"Kakak brengsek!"
"Iya emang gue brengsek! Gue bangsat! Dan gue bejat! Puas lo!"
***
Arlezero Lintang Akbar, cowok tampan dengan sejuta pesona menyimpan sisi iblis tersembunyi. Sikapnya yang selalu bangsat dan suka semena-mena semakin membuat Arfist...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Arlez-
"Jika boleh meminta, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu setiap detiknya. Karena aku tahu, jauh darimu sama saja bunuh diri dengan perlahan."
***
"Arlez ganteng," puji Aihara melingkarkan tangannya di pinggang Arlez. "Punggungnya mulus banget," gumam Aihara mengelus punggung Arlez yang telanjang. Tangan nakal Aihara terus saja menyentuh bagian tubuh milik Arlez sesuka hatinya. "Hii ini lucu ... gemoy," tambah Aihara lagi memilin-milin puting Arlez dan memainkannya.
"Erggh," erang Arlez menyingkirkan tangan Aihara dari tubuhnya. Namun, bukanya menyingkir tangan Aihara justru semakin tidak bisa tinggal diam. "Ai," peringat Arlez dengan wajah merah padam. Bukan ingin marah, hanya saja dia takut sentuhan Aihara membuatnya kembali menyerang di pagi hari.
"Arlez kalau merem gini kok nambah sexy, sih? Imut-imut gimana gitu. Ihhh dada Arlez juga enak buat di elus-elus," ucap Aihara menyentuh setiap inci wajah dan juga tubuh Arlez.
"Ai, tangan lo laknat banget." Arlez mengumpat tertahan ketika Aihara meraba tubuh bagian bawah dan memainkan sesuatu di sana.
"Ihhh gemoy!" pekik Aihara senang.
Arlez berdesis geram, wajahnya bahkan memerah merasakan sensasi yang mampu membuatnya hampir gila di pagi hari. "Ai, kalau lo gak mau berhenti, lo bakalan gua bikin pingsan!" peringat Arlez dengan kesal.
Aihara terkikik, tangannya menoel-noel puting Arlez dengan mata berbinar. "Arlez, dedeknya mau nyusu." Aihara mengerjapkan matanya pelan.
"Terus?" tanya Arlez memejamkan matanya kembali. "Lo bikin sendiri aja di dapur, gua capek malas bangun."
Aihara menggeleng. "Maunya nenen ini," ujar Aihara menyentuh dada Arlez. Mata Arlez yang tadinya tertutup mendadak terbuka lebar. "Mau emut-emut. Kayak Arlez yang emut punya A-
"Oke fine!" putus Arlez menyibak selimut. Mata Aihara langsung berbinar. Wajahnya mendekat dan langsung mempraktikan apa yang pernah Arlez lakukan padanya. Mata Arlez terpejam dengan tangan terkenal kuat. Sedangkan Aihara, dia nampak nyaman tanpa tahu menyiksa Arlez yang sudah mati-matian menahan gairah.
"Udah. Enggak enak, ihh. Enggak ada rasanya," lirih Aihara membuat Arlez mengumpat pelan. "Tapi gemes. Pengen gigit sampai putus."
"Kalau gak enak ngapain di emut?"
"Habisnya Ai penasaran. Kata Arlez enak, tapi kok giliran Ai yang emut enggak enak."
Arlez mengacak rambutnya frustasi. "Beda, Ai! Kalau punya lo emang enak dan gua suka! Tapi kalau punya gua jelas gak enak. Orang punya gua gak ada isinya, punya lo kan ada. Mending lo mandi, makin ke sini lo makin nakal." Arlez mengusir Aihara dengan mengibaskan tangannya. Membuat Aihara cemberut dan masuk ke kamar mandi dengan menghentakan kakinya kesal.