DUA BELAS - kardus sepatu

338 37 1
                                    

gak tau kan lu pada kalo sekarang gua dobel up HAHAHAHAHAHAHA

apansi, yu lah baca! Vomment juga cuy

***

"A—ayah?" gumam Embun terkejut. Begitupun dengan Elina. Keduanya serentak berdiri ketika tubuh jangkung pria dengan balutan jas berwarna hitam itu sudah sepenuhnya masuk dan berada tepat di dekat Elina dan juga Embun.

"T—api,"

"Jangan bicarakan hal itu lagi. Apalagi di depan, Daniel. Jangan biarkan dia mengetahuinya." potong Anson cepat.

Embun menelan semua kata kata yang sebenarnya ingin ia keluarkan. Cukup sampai di sini, ia tidak punya hak sama sekali untuk lanjut bertanya. Bahkan Daniel yang terhitung keluarga mereka saja tidak mengetahui hal ini, Embun berfikir bagaimana keadaan hati cowok malang tersebut jika mendengar kebenaran yang ada? Bahwa ternyata, Elina bukanlah orang tua kandung dari Daniel?!

"Ayah, sudah pulang—"

"Kamu masih menyimpan fotonya?" kata Anson lagi lagi memotong ucapan lawan bicaranya.

"I-—iya. Aku hanya—"

"Saya mengerti. Kamu boleh menyimpannya, masa lalu tidak akan pernah bisa di lupakan. Tapi jangan pernah lupa juga kalau masa depan kamu adalah saya." kata Anson tersenyum, seperti merasa bahwa tidak pernah terjadi apapun sebelumnya.

"Oh iya, Embun. Ayah tau Daniel tidak mau pergi sekolah bersama kamu. Jadi Ayah telah membelikan kamu mobil, kalau Ayah tidak salah. Kamu suka warna putih kan?" katanya lagi kepada Embun.

Tercekat hebat. Embun menganga mendengar ucapan Anson barusan.

"Tapi, Ayah. Embun gak tau cara menyetir mobil. Dan lagipula Embun bisa naik angkutan umum." kata Embun gelagapan.

"Tidak. Ayah tidak akan tenang, begitu juga dengan Bunda. Iyakan Bun?" kata Anson kepada Elina.

"Benar, Embun. Dengan Pak supir, kamu bilang gak perlu dan Bunda juga tidak bisa memaksa Daniel. Bunda juga sebenarnya masih ragu kalau kamu harus menyetir sendirian. Tapi tidak ada pilihan lain, sayang." kata Elina yang serba salah.

"Ayah. Bunda. Embun tau kalau kalian berdua khawatir, tapi Embun bener bener gak papa ko. Embun udah biasa pakai angkutan umum dan justru Embun sangat keberatan kalau harus terima pemberian dari Ayah. Bukan maksud Embun untuk nolak, tapi ini pilihan Embun." kata gadis berkaca mata tersebut.

Elina dan Anson saling bertatapan. Selain tidak bisa memaksa Daniel, mana bisa mereka memaksa Embun juga? Elina sayang keduanya. Susah ketika harus memerintah dan menolak keinginan keduanya.

"Baiklah. Tapi jika kamu berubah fikiran. Bilang sama, Ayah. Gak butuh waktu beberapa menit, mobil itu udah pasti terparkir di halaman rumah kita." kata Anson mengusap pundak Embun sekilas. Pundak rapuh seorang gadis yang selama ini dihina dan dibully oleh putranya, Daniel.

"Iya, Ayah." kata Embun tersenyum manis. "Kalau gitu Embun permisi keluar. Ayah, Bunda." kata Embun mendapat anggukan dari Anson dan juga Elina.

***

Setelah meletakkan gelas di atas meja makan. Daniel menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan penghuni rumah, lebih tepatnya adalah Elina yang sekarang entah berada di mana. Mungkin karena rumahnya yang kelewat besar membuat Daniel kesusahan jika ingin menemui sang Bunda.

Gua mah apa, yg klo bunyi notip hp aja ampe depan tipi.

"Bunda kemana sih?" ujar Daniel kesal.

Cowok itu memilih berjalan ke lantai atas. Baru selesai melangkahkan kakinya di anak tangga terakhir, Daniel tak sengaja berpapasan bertemu dengan Embun yang sepertinya baru saja selesai mandi sore. Terbukti gadis itu memakai handuk baju berwarna putih bersih.

Difficult [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang