• 14

2.7K 599 5
                                        

Haruto terkejut mendengar ucapan Justin barusan. Justin benar-benar salah paham, tidak semua yang dikatakan pemuda itu benar bagi Haruto.

Helaan nafas keluar dari bilah bibir Haruto, ia pun tersenyum kecil untuk berusaha meyakinkan pemuda Park tersebut.

"Hey, sudah gue bilang lo Park Justin. Lo bukan pengganti, tapi lo pemilik kisah baru."

Mendengar hal itu, Justin tersenyum miring. Ia masih tidak percaya apa yang dikatakan oleh Haruto.

Ia masih menganggap dirinya hanya pengganti.

"Keluar."

"Just---"

"Keluar Haruto!"

Haruto lagi-lagi terkejut mendengar Justin yang tiba-tiba membentaknya. Dengan berat hati, Haruto bangkit dari duduknya; ia pun keluar dari ruangan milik Justin.

Untuk saat ini, mungkin Justin membutuhkan waktu untuk sendiri. Ya, mungkin itulah yang dibutuhkan Justin sekarang setelah seharian penuh tertidur.

***

"Dih, ngapalo jadi nongki di kantin rumah sakit?" Tanya Junghwan kala pemuda tersebut baru saja sampai.

Sebelumnya, Haruto sudah mengirimkan pesan perihal keadaan Justin sekarang. Makanya Haruto langsung menyuruh Junghwan untuk ke kantin saja; dimana ia berada kini.

Kedua pemuda SMA itu sekarang tengah duduk berhadapan satu sama lain. Junghwan yang masih mengenakan seragam sekolah, tak jarang membuat pasang mata melirik ke arah dirinya.

Haruto mendesus, ia sendari tadi hanya memainkan botol plastik bekas diminumnya tadi.

"Menurut lo, gue harus gimana lagi?"

Junghwan mengerutkan dahinya, "ya lo gimana, dah?"

Haruto menggelengkan kepalanya, membuat Junghwan menghela nafasnya kasar.

"Lo anggap Justin itu Justin atau Jeongwoo? Kalau lo anggap Justin itu dia, ya lo buktiin, jangan loyo kaya gini. Cowok bukan hah?!"

Junghwan benar-benar menekankan setiap kata yang ia ucapkan, bahkan sampai membuat Haruto tak berkutip lagi.

"Gimana?"

"Ya mana gue tau, lo harus buktiin kalau lo anggap dia berbeda dari Jeongwoo. Dari awal, dia emang berbeda dan enggak suka disamakan."

Haruto hanya menganggukkan kepalanya, paham? Belum tentu, ia pun bingung bagaimana caranya untuk membuktikan.

"Dah ayuk kita ke ruangan Justin, dari tadi sendirian kasihan juga." Ucap Junghwan sembari bangkit dari duduknya, begitupun dengan Haruto yang menyusul. Setelah, kedua pemuda tersebut berjalan beriringan.

Kedua berjalan santai, hingga semakin mendekat ke ruangan, mereka mengerutkan dahi bingung karena melihatnya keramaian dan para perawat berlarian.

Keduanya bertatap, kemudian menganggukkan kepalanya pelan tanda paham apa yang harus dilakukan; lari menuju kamar Justin!

Derap langkah kaki keduanya menggema dalam koridor rumah sakit. Tidak peduli dengan tatapan pasien atau perawat lain, yang mereka pikirkan adalah Justin.

Dan benar saja.

Firasat mereka yang tidak enak, benar-benar terjadi.

Karena sekarang dihadapan keduanya, tidak ditemukan Justin.

Ruangannya kosong, kasur yang sedikit berantakan, infus yang tidak lagi terkait.

Ruangan itu kosong, hanya ruangan putih tak berpenghuni.
️️ ️️

️️ ️️

Justin kabur dari rumah sakit, entah sudah berapa lama.

️️ ️️

️️ ️️

ㅤ ️️

️️ ️️
"Gue yakin Justin masih dekat disini! Ayo mencar, Hwan!"

Junghwan menganggukkan kepalanya, kemudian kedua pemuda itu pergi berlawanan arah. Haruto yang menuju keluar, dan Junghwan menuju dalam untuk menyelusuri rumah sakit tersebut.

"Apa yang lo pikirkan sebenarnya, Park Justin." Gumam Haruto kala berlari keluar.

[✓] Different - HAJEONGWOOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang