Musiknya gaduh, tapi minumannya enak. Plan sudah memesan gelas ke dua. Pinginnya yang ringan saja, tapi pikirannya terus dimasuki wajah yang ingin ia lupakan dua tahun ini. Jadi ia minta bartender membuatkan yang agak berat.
"Hai,"
Sebuah suara berat yang maskulin menyapa.Bukan kali pertama Plan pergi ke bar dan didekati seseorang. Cowok dan cewek. Sudah biasa.
Saat menengadah, matanya melebar. Pria itu cowok yang kemarin. Hope. Si pemain biola.
Penampilannya berubah. Tidak tampak seperti remaja pengisap ganja, pria itu rapi dan wangi.
Rambutnya disisir ke belakang. Ia mengenakan kemeja hitam yg kancingnya terbuka memamerkan otot dada hasil latihan beban.
Plan juga pernah melihat dada putih seperti itu.
"Aku nggak mengira kamu akan datang."
Plan tersenyum sopan. Menyisip lagi minumannya.
"Cuma penasaran. Sebagus apa kamu main biola di sini."
Pria itu terkekeh geli.
"Siapa namamu?"
"Plan."
Tidak lama, dj berhenti. Sekarang giliran pertunjukan solo. Hope melompat naik ke panggung. Sama seperti sore itu, saat menyandang biola dan mulai menggesek, pria itu menjelma sosok lain.
Apakah seperti ini rasanya menjadi penggemar. Duduk tenang menikmati sementara idolmu membawamu hanyut, membuai, menghipnotis.
Setelah pertunjukan, Hope kembali ke meja Plan. Tersenyum lebar seperti idiot.
"Di sini mulai panas. Aku nggak suka tempat panas." kata Hope rewel. "Ikut aku," lanjutnya sebelum beranjak.
Barangkali karena sudah agak mabuk, Plan mengangguk saat Hope menggandengnya keluar.
Mereka berjalan menuju tempat parkir.
Hope menghentikan langkahnya, membuat Plan ikut berhenti. Pria itu berdiri menjulang, menatapnya lekat.
"Kenapa wajahmu sedih?" Hope mengulurkan tangan, mengusap pipi Plan lembut.
"Hanya...teringat beberapa hal." sahut Plan tidak yakin.
Hope membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Plan. Napasnya hangat beraroma mint.
Mungkin sekarang saatnya beralih.
Jadi Plan membiarkan dirinya hanyut saat pria itu merengkuhnya dalam ciuman.Bibirnya lembut. Campuran rasa mentol dan sesuatu yang tajam. Sejenak Plan menikmati ciuman itu.
"Mau ke tempatku?" Suara Hope serak. Pria itu tidak mengajak, hanya menawarkan.
Plan mengerjap.
Ciumannya enak. Tapi dia bukan Mean.
Plan mengepalkan tangan, pipinya basah. Ia mengutuki Phiravich untuk eksistensinya di dunia.
"Maaf, tapi kamu bukan dia..."
Hope tersenyum paham. Dengan lembut mengusap kepala Plan.
"Its ok, take your time." Pria itu hanya menatapnya. "Jika kamu perlu bantuan, kamu tahu dimana menemukanku."
Kemudian ia melangkah pergi.
Ini aneh. Melihat Hope pergi membuat Plan merasa kasihan padanya. Bukankah dia sendiri yang seharusnya dikasihani?
Plan menengadah ke langit. Dimanapun ia berada, kemanapun ia pergi, sejauh apapun jarak yg membentang, kenangan tidak bisa dihapuskan. Bahkan jejak bibirnya tidak dapat diganti dengan kehangatan bibir lain.
Kenangan seperti kaca pecah, berhamburan di ruang kosong gelap dan muram. Menunggu digali, menunggu kesempatan untuk melukai.
Dan di sanalah dia, mendengarkan sesuatu robek di dalam dirinya. Berkali-kali.
Dia sadar sejauh apapun menghindar, dirinya dan Mean berada di bawah langit yang sama.
"Bagaimana aku bisa menghapusmu..?"
.
.
.
TBC
Happy birthday Mean Phiravich. . .
5 Maret 1998.Next chapter NC, be wise
Maret 5, 2021

KAMU SEDANG MEMBACA
BROKEN • END
Fiksi PenggemarTidak apa-apa, luka akan sembuh, pikirnya. Ia menghirup udara, lagi dan lagi. Panik dan ketakutan. Seolah dirinya ditenggelamkan hidup-hidup. Dia bertahan sejauh ini. Mati-matian berusaha menutup lubang yang menganga. Mengisi dengan apapun yang bi...