55. Devhells Kembali

3.8K 150 85
                                        

"Arghhhh!" Kinara langsung berlari menghampiri Ayu yang berteriak di depan pintu gudang.

Kinara menghampiri Ayu dengan jantung berdebar. Kinara syok bukan main melihat keadaan Brinda yang babak belur dan tidak sadarkan diri. Bahkan, darah berceceran membasahi lantai putih itu. Ayu yang masih gemetaran tidak mampu untuk menompang bobot tubuhnya sendiri. Niat hati ingin memberi wanita itu makan malah melihat kejadian yang begitu mengerikan.

"Mas tolong!" teriak Kinara memanggil Dirga dan juga Dimas yang sedang berada di teras membahas tentang Arlez dan Aihara.

"Ada apa ini?" tanya Dimas yang juga syok melihat kondisi Brinda yang sangat mengenaskan. Dimas dan Dirga langsung menghampiri Brinda yang masih bernapas lalu membawa wanita itu ke rumah sakit.

Bagaimana pun mereka harus bertanggung jawab dengan keadaan wanita itu. Niat hati ingin melampiaskan rasa sakit atas apa yang menimpa Aihara, justru mendapatkan mala petaka. Kinara menuntun Ayu untuk memasuki mobil yang akan mereka tumpangi menuju rumah sakit tempat Aihara di rawat.

"Ini pasti ulah Arlez," gumam Kinara yang masih menenangkan Ayu.

"Benar. Siapa lagi yang akan berani jika bukan Arlez, anakmu itu benar-benar keterlaluan sekali!" kesal Dirga menatap Ayu dari kaca spion.

"Aku juga gak nyangka kalau Arlez bisa sekasar itu. Tapi bagus kalau Arlez sadar," ujar Kinara membuat Ayu mengangguk.

Mobil yang ditumpangi mereka berhenti di depan rumah sakit. Dirga meminta tolong kepada para perawat yang langsung menangani Brinda. Wanita itu langsung di bawah ke UGD membuat mereka yang tengah menunggu Aihara tercengang melihatnya, kecuali Arlez yang tersenyum sinis.

"Kenapa dia?" tanya Aiden kepada Kinara.

Kinara hanya menyuruh Aiden untuk diam sambil melirik Arlez. Melihat tatapan Kinara, Aiden sudah paham apa yang terjadi. Arlez memang seorang iblis yang tidak punya hati sama sekali. Padahal kemarin-kemarin dia masih bisa menjalin hubungan dengan wanita itu hingga membuat Aihara terbaring di ranjang rumah sakit. Kini dengan tidak berdosanya dia malah tersenyum sendiri seolah tiada beban.

Setelah menunggu sekian lama, pintu UGD akhirnya terbuka menampilkan dokter yang tadi menangani Brinda. Melihat kedatangan dokter, mereka langsung menoleh seketika.

"Gimana, Dok?" tanya Dirga mewakili mereka.

Dokter menghela napas berat. "Dengan berat hati saya katakan, pasien mengalami luka dalam yang cukup banyak. Selain itu, kangker tumor di otaknya juga sudah masuk ke stadium akhir, mungkin akhir-akhir ini pasien mengalami stres berat. Dan satu lagi Pak Dirga, Brinda mengalami koma," tutur sang dokter membuat senyum Arlez semakin mengembang.

Mereka yang berada di sana hanya bisa menahan napas mendengar penuturan sang dokter. Dirga tersenyum. "Terimakasih, Dok," kata Dirga mempersilahkan sang dokter untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Kangker otak stadium akhir," gumam Kinara tidak habis pikir. "Jadi selama ini dia punya penyakit?" Kinara berujar pelan melihat ruangan tempat Brinda di rawat.

Sebagai seorang Ibu, Kinara jelas bisa merasakan penderitaan yang dialami oleh Brinda. Mau sejahat apa orangnya, Kinara tetap tidak sanggup, apalagi Brinda sebarang kara di sini. Kinara terus menatap ruangan itu membuatnya teringat akan Aihara yang sama halnya dengan Brinda, sedang bertarung antara hidup dan matinya.

Kinara meneteskan air matanya mengingat sang putri yang masih belum sadarkan diri, kebersamaannya dengan Aihara hanya sesingkat angin lewat saja. Kinara berharap semoga tuhan mendengarkan doanya kali ini. Aihara harus bangun, merawat anaknya, dan hidup bahagia dengan pilihannya. Tidak apa jika Aihara memilih berbalik dengan Arlez, tapi yang jelas dia ingin agar Aiharanya masih bisa bersamanya.

Brother Brengsek [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang