Trap

235 29 30
                                    

Plan tidak perlu melakukan ini sebenarnya, tapi terpaksa.
Habis yang ini lebih keras kepala. Lebih tahan banting.

Lengket seperti getah. Menempel kuat seperti lintah.

Dia tidak peduli dengan gosip. Tidak peduli dinista, tidak peduli dihina, tidak peduli digeruduk massa.

Merepotkan.

Cewek-cewek Mean yang dulu baru diserbu fans saja sudah kapok, yang ini cukup tangguh. Lumayan berani.

Seminggu setelah Mean dan Dream go public, fans terpecah menjadi dua. Yang satu menghujat, seperti biasa, yang lain mendukung, tentu saja. Beberapa memilih pergi, yang lain tetap tinggal.

Plan tanpa sengaja membaca komen haters dan merinding dengan serangan mereka.

Jika cewek itu masih bisa tertawa saat ini, semua pasti hanya pura-pura.

Kasihan.

Sudah bisa diprediksi sebenarnya.

"Hm, Mean. Kamu nggak belajar dari masa lalu."

Plan duduk tenang di mobilnya. Ia heran bagaimana sebuah kehadiran bisa menarik dirinya kembali seperti dulu. Seolah ia tidak pernah kemana-mana. Hanya terjebak dalam distorsi ruang waktu.

Sekarang Plan mengerti kenapa Perth terus-terusan mengatakan kalau dia sudah berubah. Dia tidak pernah benar-benar mengakui, sampai buktinya disodorkan di depan hidungnya.

Plan menggeser jarinya di layar ponsel.

Mau bagaimana lagi. Lagian, dia sudah keropos di dalam. Tidak lagi bisa diperbaiki. Tidak ada yang tahu ia tercincang menjadi serpihan. Tidak lagi sama.

Plan mencari di kontaknya dan menghubungi Hope.

Tidak butuh waktu lama, Hope mengangkat panggilannya. Kemudian mereka bicara.

.

.

.

TBC













I wish you still with me....














April 30, 2021

BROKEN • ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang