"Bukannya aku tidak sakit hati, namun aku hanya sadar diri."
Embun Eri Ayudia
***
Hari ini, dirinya sudah sah menjadi seorang istri. Namun Embun tidak merasakan perbedaan sama sekali, mungkin karena ternyata dirinya menikah dengan orang yang saling tidak mencintai satu sama lain.
Lagi pula seorang Daniel? Astaga di mimpi sekalipun Embun tidak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi.
Gadis itu duduk di kursi atau lebih tepatnya meja belajar di dekat jendela. "Bersihkan kamar udah, nyapu udah, cuci seprai warna hijau itu juga udah,"
Gadis itu mengingat ingat apa yang harus ia lakukan kembali, karena tidak mungkin dirinya hanya duduk dan diam terus menerus di sini.
Walaupun Elina selalu mengomelinya jika Embun terus saja beres beres rumah sedari pagi tetapi Embun tetap melakukannya.
Ayolah, mungkin saja Embun sangat sangat bosan di dalam sini. Lagi pula siapa sih jabatannya di dalam keluarga ini? Tolong Embun untuk selalu mengingat siapa dirinya di sini ya.
Brak!
Embun terlonjak kaget, kemudian segera menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Daniel? Kamu udah-"
"Ini." Daniel melempar satu kotak susu ibu hamil.
Dan dengan susah payah Embun mencoba menangkap lemparan tersebut. Daniel melemparnya sungguh mendadak membuat Embun sedikit sulit melalukannya.
"Bunda nyuruh gue kasih itu ke lo." katanya lagi.
"Makasih Daniel, kamu udah mau beliin ini-"
"Lo budek? Gue cuman ngasih itu ke lo, ngapain juga gue beliin lo susu ibu hamil kaya gitu? Kurang kerjaan." ujar Daniel berlalu.
"Daniel tunggu," cegah Embun namun Daniel sudah jauh pergi meninggalkan Embun yang menghela nafas pelannya.
Salah tidak jika Embun ingin mengubah satu sisi? Ia sadar diri, sangat sadar siapa dirinya.
Tetapi Embun hanya ingin menjadi istri yang baik, tidak salah kan?
***
"Hah?" beo cowok berkaos hitam, dengan celana pendek selutut itu melongo atas permintaan Ibundanya.
"Bunda bilang, kamu temani Embun untuk ke rumah lamanya." ulang Elina.
"Mau ngapain sih Bun?"
"Kamu tanya mau ngapain? Tentu saja untuk membawa pakaian dan barang barang istri kamu, Nak." kata Elina menggeleng gelengkan kepalanya heran.
"Istri? Bunda lagi ngelawak ya?" tanya Daniel terkekeh.
"Dan apa tadi? Buat ngambil baju lusuhnya? Sama barang barangnya yang gak seberapa itu?" sarkas Daniel berjalan membuka pintu lemari es. Mengambil sekaleng minuman bersoda dan meneguknya sampai habis.
"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu Daniel, belajar menerima kata kata bahwa Embun adalah istri kamu sekarang." ujar Elina. "Tolong Bunda, ya?"
Elina terus mengekori Daniel, ia paham Daniel masih belum bisa menerima Embun. Tetapi ia akan berusaha membuat Daniel dan Embun bisa saling mencintai, bagaimanapun juga mereka adalah suami-istri sekarang.
"Bunda jangan ikutin Daniel terus!" kesal Daniel berbalik badan.
"Abisnya kamu gak mau bantu Bunda."
"Bantu apa?"
Astaga, masih bertanya lagi? "TEMANI EMBUN KE RUMAH LAMANYA!"
Mengorek ngorek telinganya yang pegang, Daniel membuang muka dan kemudian terkekeh pelan. Ya, ia tidak mau Bundanya melihat itu karena bisa bisa Daniel kena jeweran super Elina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult [On Going]
ChickLit[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Daniel Grissham, cowok dengan rahang kokoh serta memiliki manik indah berwarna hijau. Dengan terpaksa harus menikah dengan seorang gadis yang telah dihamili oleh Kakanya sendiri. Karena tidak tau apa yang telah terjadi...
![Difficult [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/242407294-64-k475072.jpg)