Emak belum banyak bicara, hanya acap memandangku dan adikku bergantian. Risih sebetulnya dipandangi Emak terus menerus. Aku tidak mau bertanya kenapa? Biarlah! Mungkin Emak belum percaya dengan wajah kami yang berubah, kami lebih dewasa.
Raut wajah Emak juga selalu murung, seperti banyak yang dipikirkannya. Tersenyumpun belum pernah. Sudah satu minggu Emak pulang. Aku dan adikku masih sering dipeluknya. Aku tidak menanyakan Emak gimana kabarnya selama merantau, aku takut emakku menangis.
Aku ke pasar, kubelikan Emak mukena yang indah. Kubelikan Emak baju gamis baru dua stel. Kubelikan kue yang lezat, untuk emakku. Walaupun Emak pernah melupakan kami, tapi beliau emakku. Sangat aku rindukan di hari-hari yang lalu.
"Ayo Mak, kita sholat berjamaah, sudah lama aku ingin sholat bersama emak! Ayo Mak?" Emak perlahan berdiri, lalu ke sumur untuk berwudhu.
Selesai Sholat, Emak kusalami, kucium tangan Emak, kupeluk Emak. Ada air mata di mata Emak. Entah apa yang difikirkan Emak.
Keesokan harinya, Emak sudah siang belum bangun juga. Kubangunkan Emak, karna aku mau berangkat berjualan. Adikku sudah berangkat sekolah.
Kuguncang tubuh Emak kuat. Emak diam, aku menjerit meminta tolong ke tetangga. Lalu Emak dibawa ke rumah sakit. Pedih hatiku melihat kondisi Emak. Setelah Dokter memeriksa Emak, Dokter menemuiku.
"Ibu anda kekurangan gizi dan kadar gulanya turun. Untung segera dibawa kemari. Tunggu sebentar, itu lagi diinfus gula. Nanti akan sadar kembali, tolong dijaga Ibunya ya? Perhatikan asupan gizinya"
"Ya Dokter, akan saya perhatikan, terima kasih" Dokter pergi ke mejanya di Unit Gawat Darurat dan menulis resep untuk emakku.
Ku dekati Emak, kubelai Emak. Lambat laun Emak terbangun lemah. Emak menangis meraihku.
"Maafkan emak ya nak? Emak selalu membuatmu sedih. Insya Allah emak akan sehat" emak berkata kepadaku. Aku senang Emak mau bicara lagi. Kupeluk Emak, aku bahagia.
Emak tidak diopname. Emak boleh pulang setelah diinfus cairan gula. Emak tampak segar kembali walaupun badan Emak layu dan kurus. Akan kujaga permata hatiku, emakku!
Hari ini aku tidak berjualan, biarlah, ku jaga Emak dengan cintaku.
Marni sudah ujian akhir sekolahnya. Marni yang kuserahin jaga Emak, aku harus mencari uang lebih giat. Marni akan segera masuk perguruan tinggi.
Emak masih jarang berbicara. Emak seperti tertekan, entah apa yang terjadi dengan Emak. Sehingga kadang kulihat Emak melamun dan menangis sesenggukan.
Marni sudah lulus sekolah dan mulai kuliah. Aku bangga sekali dengan Marni, kubelikan Marni motor baru untuk berangkat kuliah. Walaupun Marni kuliah di Universitas swasta satu-satunya di kota kami. Aku sangat bahagia, tidak sia-sia kerja kerasku.
Aku juga merasakan kalau Emak lambat laun sudah mulai bicara. Sudah sering kulihat Emak tersenyum. Emak juga sudah mulai memasak untuk kami. Aku bersyukur Ya Allah atas semua ini.
Hari ini aku berjualan di tempat orang yang menggelar hajatan. Ada orkes dangdut, ramai sekali, daganganku juga laris. Motorku, kuparkir di depan dekat daganganku kugelar.
"Mbak, motornya boleh saya beli? Dijual ya?" Tiba-tiba datang seorang bapak, tamu undangan yang mengelus motorku. Terlihat Bapak ini orang kaya dari penampilannya.
Dengan bercanda kusebut nominalnya. "Seratus juta! kalau mau pak!" Iseng saja kusebut nilainya. Aku tahu harga motor yang baru saja cuma sepuluh juta. Toh motor ini tidak kujual.
"Ya, saya mau!" Aku terkejut! Motor butut pemberian Pak Madi mau dibeli seratus juta? Aku masih bingung dan merasa aneh.
Berapa menit kemudian, Bapak itu menghampiriku setelah kondangan.
"Sabar ya Mbak, tunggu saya ngambil uang dulu di ATM. Jangan kemana-mana dulu ya Mbak! Tapi Mbak, kalau sampean bawa uang segitu rawan. Ini saya kasih kartu nama saya, besok pagi saya tunggu! Di alamat yang tertera di kartu ini, serius ya?" Aku hanya mengangguk bingung.
Dalam hatiku, aku bertanya. "Apakah motor ini mahal?"
Aku pulang dagang, ku minta izin Emak untuk menjual motor ini. Emak ragu untuk menjawab. Adikku Marni yang menjawab.
