"Kakak brengsek!"
"Iya emang gue brengsek! Gue bangsat! Dan gue bejat! Puas lo!"
***
Arlezero Lintang Akbar, cowok tampan dengan sejuta pesona menyimpan sisi iblis tersembunyi. Sikapnya yang selalu bangsat dan suka semena-mena semakin membuat Arfist...
Warning! Ada perubahan alur dikit di part ini, jangan dilewatkan!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Fersya-
"Saat ini posisiku ada diantara jurang dan sungai. Maju selangkah terjatuh, mundur pun tenggelam. Aku benar-benar bingung, memilih jatuh atau tenggelam. Dua-duanya hanya akan membuatku celaka."
***
Arlez melirik ke kanan dan ke kiri. Cowok itu mengikatkan dasi di dahinya dengan baju yang sudah dikeluarkan. Mata tajam elangnya menjadi daya pikat tersendiri untuk para cewek yang ada di Koridor.
Dibelakangnya ada Rafa, Aiden, Darell, dan juga Abijar yang masing-masing menggunakan hoodie hitam, kecuali Arlez. Cowok itu malah menenteng hoodie miliknya di tangan kiri.
Arlez membelokan langkahnya ke kiri, yakni kelas Aihara. Arlez menatap tajam seorang cowok yang dengan beraninya duduk dihadapan Aihara.
Sampai di sana, Arlez langsung menyandarkan tubuhnya di tembok dan membiarkan sahabatnya masuk ke dalam kelas. Arlez melihat jam tangannya, Arlez menghela napas, cowok itu menatap Abijar yang berjalan ke meja Aihara.
"Kak mau ke mana?" langkah Arlez terhenti mendengar suara Aihara. Arlez tidak menjawab, cowok itu hanya menaikan alisnya bertanya. "Makan bareng yuk, Ai bawa bekel dari rumah," tawar Aihara dengan senyuman.
Arlez hanya diam setelahnya berucap yang membuat hati Aihara memburuk. "Lo makan aja sendiri," jawab Arlez ketus setelahnya keluar dari kelas.
Bibir Aihara melengkung ke bawah, niatnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Arlez, tapi malah berujung menyakitkan. Aihara menghela napas, bibirnya tersenyum kembali melihat Abijar yang diam dengan memainkan ponselnya. "Makan yuk, aku suapin," kata Aihara.
Abijar menoleh. "Beneran?"
Aihara mengangguk. "Iya bener. Sini,"
Abijar mendekat dan satu suapan berhasil dia kunyah. Matanya tak pernah lepas menatap manik mata Aihara yang selalu membuat jantungnya berdegup kencang. Abijar mengambil alih sendok yang Aihara pegang. Cowok itu menarik kotak bekal itu.
"Kamu juga harus makan, biar gak kurus." Abijar berucap lirih.
"Jadi selama ini aku kurus?" tanya Aihara tidak terima.
"Kenyataan." Abijar terkekeh melihat wajah masam Aihara. "Tapi aku suka," timpal Abijar lagi.
Aihara mencubit pelan lengan Abijar. "Enggak tahu kenapa, aku kalau digombalin kamu enggak pernah baper. Aku malah takut, soalnya wajah kamu terlalu serius buat aku," kata Aihara menahan senyumnya.