"Apa kita perlu go public?" kata Mean suatu malam.
Dream terkejut. "Kenapa tiba-tiba?"
Ya, kenapa tiba-tiba?
Dulu Dream yang menuntut untuk diumumkan. Dia tidak tahan harus bersembunyi. Teman-temannya bisa bebas menggandeng pacar mereka, sementara dia harus gigit jari.
Saat itu Mean menolak. Ia sangat sibuk, syuting, promo film, promo series, fanmeeting, live, iklan. Dia tidak bisa sembarangan bilang sedang pacaran.
Meski sembunyi-sembunyi, beberapa fans sudah mengetahui tentang hal ini. Dia takut jadi bumerang.
Kini ganti dirinya yang ingin terbuka. Pikirnya, jika tidak sekarang, kapan lagi. Ia takut semuanya tambah kacau. Apalagi sekarang ada yang sudah kembali.
Tembok yang ia bangun susah payah. Pertahanan yang ia jaga sekuat tenaga, perlahan-lahan pasti hancur karena kehadiran seseorang.
Hanya sekelebat sosoknya tapi sanggup meratakan pondasi itu.
"Nggak tahu, hanya... Mungkin sudah saatnya."
Mean bersandar dengan bantal bertumpuk di kepala ranjang. Sementara Dream bergelung di dadanya.
"Aku nggak pernah bikin kamu bahagia. Padahal kamu selalu ada, selalu dukung. Aku pengecut banget." Mean melanjutkan.
"Selama ini hanya keluarga dan teman dekat yang tahu. Kalau kita go pub, paling nggak kita bisa bebas share kebersamaan. Mungkin akan ditawarin kerja bareng. Atau bikin show sendiri, kayak temen-temen kamu."
Benarkah itu alasannya? Atau Mean memiliki alasan lain?
Rasanya lehernya sedang dicengkeram tali gantungan.
Dream meremas ujung selimutnya. "Aku juga pingin mamerin kamu. Pingin jalan dan share kebersamaan kita kayak Nat dan Goy."
"Kalau gitu ayo."
"Tapi kalau kamu mau kita rahasia, aku nggak apa-apa. Aku terima." Dream tetap pengertian seperti biasa. Dia selalu memahami Mean.
Lagi-lagi Mean menggeleng. Dengan kasar mengusap wajahnya. Apa yang salah? Dia selalu penuh pertimbangan. Kadang terkesan plin-plan.
Memang terlalu beresiko jika ia membeberkan hubungan mereka. Paling tidak sepertiga fans mungkin akan kabur meninggalkannya. Lebih parah lagi, mereka akan menyerbu Dream dan mengganyangnya mentah-mentah.
Itu pernah terjadi. Dulu.
"Aku nggak mau kamu terluka. Aku nggak mau kamu diserang haters. Aku nggak mau kamu dihujat toxic fans. Aku nggak mau kamu ngalamin kayak Kew dulu..."
"Tapi aku bukan dia." Dream membelai pipinya lembut. "Aku tahu kamu berusaha keras buat ngelindungin aku. Aku juga ingin melakukan hal yang sama."
"Maksud kamu?"
"Karir kamu penting banget Mean." Dream berkata sungguh-sungguh. "Meski sangat pingin diakui, meski pingin banget mamerin kamu ke semua orang, tapi aku baik-baik saja kita rahasia."
"Jadi ini semua demi karir aku?"
"Mean..."
"Baiklah. Masalah ini kita omongin lagi nanti. Sekarang, ada hal penting yang mesti kita lanjutin."
Dia perlu pengalihan. Dia butuh. Kepalanya penuh dan dia tidak tahu sampai kapan tali kekang itu mengikat lehernya.
Dream tersenyum saat Mean kembali menindihnya malam itu.
.
.
.
TBC
I don't know, just...
Thanks for follow, vote and comment...
Love
Maret 19, 2021

KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN • END
FanfictionTidak apa-apa, luka akan sembuh, pikirnya. Ia menghirup udara, lagi dan lagi. Panik dan ketakutan. Seolah dirinya ditenggelamkan hidup-hidup. Dia bertahan sejauh ini. Mati-matian berusaha menutup lubang yang menganga. Mengisi dengan apapun yang bi...