"Jual saja kak, kan motor itu mogok terus. Beli saja yang baru. Terus kakak bisa beli toko" Aku masih bimbang. Satu sisi, motor ini pemberian orang. Terus kenangan akan pak Madi nanti hilang. Aku tidak bisa menjaga amanahnya. Disisi lain, aku butuh toko untuk mengembangkan usahaku dan modal kerjaku.
Dilema itu terjawab dengan mimpiku malam ini. Pak Madi tersenyum dan mengangguk. Kulihat juga wajah pak Madi bahagia dalam mimpiku.
Akhirnya pagi sekali aku menuju alamat Bapak yang akan membeli motorku. Sesuai dengan alamat di kartu namanya.
Transaksi betul-betul nyata! Motorku yang usang telah terjual dengan harga yang menurutku fantastis. Tidak masuk akal. Sedangkan Bapak yang membeli, kulihat wajahnya penuh kegembiraan. Bibirnya terus bergumam, "ini barang antik dan langka"
Aku pulang dengan dibonceng motor Marni. Aku mampir ke Bank untuk menyimpan uangku. Kusisihkan untuk aku membeli motor baru.
Sudah hampir satu bulan aku mencari toko yang dijual, hari ini aku dapatkan. Hatiku bersyukur tiada tara mendapat rezeki yang berlimpah.
Akhirnya, aku berdagang di tokoku. Toko yang tidak besar, tapi lumayan strategis letaknya.
Emak kulihat bahagia sekali. Kini emakku sudah mulai berisi badannya. Emakku sudah mau bersosialisasi dengan tetangga.
"Nak, emak mau ikut pengajian di Masjid ya? tiga hari sekali?" kupeluk Emak dengan kuat, aku bersyukur, Emak sudah kembali seutuhnya.
Lambat laun usaha dagangku maju pesat. Rumahku sudah kurenovasi. Kasur kubeli yang baru. Kursi juga lumayan bagus. Emak bahagia.
Terkadang aku tidak percaya atas semua ini. Aku harus mulai berbagi dengan tetanggaku yang kurang mampu.
"Assallamu'allaikum!" malam yang gerimis sisa hujan lebat tadi sore, ada orang mengetuk pintu rumahku.
"Waallaikum Sallam!" ku buka pintu, dan aku gemetar melihat tamu kami malam ini!
Bapak, dan nenek datang bertamu! Ada apa?
"Silahkan, masuk!" rasa kikuk dan terkejut dihatiku.
"Murni, kamu anak saya, saya bapakmu! Dan ini nenekmu, sudah renta Murni. Bapak dan nenekmu, sekarang sudah tidak punya apa-apa. Bapak dan nenek, ingin tinggal bersama Murni. Mana ibumu, istriku. Bapak belum pernah menceraikan ibumu" ada rasa iba dihatiku.
"Keluarga kami, sudah hancur Murni. Toko, rumah dan tanah-tanah nenekmu telah habis di sita oleh Bank! Kakak bapaklah yang menghabiskan! Bibimu sudah meninggal, kakak-kakak bapak, tidak ada yang mau tahu dengan kondisi kami. Istri bapak yang baru, setelah ibumu, telah menikah dengan suami bibimu, tolong terima kami!"
Aku gemetar, dan tidak tahu harus berkata apa.
"Enak saja! Kalian ningrat kan? Mana pantas tinggal bersama kami! Lagian anda siapa?! Bapakku?! nenekku? Kemana kalian selama ini?!! Saya sudah tidak punya Bapak! Dari saya lahir! Lagian kamu nek, sejak kapan kamu punya cucu anak haram!" Marni keluar dan berkata ketus ke Bapak dan Nenek! Aku hanya gemetar, Emak menangis di kamar.
"Kamu siapa? Siapa namamu?" Bapak bertanya ke Marni.
"Saya, adiknya Murni! Mana kenal anda kesaya! Saya cuma sampah! Saya bukan anakmu!! Saya juga tidak punya Nenek! Apa lagi orang ningrat! Kami dari comberan! Tidak punya keluarga ningrat! Jadi sekarang, tolong pergi dari sini! Tidak pantas keluarga ningrat bertamu ke rumah gembel seperti kami, pergi!" Marni dengan lantang mengusir Bapak dan Nenek!
Ternyata Marni punya keberanian yang hebat. Mungkin karena Marni anak kuliahan, mungkin Marni dendam yang membara.
"Marni! Stop! Tkdak boleh begitu bicaramu! Beliau ini orang tua! Sopanlah sedikit!" Marni ku tegur, agar tidak bicara kasar.
"Tidak, kak! Mereka ini orang kaya, mau apa mereka tinggal sama kita? Mereka tidak cocok jadi pembantu kita! Kak, tidak boleh orang jahat masuk rumah kita! Kak! Marni tidak kenal dengan mereka! Kemana saja mereka selama ini?!" Marni terus bicara kasar.
Nenek tertunduk menangis, Bapak kulihat menyimpan amarah, tapi tak berdaya.
Sebetulnya, aku kasian melihat Bapak dan Nenek, tapi masa lalu membuat hatiku membeku.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Emak (END)
Fiksi UmumYah.. cuman pojokan sebuah kisah. Kisah ini diketik bukan oleh author ya... Author hanya semata-mata sebagai penyalur aja...
