Hari ini, adalah hari yang ditunggu tunggu semua anak sekolah. Tidak lain dan tidak bukan ialah hari minggu. Hari dimana murid murid yang stress memikirkan tugas dan materi materi pelajaran di sekolah melepaskan penatnya, entah itu dengan liburan bersama keluarga atau bersama teman teman sekolah.
Namun nyatanya. Itu tidak berlaku untuk Embun, gadis yang terkenal akan kepintarannya di sekolah. Memilih mengabiskan hari minggunya dengan belajar bersama Regan, sahabat terbaiknya itu.
"Besok kamu jadi rapat Osis?" ujar Embun. Gadis yang sibuk dengan buku tulis dan pulpen di tangan kanannya.
"Jadi." jawab Regan mengangguk. Cowok itu juga sibuk berkutat dengan tugas sekolahnya.
Embun mengangkat wajahnya ketika mendengar dencakan keras dari Regan. "Kamu kenapa? Mukanya serius banget gitu." pertanyaan dari Embun membuyarkan konsentrasi Regan saat ini.
"Jawabannya gak ketemu ketemu juga. Padahal gue udah itung berulang kali." kata Regan yang tadi fokus pada sebuah buku paket. Terkadang cowok itu menggaruk asal kepalanya, mungkin Regan pusing dengan soal soal tersebut.
"Kamu udah hitung berkali kali. Tapi kalau rumusnya salah gimana mau ketemu jawabannya, Regan." kata Embun terkekeh. Gadis itu mengambil buku milik Regan lalu menuliskan sesuatu di sana. "Yang bener tuh kaya gini, coba deh kamu hitung ulang." katanya lagi.
Dengan pelan, Regan mengambil alih bukunya. Menuruti perintah Embun untuk menyelesaikan soal tadi dengan rumus yang Embun berikan barusan.
"Oh, jadi jawabannya 'E'?! Gue pikir rumus yang gua pake tadi udah bener, ternyata salah." cengengesan Regan kala selesai mengerjakan soal beberapa menit.
"Wah parah lo ketawain gue. Emang gue gak sepintar lo, abisnya rumus rumus kaya gini bikin gue pusing. Gue ambil IPS biar gak mikirin kaya ginian. Tapi nasib, masih ada pelajaran MTK!" kata Regan melihat Embun tertawa. Mereka berdua duduk berhadapan di salah satu meja nomer 13 di suatu Cafe terkenal.
Sudah rutinitas keduanya belajar bersama seperti ini. Bukan hanya di hari minggu, tetapi biasanya sepulang sekolahpun Regan dan Embun suka belajar bersama juga. Tak salah, keduanya sangat dekat dan saling memahami satu sama lain.
"Habisnya kamu lucu, udah pusing pusing hitung. Ternyata rumus yang di pake salah." tawa Embun namun lebih pelan.
Tetapi sesaat. Embun menelan semua tawa atau kekehan yang tadi ada di tenggorokannya. Kala tatapan yang Regan beri menjadi lebih sendu dan teduh. Gadis itu menjadi tidak leluasa bergerak jika Regan menatapnya intens, bukan apa apa tetapi Embun cukup risih.
"Regan." kata Embun hendak menyadarkan Regan. "Regan!" katanya lagi lebih keras.
"So—sorry, tadi gue bengong." kata Regan yang akhirnya tersadar. "Gue cuman, seneng liat lo tawa kaya gitu. Gue rela ngitung seberapa banyak soal MTK dengan rumus yang salah, kalo hal itu bisa bikin lo bahagia." kata Regan dengan oktaf yang sangat rendah bahkan seperti bisikan kecil.
"Maksud kamu?" tanya Embun yang belum paham apa maksud Regan. Lagipula, Regan memang seperti itu. Regan sering sekali berkata dengan nada pelan jika bersamanya, itupun dengan kata kata yang sampai saat ini Embun belum paham maknanya atau tujuannya.
"Lupain aja. Kalo pun gue jelasin. Lo gak akan paham." kata Regan. Ini masalah rumit, sering kali Regan hendak melupakannya dan membuang rasa ini jauh jauh. Tetapi sepertinya Regan telah terjebak dan sulit untuk keluar dari perasaan yang mengontrol dirinya.
Embun diam. Selalu begini, akan terasa canggung setiap kali Regan mengatakan kata kata itu. Sungguh Embun tidak menemukan titik terang dari ucapan Regan barusan, atau ucapan cowok itu di hari hari sebelumnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Difficult [On Going]
ChickLit[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] Daniel Grissham, cowok dengan rahang kokoh serta memiliki manik indah berwarna hijau. Dengan terpaksa harus menikah dengan seorang gadis yang telah dihamili oleh Kakanya sendiri. Karena tidak tau apa yang telah terjadi...