Entah ada angin apa, hari ini Daniel menuruti kemauan Ayahnya. Ia memutuskan pulang saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, walau desah kecewa di keluarkan oleh semua temannya, Daniel tetap tidak mengurungkan niat awalnya untuk kembali ke rumah.
Lagi pula, hari ini Daniel tidak bersekolah. Ia pergi dan menghilang dari pandangan semua orang untuk sementara agar bisa menenangkan pikirannya yang kacau.
Namun tetap, sejauh apapun Daniel menyendiri. Pada akhirnya ia akan kembali pada teman temannya lagi.
"Lo beneran mau pulang? Baru jam sembilan malam Bro!" ujar Devan kecewa.
Dan kini mood Alana pun sepertinya ikut hancur, terlihat dari wajah masamnya saat mendengar Daniel tidak ikut ke club malam bersama mereka.
"Kamu beneran gak mau ikut? Ikut aja Daniel, kalo kamu pulang aku sama siapa?" rajuk Alana memeluk lengan kanan Daniel dengan sangat erat.
"Ada Lia, Devan, Adnan juga ikut. Lo gak sendiri." jawab Daniel. Cowok itu membiarkan saja Alana bersikap semaunya, Daniel juga tidak pernah risih kalau Alana dengan terang terangan mendekatinya.
Namun tetap, tidak ada apapun di antara mereka. Untuk saat sih seperti itu, tetapi tidak tau kedepannya bagaimana.
"Tapi beda kalo gak ada kamu." ujar Alana semakin merengek.
"Tau lo Dan, ko tumben jam segini udah pulang?" tanya Lia penasaran.
"Udah tobat lo? Gak mau ikut kita seneng seneng lagi?" timpal Adnan mengejek.
"Gak usah so tau. Gue duluan." ujar Daniel menyentak lengan Alana pelan. Dan mau tak mau mereka harus pergi tanpa seorang Daniel Grissham. Kurang seru? Jelas, memangnya siapa yang selama ini mentraktir mereka kalau bukan Daniel seorang?
***
Suara langkah kaki mulai menghampiri ruang tengah. Rumah keluarga Grissham, yang luasnya seperti istana itu terasa sunyi dan sepi. Bahkan tidak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya, kini Daniel sedang duduk di sofa mewah berwarna hitam dengan corak putih tersebut. Menunggu Ayah dan Bundanya, yang kemarin mengatakan kalau ada yang harus mereka bicarakan saat ini.
Cowok dengan rahang kokoh itupun tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mungkin semua tanda tanya di kepalanya akan terjawab malam ini. Semoga saja.
"Daniel." panggil Anson, suara berat yang begitu berwibawa sampai membuat buluk kuduk Daniel sedikit meremang.
Memalingkan wajahnya ke arah lain. Tepatnya ke arah wanita yang berdiri di samping Anson.
"Bunda." Daniel menghampiri Elina—ya, Bundanya yang bernama Elina Grissham. "Bunda kenapa?" tanya Daniel pelan. Dilihatnya wajah sang Bunda yang begitu pucat, mata yang sedikit membengkak seperti seseorang yang habis menangis dalam waktu yang lama.
Senakal apapun Daniel, ia tentu sangat menyayangi Bundanya. Sebisa mungkin Daniel akan menuruti kemauan Elina. Walau tetap saja, rasa dendam dan kesal yang tersimpan di dalam lubuk hatinya akan terus di rasakan Daniel selamanya.
Jadi—apa yang membuat Daniel seperti ini?
"Sebenarnya ada apa? Daniel gak mau basa basi!" ujar Daniel geram.
"Kaka kamu." ujar Anson dingin.
Mendengar hal itu, emosi Daniel mulai memuncak. Wajahnya pun mulai berubah memerah. "Kenapa lagi sama manusia aneh itu?" tanya Daniel tanpa ragu.
"DANIEL!" bentak Anson tak tertahan. Nafasnya sudah tak terkontrol ketika meladeni anak remaja yang satu ini. "Jaga mulut kamu itu! Dia Kaka kamu Daniel!" katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult [On Going]
ChickLit[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Daniel Grissham, cowok dengan rahang kokoh serta memiliki manik indah berwarna hijau. Dengan terpaksa harus menikah dengan seorang gadis yang telah dihamili oleh Kakanya sendiri. Karena tidak tau apa yang telah terjadi...
![Difficult [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/242407294-64-k475072.jpg)