Melihat seseorang dihadapannya membuat Amanda ingin menangis lebih keras, dia bersyukur masih bisa hidup dan ada yang menolongnya.
"Huwaaaaaa!!! huuuhuuuhuuu Erzaa huhuhuuuuu" Amanda melihat wajah Erza yang panik saat membuka pintu biliknya, Amanda yang menangis terlalu keras menggigit bibirnya untuk mencoba menghentikan tangisannya.
Erza melihat bibir Amanda yang lebih pucat dan tangan Amanda yang gemetar segera melepaskan jaket yang dipakainya lalu memberikannya pada Amanda.
"Gue anterin pulang." Erza
"I- iya" Amanda masih terisak-isak berusaha menghentikan tangisannya.
Tatapan mata Erza terasa hangat, tidak seperti biasanya, Erza pertama kalinya bersikap hangat di depan Amanda, Erza mengulurkan tangannya untuk membantu Amanda berdiri.
Sebelumnya Erza memang membawa motor saat datang ke sekolah.
Amanda membuka obrolan sambil menunduk.
"Maaf ya," ucap Amanda dengan suara serak.
Erza hanya menatap orang yang daritadi berjalan di belakangnya dan tidak menjawab Amanda, dia hanya meneruskan jalannya.
"Za," panggil Amanda, menghentikan Erza
"Emang kalo ayah udah gaada..., salah ya?" tanya Amanda dengan raut wajah menahan tangis.
Amanda mengingat semua perkataan menyakitkan yang dilontarkan Giselle di kamar mandi sebelumnya.
"Enggak, gak salah." Jawab Erza seadanya
"Gamau pulang?" tanya Erza yang kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Iya iya pulang, maaf.. Manda malah ngelantur," kemudian Amanda menyusul langkah Erza .
Amanda melihat tas nya di tong sampah di dekat Gerbang, dia dengan cepat mengambilnya dan membersihkan tas nya.
"Ish... kotor"
Erza tidak berkomentar apa-apa dan hanya melanjutkan jalan nya.
Saat di parkiran, Erza memakaikan helm di kepala Amanda, lalu Erza baru memakai helm miliknya setelahnya.
"Naik," suruh Erza
Lalu Amanda pun naik ke kursi belakang motor Erza yang berwarna hitam.
Saat Amanda akan memeluk Erza dari belakang, Erza seolah menjadi peramal tiba-tiba berkata.
"Gausah cari kesempatan," ucap Erza
"Engga kok!" Amanda mengembalikan tangannya dan berdoa supaya tidak jatuh saja.
"Za dapet juara berapa?" Di tengah jalan Amanda mencoba membuka obrolan, namun karena angin yang agak kencang, Erza tidak dapat mendengar dengan jelas.
Erza hanya menjawab, "Iya"
"Hah? dua?!" Amanda tak nyambung.
"Oh, juara satu," jawaban Erza nyambung karena mendengar jelas dan ada feeling kalo Amanda nanyain olimpiade
"Ooh tiga.., kok bisa?," nah ini malah gak nyambung anaknya
"Juara Satu!!" Perjelas Erza
"Sate?! Erza laper? mau sate?"
Erza yang fokus dengan kemudinya + lelah menjawab Amanda yang ngoceh akhirnya mendiamkan Amanda dan Amanda juga sama-sama capek mendengar jawaban Erza yang absurd dan random, padahal emang Amanda nya aja yang gak ngedenger.
Tapi di tempat lain~~~~~
"Amanda?!"
"Duh katanya di toilet, dimana sih.."
KAMU SEDANG MEMBACA
ERZA CHAIDEN [uncontinued]
Teen Fiction[ • ] Ini kisah tentang perjuangan Amanda yang merasa menemukan cinta sejatinya di SMA. Erza yang tidak peka dengan isi hatinya selalu menolak padahal dia juga suka pada Amanda. Yang Erza lakukan hanya bisa membuat Amanda salah paham. Bagaimana kisa...
![ERZA CHAIDEN [uncontinued]](https://img.wattpad.com/cover/254598785-64-k323055.jpg)