44. Pertemuan

14.4K 1.2K 474
                                        

Happy reading...

-Arlez-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-Arlez-

"Kamu enggak salah, yang salah itu perasaanku karena terlalu banyak berharap."

***

"Meskipun lo itu kakak kandung Aihara, gua harap lo gak halangin gua sama kayak Diki," lirih Arlez menatap Aiden dengan tatapan dingin. "Lo gak berhak ikut campur urusan gue dan Diki, biar itu jadi urusan antara gua sama dia, gua akan buktiin bahwa gua ini bisa ngejaga adik lo dengan baik meskipun taruhanya nyawa gua."

"Gua gak berpikiran buat halangin jalan lo buat bersatu sama Aihara, gua pun gak membenarkan Diki yang bersifat egois hanya untuk membalaskan dendamnya ke lo. Percaya sama gue, Diki gak akan tega ngebiarin Aihara tanpa lo, suatu saat nanti dia bakalan sadar, apa yang dia rencanakan gak akan sesuai dengan hatinya."

"Gua tetep akan ladenin dia kalau dia mau ribut, gua tetep biarin dia puas ngelampiasin semuanya. Gua bebasin dia buat balas dendam ke gue, tapi jangan rusak hubungan gua dan Aihara."

"Apa yang di rencanakan adek gua itu udah meleset jauh, apalagi Aihara lagi hamil, jelas Diki gak akan sanggup buat ngelampiasinya, mungkin dia hanya akan memendam rasa dendam itu dalam-dalam."

"Gua gak habis pikir, kenapa lo selama ini nyembunyiin semuanya dari gua?" tanya Arlez dengan alis terangkat, cowok itu memandang jalanan yang nampak ramai dengan kendaraan lalu lalang. Tanganya fokus memutar-mutar gelas yang berisikan coffe.

Aiden bergeming, cowok itu menghela napas berat. "Gua gak mau persahabatan kita rusak hanya karena lo tahu gua kakak Diki. Mati-matian gua nyembunyiin semuanya, gua juga rela melihat Diki babak belur di depan mata gua. Gua akui, gua berkhianat, tapi gua gak bermaksud."

Ramainya cafe tidak memecahkan fokus kedua laki-laki itu. Arlez maupun Aiden diam sejenak dengan pikiran masing-masing. Keduanya hanya saling pandang tanpa mau bersuara lagi. Sengaja Arlez meminta Aiden menenuinya, karena tidak mungkin juga dia membicarakan hal sepenting ini di markas ataupun datang menemui Aiden langsung di rumahnya yang mana akan ada Diki di sana.

"Biarin Diki ngelampiasinya semuanya asalkan masih di batas wajar," ujar Aiden dengan tegas. "Sebagai seorang kakak dia cuma pengen yang terbaik buat adiknya."

Arlez menoleh tajam. "Selama bayi sampai sekarang, Aihara tumbuh bareng gua, bukan bareng kalian!" sarkas Arlez dengan tajam.

"Dan Lo gak boleh egois, Lez! Justru karena dari bayi sampai sekarang Lo bareng sama Aihara, biarin kita gantian yang berperan sebagai layaknya kakak adik pada umumnya. Apa yang mau Lo cemburuin dari kita? Dibandingkan gua ataupun Diki, lo jelas udah menang banyak bisa bersama dengan Aihara. Kita cuma minta waktu beberapa saat, setelah itu lo juga yang bakalan sama-sama sampai mati."

Brother Brengsek [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang