40. Flashback

11.2K 1.1K 575
                                        

Happy Reading...

-Arlez-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Arlez-

"Semarah dan se-kecewa apa orangtua terhadap anaknya. Tidak akan sampai mengucapkan kalimat yang begitu menyakiti hati sang anak."

***

"Silahkan, itu pun kalau Papa tega anaknya Aihara lahir tanpa ayah...."

"Arlez!" Dirga membentak Arlez dengan wajah tersulut emosi. Pria itu menahan guratan amarah menatap sang anak dengan pandangan kecewa, marah, dan sesal bercampur menjadi satu. "Kamu ikut saya ke ruangan, sekarang!"

Dirga melangkahkan kakinya menjauh dari kamar dengan pikiran berkecamuk. Sementara Ayu, wanita itu juga ikut keluar dengan air mata yang masih menetes. Wanita itu menutup mulutnya menahan sesak di dadanya. Arlez dan Aihara sama-sama bungkam, Arlez melirik Aihara yang tengah menatapnya dengan mata memerah. Arlez berjalan ke lemari mengambilkan pakaian untuk Aihara.

"Pakai. Habis itu tidur. Biar gua peluk kalau gak bisa tidur." Aihara menurut, dia bangkit memakai bajunya setelah itu tertidur di samping Arlez.

Aihara mendongak sedih. "Arlez, Ai takut," cicit Aihara menahan tangan Arlez yang ingin mengusap rambutnya. "Arlez, Ai takut Mama sama Papa misahin Arlez dari Ai."

Arlez tersenyum tipis, meski dalam hatinya juga ikut membenarkan perkataan Aihara. Tapi, dia juga harus bisa mengekspresikan raut wajahnya agar Aihara tidak curiga. "Kenapa harus takut? Ada gua, kan?"

Aihara bungkam. Tangannya dia gunakan untuk memilin jari-jari Arlez dengan bibir bergetar. "Ai takut, Ai gak mau pisah sama Arlez." Aihara mendongak dengan mata yang semakin berkaca-kaca.

Arlez menghembuskan napasnya kasar. "Semuanya akan baik-baik aja. Sekarang tidur, tutur matanya," pinta Arlez mengelus lembut Aihara.

Aihara menggeleng lemah. "Enggak mau ... nanti kalau Ai tidur, Arlez pergi," cicit Aihara memeluk kuat lengan Arlez.

"Gua janji. Gak akan pergi, kalau pun pergi pun, gua pasti kembali lagi, Ai. Buat lo, dan buat anak kita," balas Arlez seraya mengelus perut Aihara yang masih datar itu.

"Janji," pinta Aihara dengan wajah penuh harap.

Arlez tersenyum, mengecup kening Aihara sebentar. "Iya. Gua janji," balasnya membuat Aihara tersenyum lebar. "Sekarang, bobok, ya." Aihara mengangguk dan memejamkan matanya, Arlez tersenyum miris, setelah memastikan Aihara benar-benar tidur pulas. Cowok itu memakai bajunya tak lupa mengecup wajah Aihara dan calon anaknya yang ada di perut Aihara sekali lagi.

Arlez keluar kamar dan tak sengaja melihat Ayu duduk termenung di tepi kasur seorang diri. Wanita itu tampak mengusap pipinya yang basah sesekali mengusap foto dirinya dan juga Aihara yang baru berumur sekitar lima atau enam tahun. Arlez bergumam lirih. "Maaf, Ma. Arlez ngecewain Mama, tapi ... Arlez benar-benar gak mau Ai pergi."

Brother Brengsek [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang