[Fantasy - Romance]
Kematian adalah hal paling menakutkan bagi semua orang. Tak terkecuali bagi Violet. Ia tidak tau dosa besar apa yang telah dilakukannya hingga nasib buruk tak henti untuk hadir memberi kesan getir. Disaat-saat terakhir hidupnya...
Sebelum membaca bisa tap lagu di mulmed, kurang lebih, isi dari chapter satu hingga sekian berpusat atau mungkin dilambangkan dari lagu diatas. Entah kenapa arti lagu di mulmed bisa agak pas sama inti chapter.
Jangan lupa untuk klik ikon 'Bintang' di pojok kiri bawah dan komentar untuk lanjut ke chapter berikutnya. Terimakasih.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
But there's a hope that's waiting for you in the dark You should know you're beautiful just the way you are And you don't have to change a thing The world could change its heart No scars to your beautiful, we're stars and we're beautiful
~The Queen's Hourglass~
AKU mengetukkan kakiku dibawah meja disamping tempat tidur queen size. Berpikir keras, mengingat ulang potongan kejadian yang terasa bercampur irisan bawang merah yang menantang air mata. Tidak akan kutangisi lagi nasibku sebelumnya, tapi aku juga tak bisa berdiam diri membuat kejadian dimasa lalu terulang dengan anggun. Sesekali memperhatikan hourglass yang masih di genggamanku.
"Violet, ayolah, ingat ingat pada umur berapa si naif Anne itu mulai menjadi beban keluargamu!" perintah yang kutujukan pada diriku sendiri. Satu hal yang paling sulit selain mengucapkan huruf 't' tanpa lidah menyentuh gigi atau langit langit mulut adalah berperang melawan keinginan dirimu sendiri. Dihati berkata 'tidak' , namun mulut seolah berkhianat dengan mengatakan 'ya tentu saja'. Bukan naif seperti Anne, tapi tuntutan sebagai seorang bangsawan yang salah sedikit mendapat celaan membuat jiwaku tertekan. Aku baru saja menyadari betapa damainya tinggal dirumah bertingkat disisi danau dan dikelilingi pohon apel, mangga dan kerukup siam. Tentram tanpa adanya racun dan perebutan takhta permaisuri. Jika lapar hanya perlu memancing, atau bisa mengolah buah buahan dari pohon disekitar menjadi menu hidangan yang sehat.
Sepertinya aku harus membuat perencanaan hidup-lebih-lama-dan-nyaman-tanpa-cinta(?) untuk kata terakhir aku sedikit ragu. Bangsawan cantik dan kaya sepertiku pasti menjadi primadona kan? Ah, pasti seperti itu. Hanya perlu memperbaiki sikapku, tapi entah mengapa bersikap baik rasanya hanya monoton dan tidak asyik. Bukankah lebih seru jika menjadi diri sendiri? yash! pasti seperti itu.
"Nona Violet, Countess Xinlaire sudah menunggu didepan. Tidak lupa kan Nona, ini hari pertama belajar setelah libur beberapa hari," ucap Quella yang mengingatkanku untuk tidak perlu terlalu terburu-buru mencari jalan keluar, kan aku masih kecil walaupun hanya tubuhku saja yang kecil.
Perlu ku perkenalkan, Countess Xinlaire adalah guruku sebelum memasuki akademi. Countess Xinlaire atau lebih akrab jika dipanggil Madam Xinlaire merupakan wanita yang lebih tua beberapa tahun dari ibuku, anaknya seumuran dengan ku, yang nantinya anak madam itu akan bersahabat dengan si naif Anne. Maaf saja, Anne jika diibaratkan sebagai barang akan terlihat emm biasa saja karena masih lebih sempurna diriku, tapi Anne termasuk barang yang sangat laku keras di pasaran. Sedangkan aku, hanya dilirik itupun oleh segelintir orang saja.