"Kakak brengsek!"
"Iya emang gue brengsek! Gue bangsat! Dan gue bejat! Puas lo!"
***
Arlezero Lintang Akbar, cowok tampan dengan sejuta pesona menyimpan sisi iblis tersembunyi. Sikapnya yang selalu bangsat dan suka semena-mena semakin membuat Arfist...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Aihara-
"Mencoba membuka hati itu susah. Kalau kuncinya tidak cocok, gembok itu tidak akan terbuka. Sama halnya dengan hati kita."
***
Aihara menolehkan kepalanya dengan hembusan napas kasar. Ia baru saja selesai bersiap-siap untuk berangkat sekolah dengan rambut yang sengaja dia kuncir. Aihara menatap foto Arlez yang terpampang jelas di dinding kamarnya. Matanya menyorot dalam menatap setiap inci wajah Arlez dengan rasa kecewa. Aihara mengambil tasnya, memakai liptint, serta bedak bayi tepat dihadapan foto Arlez. Sengaja menyemprotkan banyak minyak wangi di area tertentu tubuhnya.
"Gua sengaja dandan, rambut gua sengaja gua iket, badan gua udah wangi. Cowok banci, lo pikir lo keren ninggalin gua sendirian di sini? Lo lihat kan penampilan gua kaya jamet gini? Buat apa coba? Ya sengaja lah mau tepe-tepe sama cowok-cowok biar lo cemburu terus balik lagi ke sini. Kalau sampai lo gak balik, jangan nyesel deh, kalau lo pulang gua udah dapat ayah baru buat cebong lo."
Aihara meletakan jari telunjuknya di dagu. "Oya. Gua juga mau open bowaktu lo gak ada. Mayan lah buat nambah-nambahin uang jajan. Awas aja, lo pasti di sini nyari cewek baru kan? Hiks. Bubu anak kita nasibnya gimana kalau Papa sama mamanya pisahan? Ai gak mau lihat Bubu jadi anak brokenhomeya, Ai enggak akan rela. Kalaupun punya Mama tiri harus yang baik, cantik, dan imutnya kayak Ai."
Aihara mengamati foto Arlez sekali lagi. "Dahlah sayang cape ngomong sendirian mulu. Jaga diri baik-baik, kalau gak bisa balik lagi ke sini. Enggak khawatir Ai yang cantik ini diculik sama om-om?"
Merasa percuma dengan ucapannya. Aihara memutuskan keluar dari kamar menuju lantai bawah di mana Dirga dan Ayu sudah menunggunya untuk sarapan. Aihara membenarkan letak jepit rambutnya hingga terpaku dengan seorang cowok yang duduk di meja makan dengan anteng. Cowok itu mengangkat wajahnya dengan satu alis yang terngkat. Serta senyum kemenangan yang tercetak jelas di bibirnya. Cowok itu mengamati penampilan Aihara dari atas hingga bawah, setelahnya mengulum bibir dengan santay.
"Abijar," lirih Aihara terasa keluh. Langkahnya terasa berat dengan badan sedikit gemetar.
Dirga tersenyum melihatnya. "Ayok duduk sayang. Papa udah putuskan kalau mulai hari ini, kamu akan berangkat dan pulang bareng Abijar, Papan rasa, Abijar lebih bisa menjaga kamu daripada Arlez. Padahal, waktu kalian pacaran, Papa udah setuju banget, tapi malah disayngkan hubungan kalian kandas di tengah jalan."
Abijar hanya tersenyum tipis menangapinya. Lain halnya dengan Aihara yang sudah ketar-ketir di tempatnya. Sepiring nasi goreng yang Ayu hindangkan sama sekali tidak membuat selera makannya meningkat. "Di makan dong, Ai." Aihara tersentak kaget kala Abijar berseru sembari menggenggam tangannya di bawah meja.