"Papih?!" Giselle melihat kantor kepala sekolah sudah dikerumuni banyak orang karena para pelajar penasaran kenapa Polisi datang ke sekolah mereka.
Giselle menerobos, membelah kerumunan orang di depan kantor Ayahnya dan mendapati Ayahnya sudah menunduk di depan para polisi, yang salah satunya adalah Ibunya Amanda.
"Kenapa ini Pih?!" Rasanya seperti mimpi Giselle semalam, kejadian ini persis seperti di dalam mimpinya. Kantor Ayahnya berantakan, banyak orang, dan perasaan yang ia alami di mimpi itu, benar-benar terjadi sekarang.
"Maaf sayang.." lirih Anton, kepala sekolah SMA Triwala ketika dibawa oleh dua orang polisi saat melewati putri tersayangnya.
"PAPIH JELASIN DULU SAMA ISEL!!!" Isel adalah panggilan sayang yang diberikan oleh Anton kepada Giselle
"Jelaskannya nanti saja di pengadilan. Pak Anton, anda menggelapkan uang dana BOS dan BOP sekolah ini bersama dengan kepala dinas pendidikan, semuanya sudah terpampang jelas dengan bukti, jadi cepat ikut kami"
Giselle Menangis, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menangis, hatinya kecewa, marah, kesal, dan malu disaat bersamaan. Melihat Ibu Amanda ada disana membuatnya semakin membeci Amanda.
'AARGH! DASAR CEWEK PEMBAWA SIAL!!' batin Giselle berteriak.
Amanda berpapasan dengan ibunya di depan kantin, matanya seolah bertanya ada apa kepada sang Ibu.
"Maksud Ibu yang waktu itu ini?" Amanda teringat kejadian saat ibunya mengantar dia ke sekolah dan bertanya tentang Giselle.
"Hm ya, bisa dibilang begitu, gimana? pasti sekarang kamu udah aman" Cintya menepuk-nepuk pucuk kepala Amanda pelan.
'AMAN APANYA?! MALAH BISA TAMBAH DIBULLY GUE!!, APALAGI GISELLE UDAH NGELIAT IBU DISINI, AH ANJIR GUE HARUS NGAPAIN COBA?!' Amanda menghela napasnya kasar
"SEKARANG AMANDA BAKALAN LEBIH DIINCAR SAMA DIA BU!"
"Kenapa Ibu harus..... ngelakuin ini sih?!"
Cintya terkejut, awalnya dia mengira putrinya akan sangat bahagia melihat perjuangan selama beberapa minggu menangani kasus ini, ternyata sebaliknya, raut wajah Amanda menampilkan kekecewaan dan sedikit marah padanya.
Mata Cintya memperlihatkan bahwa dia sangat terkejut.
"Ini bukan karena ibu dan bukan karena kamu! ayah dia memang melakukan kriminal Amanda!" Cintya meninggikan suaranya sedikit kepada Amanda yang sekarang menunduk menahan kekesalannya
"Tugas ibu cuma nangkep para kriminal, ibu kerja berbulan-bulan sampai jarang tidur, CUMA BUAT KAMU!" lanjut Cintya dengan menekankan kata-kata terakhir yang ditulis tebal.
Amanda mendonggakkan kepalanya, matanya berkaca-kaca, menatap ibunya dengan penuh arti, matanya seolah berkata bahwa dia kesal, sedih, dan menginginkan sesuatu.
"Iya Manda tau ibu kerja buat Amanda, tapi Amanda lebih butuh waktu ibu, Amanda gak tau udah berapa lama ibu pernah peluk Amanda kayak Ayah waktu itu" ucap Amanda
Air mata Amanda tidak tertahankan lagi, setetes air turun dari mata kanan Amanda, lalu disusul dengan mata sebelahnya.
"Amanda selalu sendirian bu, sekarang Amanda juga diganggu disini, Kenapa sih Amanda gak bisa bahagia sedikit aja setelah Ayah gak ada?!"
Emosi di dalam diri Amanda seketika membeludak. Cintya tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini, baru kali ini Amanda berbuat seperti itu.
"Ibu ngelakuin ini buat beli kebutuhan kamu!, kamu juga kenapa gak coba ngertiin ibu sih?!" Cintya tetap mencoba menenangkan dirinya walaupun terdengar nada kekecewaan di dalam ucapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ERZA CHAIDEN [uncontinued]
Fiksi Remaja[ • ] Ini kisah tentang perjuangan Amanda yang merasa menemukan cinta sejatinya di SMA. Erza yang tidak peka dengan isi hatinya selalu menolak padahal dia juga suka pada Amanda. Yang Erza lakukan hanya bisa membuat Amanda salah paham. Bagaimana kisa...
![ERZA CHAIDEN [uncontinued]](https://img.wattpad.com/cover/254598785-64-k323055.jpg)