"Kakak brengsek!"
"Iya emang gue brengsek! Gue bangsat! Dan gue bejat! Puas lo!"
***
Arlezero Lintang Akbar, cowok tampan dengan sejuta pesona menyimpan sisi iblis tersembunyi. Sikapnya yang selalu bangsat dan suka semena-mena semakin membuat Arfist...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Arfan-
"Jangan mencintai orang yang belum selesai dengan masa lalunya."
***
"Makan dulu, yuk," ujar Arlez menaruh piring beserta minum di atas nakas. Cowok itu menelan ludahnya gugup ketika Aihara melengos mengabaikannya. Sisa air mata masih tercetak jelas di pipi mulus Aihara, isakan kecil juga masih samar-samar terdengar. Arlez terdiam memikirkan cara agar Aihara memakan makanan yang sudah dia bawakan tadi. "Lo boleh marah sama gue, tapi lo gak boleh biarin anak kita kelaparan."
Masih tidak ada sahutan, Arlez memilih menghadapkan wajah Aihara, tapi Aihara langsung menepis tangan Arlez dengan kasar. Tidak segan-segan untuk menjauhkan tubuhnya dan langsung berbaring membelakangi Arlez. Punggung Aihara bergetar, menyentil hati Arlez yang merasa bersalah dengan ucapannya tadi.
"Gua ngaku gua salah, jangan diemin gua, Ai." Arlez memohon kembali dengan suara parau. Cowok itu berbaring di samping Aihara, menatap bola mata Aihara yang masih berkaca-kaca. Cowok itu merosot ke bawah menjajarkan wajahnya ke hadapan perut buncit Aihara. Memeluknya, dan menyembunyikan wajahnya di sana. "Sayang, bilangin sama Mama kamu, jangan diemin Papa," lirih Arlez dengan suara teredam.
"Awh," ringis Aihara membuat Arlez langsung mendongok dengan raut wajah khawatir.
"Kenapa?" tanya Arlez panik bukan main.
"Tetep kaya tadi, Ai mohon," cicit Aihara menyuruh Arlez untuk kembali menempelkan wajahnya dengan perutnya.
"Kenapa?"
"Bisa gak sih gak usah banyak tanya?" Arlez langsung menurut begitu saja, menempelkan kembali wajahnya ke hadapan perut Aihara.
"Anak papa kenapa, hm? Jangan nyakiti mama-nya sayang," bisik Arlez mengalun indah. Begitu mengatakan hal tersebut, Arlez langsung mendongok cepet dengan mata melebar. "Itu tadi apa?"
"Dia mau di sentuh, kak." Aihara menjawab lirih sembari mengusap perutnya.
Arlez tersenyum kaku, cowok itu menyentuh perut Aihara dengan jantung berdebar. "Anak papa mau apa?" sekali lagi perut Aihara bergerak membuat Arlez langsung mendaratkan ciuman bertubi-tubi. "Kamu mau apa? Bilang sama papa, nak," lirih Arlez terharu.
Aihara terhenyak kaget melihat bola mata Arlez yang berkaca-kaca. Dengan perasaan ragu, Aihara mengusap rambut Arlez yang sedikit berantakan. Mulutnya masih diam membisu bingung harus berkata apa, Aihara senang dengan sikap Arlez yang memperlakukannya dengan begitu istimewa, apalagi setelah merasakan langsung tanganya di perutnya seakan menyeret Aihara untuk tetep mendampingi Arlez.