Amanda dan Jay telah saling mengenal bahkan sejak mereka masih dalam kandungan, kayaknya. Dulu mereka berdua itu satu lingkungan dan tetanggaan. Ia pun akrab dipanggil Manda oleh Jay, begitu juga dengan tetangga yang lain.
Namun, sejak umur Manda menginjak ke-12 tahun, orangtuanya memutuskan untuk pindah sebab pekerjaan dinas Ayahnya.
Walau terpisah jarak dan tempat, ia masih selalu kontak-kontakan dengan Jay. Entah ya, bagi Manda sendiri rasanya sangat nyaman berteman dengan Jay.
Kadang, kalau Manda lagi merasa turun mood-nya, ia suka berakhir mengajak Jay pergi keluar dan janjian untuk ketemu, bukan di jemput.
"Lo gak tanya gue sibuk apa nggak? Main ngajak ketemuan aja nih bebek sawah."
"Gak perlu. Gue tahu dua puluh empat per tujuh lo itu selalu luang dan gabut. Udah buruan siap-siap Jay, keburu gue jemput paksa lo ke rumah."
"LO BENERAN GADIS APA BUKAN, SIH?!"
*blet*
Sambungan terputus. Di saat itu juga Jay langsung melompat dari kasur dan bersiap secepat mungkin agar tidak membuat Manda menunggu.
Ah, gini-gini Jay juga masih punya hati seorang pria. Ia masih tak tega pada bebek sawah itu.
Kesehariannya selama tidak menjadi tetangga Manda tetaplah sama. Tak jauh-jauh dari hang out bareng gadis itu juga.
Mana sempat ia berpikir untuk mencari pacar, kalau masih ada Manda yang selalu membutuhkannya.
"Heh lo kenapa gak cari pacar aja, sih. Perasaan gue mulu yang jadi sasaran ke-moody-an lo ini."
"Males."
"Anjing."
"Ujung-ujungnya juga gue bakal tetep cari lo," ujar Manda.
Jay menggeleng-gelengkan kepala. "Asli anjing banget."
Pemilik nama Amanda ini sejujurnya sudah seringkali ditembak oleh pemuda yang sering menyebutnya 'bebek sawah', Jay.
Namun, ia tolak.
"Gue nyaman aja temenan sama lo, Jay. Soalnya cuma lo yang bisa gue pukul."
"Anjing, gak waras ya lo."
Meski pernah ditolak, perasaan Jay pada Manda masihlah sama. Mungkin, alasan ini juga mengapa dirinya masih belum bisa mencari pacar dan berujung di sebuah rumah yang bernama Amanda.
"Gue suka sama lo Manda, tapi kenapa lo selalu bersikap kayak gak ada apa-apa?" tanya Jay, memulai topik yang cukup serius.
Manda agak sedikit terkejut karena Jay tiba-tiba membahas masalah ini lagi. Masalah hati.
"Gue udah bilang tadi kan, Jay? Gue nyaman temenan sama lo."
"Menurut lo emang sekarang kita lagi kayak temenan? Iya?" Jay menatap tajam ke bola mata Manda.
Manda hanya bisa terdiam, kemudian memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata lawan bicara.
"Kalau gitu gue gak mau temenan lagi sama lo. Perasaan gue gak sebercanda itu ya, Manda."
Jay menghela napas kasar, gadis itu bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Suasana hening yang terbangun ini seperti mencekik tenggorakannya.
Perlahan, ia coba mengeluarkan suara. "Jay."
Jay yang dipanggil tidak menoleh. Tapi, Manda tetap melanjutkannya.
"Gue gak pernah anggap perasaan lo sebagai bahan candaan. Inilah kenapa gue nggak pernah mau berurusan sama yang namanya perasaan. Karena kalau nggak saling sama, akhirnya tetap menyakitkan."
Manda coba menarik napas panjang sebelum melanjutkan ocehannya kembali.
"Lo itu terlalu berharga untuk gue jadiin pacar yang hanya sesaat. Gue gak mau nanti kita berujung musuhan. Gue cuma butuh teman—sahabat yang saling mendukung satu sama lain."
Jay tersenyum miring. "Oh, jadi sekarang gue naik satu tingkat, jadi sahabat nih ceritanya?"
"Jay—"
"Fine. Kalau itu mau lo, Man." Wajah Jay mendadak mendekat membuat Manda spontan menjauhkan wajahnya. "Asal lo tahu, gue orangnya gak gampang nyerah. Jadi, siap-siap aja buat dengar pernyataan cinta gue setiap saat."
"Jay, haduh. Plis, jangan buang-buang waktu lo buat hal kayak gini."
"Lo mau langsung gue lamar? Biar gak ada yang namanya kata putus."
Manda kontan mendorong dada Jay. "JAY LO NGOMONG APA, SIH. SUMPAH, YA."
"Sabar, ya. Kita masih SMP, Man. Kalau udah mapan gue pasti lamar lo."
"BISA DIAM TIDAK."
Jay nyengir aja ketawa-ketawa lihat tingkah Manda yang kepalang panik sambil menekuk kedua alis.
Padahal, detik ini bisa dibilang permulaan dari bibit-bibit cinta dalam benaknya yang mulai terlihat akarnya.
[].
HAHSHSHDHSHSH FIRST IMPRESSION NYA GUYS????? 👀👀👀
KAMU SEDANG MEMBACA
Favorite Boy
Fiksi PenggemarJay adalah orang yang pantang menyerah, apalagi menyangkut soal perasaan. Baginya menaklukan hati Manda adalah sebuah keharusan. Namun, mampukah ia? ______ +au +local name +harsh words [ park jongseong x kim jimin // #MOONBUNSU ] ## credit: -typefo...
