11 - Sistem Tarik Ulur

272 62 14
                                        

Setelah beberapa hari berlalu semenjad kejadian pertandingan basket kala itu. Jay pikir ia telah diberi lampu hijau oleh Manda, tapi ternyata masih aja berdiri diam di lampu merah.

Hingga di semester dua ini pun, hubungan mereka masih stagnan di situ-situ aja. Meski begitu, tenang. Jay masih belum menyerah semudah itu.

Hanya saja dia sedang berada di fase mulai jenuh. Bosan akan ketidakpekaan sang gadis.

"Gengs, wajar gak sih kalau gue udah mulai capek ngejar seseorang?" Jay berkata dengan wajah yang tak terlalu mengharapkan jawaban dari kedua temannya ini.

Dari Sagara apalagi. Tapi kenapa malah jawaban dia duluan sih yang keluar.

"Ya, wajarlah. Tenaga lo itu nggak infinity, jadi pasti capek." Sagara berceloteh, minim ekspresi seperti biasa.

"Artian nya bukan ngejar beneran kayak gitu, tolol," semprot Jay. "Tapi 'ngejar' karena pengen dapetin doi."

Sagara mengangguk paham, memejamkan mata. Sepertinya ia sudah tahu betul siapa yang lagi dibicarakan oleh Jay di sini.

"Pasti si Manda lagi, kan?"

"Nah, itu lo tahu."

Jake ikut bercerocos, "Oh... yang temenan sama Jiya itu, ya?"

"Yoi, sama Sofia juga," timpal Sagara, tiba-tiba.

Jake memasang muka cengengesan. Niatnya mau menggoda Sagara. "Lo kenal cewek juga toh, Gar."

"Emang lo pikir gue seculun itu apa?"

"Lo bukan culun, tapi freak," balas Jake.

Ini kenapa jadi mereka berdua yang ribut???

"Heh heh, cukup! Kok kalian malah asyik berdua, dah? Kasih gue saran dong."

Jake mendehem panjang. "Kesalahan lo gue rasa cuma satu, Jay."

"Apa, tuh?"

"Tidak menerapkan sistem tarik-ulur."

Sebelah alisnya terangkat, tampaknya tak paham akan maksud Jake sampai berkata, "Emangnya gua lagi main tarik tambang apa?!"

Jake capek sebenarnya. Coba kalau bukan teman, sudah ia tinggal pulang ini.

"Eh, lo nih ya, kalo dikasih tahu nurut aja napa."

"Kenapa mesti tarik-ulur?"

"Ya, biar seru, simple," sergah Sagara.

Jake menahan niatnya untuk menampol mulut anak itu. "Muke lo simple!"

"Nggak gitu." Jake berkilah, mulai melanjutkan, "Itu tuh biar lebih tahu perasaan si cewek ke lo sebenernya kayak gimana, sih. Apa masih ada kesempatan buat dia suka sama lo. Gitu."

Jay membeo, kini ia mulai sedikit mengerti. "Caranya gimana?" tanyanya.

"Gampang. Lo jauhin dia."

"HAH. MANA BISA. ORANG SEMINGGU GUE BISA KELUAR DUA KALI SAMA DIA BAHKAN EMPAT KALI." Jay ngamuk.

"Ya tolak lah bodoh!" cerca Sagara, mulai gemas dengan tingkat kebucinan seorang Jayandaru.

"Ih, gak bisa gue. Dia anaknya cengeng, gak tega."

"Ya kalau ini namanya gak wajar. Lo gak boleh terlalu perhatian. Tahu, kan? Sesuatu yang berlebihan itu gak baik." Jake bersabda, layaknya pakar cinta.

Padahal mah kenyataannya sama aja. Bucin.

"Iya, sih..."

"Coba dulu aja kali," ujar Sagara.

Biar dikata begitupun, Jay sebenarnya masih agak ragu untuk memutuskan. Dia terlalu sayang dengan Manda. Ia tak mau membuat gadis itu malah jadi khawatir atau berpikir yang macam-macam kalau dia tiba-tiba menjauhinya.

Di ambang rasa bimbangnya, ia mengetik sebuah pesan untuk Manda, mengajaknya pulang bareng.

bebek sawah 🦆

| Man, pulang bareng yok

Sori |
Gk dlu |

| Lah
| Kenapa :(((

Gue ada kerja kelompok Jay |

| Ohh
| Hmm, oke!
| Mau kerjain di sekolah?

Nggak |
Di rumah temen |

| Oh, gituu
| Oke, Man. Tiati ya

Iyaa |

Mungkin belum rejeki, masih ada hari esok untuk mengajak Manda pulang lagi.

"Pulang ayo, anjir. Bengong aja lo, Jay," kata Jake sambil menyenggol pelan bahu anak itu.

"Eh, iya ayok."

Mereka bertiga berjalan beriringan bak anak ayam yang tengah menyebrangi jalan raya. Masing-masing dari mereka berkutat pada pikirannya sendiri. Tak ada obrolan penting saat menuju tempat parkir.

Hanya saja, saat Jay sudah sampai tempat dimana motornya diparkirkan. Ia melihat dari kejauhan.

Ada seorang laki-laki yang tengah memasangkan helm pada si perempuan. Dan, perempuan itu adalah Amanda.

Sontak sepasang mata Jay melotot tak terima. Hatinya sedikit teriris melihat kedekatan si laki-laki dengan Amanda nya.

Perasaan, dia jarang sekali melihat Manda mau dimanja seperti itu.

Ah, ia tak tahu harus marah atau sedih. Setidaknya ia masih sedikit waras untuk tidak memukul si orang yang memakaikan helm kepada Manda.

Memikirkannya, membuat Jay semeakin bertanya-tanya apa jangan-jangan Manda memang begitu ke semua orang, ya? Baik ke semua cowok?

Nasib sial. Apa pula haknya untuk dia merasa cemburu seperti ini.

Dirinya ini cuma sebatas sahabat.

Kedua bola mata Jay masih terkunci erat pada sosok Manda, yang akhirnya tak lama melewati nya. Berdua berboncengan dengan si cowok di depan Jay.

Jay hanya bisa menatap datar, tak ada satupun balasan. Padahal tangan Manda sudah melambai lama. Guratan senyum juga sudah mengembang.

Sedang pikiran Manda hanya bisa berkecamuk, tak bisa mengartika ekspresi yang Jay berikan. Ia telah mengerutkan dahinya, namun masih tak paham.

Jay yang masih termangu langsung disadarkan oleh jentikkan jarinya dihadannya.

"Bro? Are you okay?" tanya Jake.

"Eh, sorry sorry. Gue kayaknya belum mau pulang. Gue mau nongkrong dulu," kata Jay.

"Dimana?"

"Ada warteg langganan gue. Mau ikut?"

Dylan mengangguk. "Boleh, tuh. Kebetulan gue lagi laper."

"Gue ngikut, deh," timpal Jake.

"Oke."

Hari ini, suasana hati Jay sedang tidak baik-baik saja. Amanda sukses membuatnya merasakan cemburu sepihak.

[ ].

Favorite BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang