Di sini, Plan berdiri siap berangkat. Dengan visa dan paspor di tangan, peta dan GPS di ransel, rencana keliling dunia, dan dengan Mean yang siap mencegahnya. Atau mengantarnya.
Tidak penting lagi.
Mean menyembunyikan matanya yang bengkak di balik kacamata hitam. Fans akan bertanya-tanya. Dia tidak ingin mereka cemas. Plan tahu itu. Bahkan saat dirinya sudah nyaris pergi, Mean masih mengkhawatirkan hal lain.
Untuk apa dia bertahan dengan orang seperti ini.
Di luar sana Plan akan menemukan banyak hal menarik. Petualangan baru menunggu. Tempat-tempat bagus yang layak dikunjungi.
Dia tidak akan tersesat tanpa Mean.
Setidaknya begitulah yang ingin ia percayai.
Hidup hanyalah perjalanan singkat. Tidak penting kemana tujuannya, yang penting adalah bagaimana prosesnya. Dia tidak mau terjebak di sini.
"Aku bisa bertahan tanpamu." Plan berkata lembut. "Kamu yang nggak akan tahan."
Mean berdiri terpaku hingga Plan lenyap dari pandangan.
Rasanya seperti udara yang dicerabut paksa, ia menyadari dadanya sesak. Kosong sekaligus penuh.
Saat Plan pergi, dia membawa semua pergi. Juga cintanya yang putus asa.
Dengan begitu Plan bisa lega, karena rasa sakit itu adalah satu-satunya yang mengingatkan Mean bahwa dia pernah ada.
Hal terbaik dalam hidupnya.
.
.
.
TBC
Could we just ended up like this...?
Or should we continue?April 14 2121

KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN • END
FanfictionTidak apa-apa, luka akan sembuh, pikirnya. Ia menghirup udara, lagi dan lagi. Panik dan ketakutan. Seolah dirinya ditenggelamkan hidup-hidup. Dia bertahan sejauh ini. Mati-matian berusaha menutup lubang yang menganga. Mengisi dengan apapun yang bi...