunda tau. Kamu sama sekali tidak mempunyai niatan buruk apapun. Lagipula, kalian sudah menjadi suami - istri. Tidak boleh ada yang di sembunyikan. Bahkan seharusnya kalian sudah tidur dalam satu kamar yang sama." ujar Elina membuat Embun menghela nafas karena dua alasan.

Satu, karena lega kalau ternyata Elina tidak marah kepadanya. Dan dua, karena pernyataan Elina barusan. Satu kamar dengan Daniel? Tidak pernah terbayangkan raut wajah Daniel yang jijik mendengar hal ini nantinya.

"Oh iya, Embun. Bunda minta tolong sama kamu, tolong bantu Bunda untuk bawa kemeja kantor Ayah ke kamar." kata Elina menyodorkan kemeja yang dibawanya sedari tadi.

Dan mau tak mau Embun harus mengambil alih pakaian tersebut. Bukan karena malas tetapi,

"Embun antar kemeja ini ke kamar, Ayah dan Bunda?" beo Embun.

"Iya, kamarnya tidak Bunda kunci ko. Kenapa, Nak?" tanya Elina hingga Embun menggeleng gelengkan kepalanya tersadar.

"Nggak papa, Bunda. Embun cuman—gak enak kalau harus masuk kamar, Ayah dan Bunda." jujur Embun.

"Kamu adalah menantu Bunda. Kamu bukan orang asing, tidak menjadi masalah dong." kata Elina terkekeh. Sifat lugu, tulus yang di miliki Embun menjadi salah satu alasan mengapa Elina sangat setuju jika gadis itu menjadi bagian dari keluarganya.

"Baik, Bunda." ujar Embun menurut.

***

Berhubung Embun telah menerima permintaan Elina untuk membantunya. Kini Embun harus memasuki kamar Ayah dan Bunda. Sungguh, walau ia dan Ronald telah menjalin hubungan sangat lama.

Tetapi ini adalah pertama kalinya Embun akan menginjakkan kakinya ke dalam kamar kedua orang tua dari pacarnya yang telah tiada dan—suaminya saat ini.

Suara knop pintu yang terbuka menghanyutkan fikiran Embun kala melihat bagian dalam kamar tersebut. Sangat cantik dan menenangkan hati. Memang benar, keluarga Grissham adalah keluarga pemilik perusahaan sukses di Jakarta. Terbukti di dalam rumah megahnya tidak ada satu sudut ruangan yang terlihat kurang menarik.

Apalagi kamar Ayah dan Bunda. Sangat amat mengagumkan, mulai dari luasnya hingga fasilitas yang ada di dalam.

Embun menaruh kemeja tadi di atas ranjang king size. Elina yang mengatakan bahwa Embun hanya perlu meletakkannya di sana. Sesaat setelah itu, Embun hendak pergi keluar kamar. Namun tatapan matanya tak sengaja melihat foto di dalam bingkai kecil.

Namun anehnya. Kenapa bingkai itu di letakkan di belakang meja rias? Atau jangan jangan Elina telah kehilangan bingkai foto, dan wanita itu sama sekali tidak tau kalau ternyata bingkai yang selama ini ia cari ada di sana? Sebaiknya Embun ambil saja benda itu.

Difficult [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang