Saat ini Afkar menemukan Caca sedang melipat kedua tangan di atas meja belajar dengan kepala yang dibenamkan di sana. Tanpa ragu, ia melangkah menuju perempuan itu.
Afkar baru saja pulang dari kantor. Pada pukul lima sore, ia sudah sampai di rumah. Hari ini dirinya memang ingin pulang cepat. Meninggalkan pekerjaannya di kantor yang tersisa sedikit lagi. Tidak masalah, masih bisa dikerjakan esok hari.
Setelah menaruh tas, melepas jas dan dasi serta sepatu, lelaki itu melepas kancing lengan kemejanya, lalu menggulung hingga siku. Tatapannya masih asyik terfokus pada belakang kepala Caca.
Alih-alih memanggil, Afkar justru menarik kursi lain dan duduk di samping Caca. Di atas meja belajar ada laptop yang layarnya menggelap dan beberapa kertas berserakan. Istirnya itu sudah pasti sedang mengerjakan skripsinya yang hampir selesai.
Tangan Afkar mengambil kertas itu. Banyak coretan merah di sana. Hingga di lembar-lembar selanjutnya, coretan merah itu tak sebanyak tadi. Kemudian ia mendekatkan tubuh ke arah Caca.
"Sya ...," panggilnya pelan sambil menaruh kertas itu kembali di atas meja.
Belum ada reaksi dari Caca. Perempuan itu masih bungkam. Mungkin tertidur.
Kali ini Afkar mengusap kepala Caca. "Sya ... bangun," ucapnya.
Berhasil. Caca mulai terusik. Perempuan itu mengangkat kepala nya perlahan, lalu menoleh, mendapati Afkar yang sudah dulu menatapnya.
"A-abang?" Caca mengusap matanya cepat untuk menghilangkan kantuknya.
"Ketiduran?" Afkar bertanya.
"Iya." Suara Caca serak. Afkar mengernyit mendengarnya.
"Suaranya kenapa?"
"Hah?"
"Suara kamu serak, kenapa?"
"Kan baru bangun tidur, wajar kalau serak," kata Caca sambil mengalihkan wajah.
Afkar mengangguk, kemudian ia menyentuh sebelah pipi Caca dan mengarahkan wajah itu padanya. Kini, ia bisa melihat wajah perempuan itu yang baru saja bangun tidur, matanya memerah. Tangannya dijauhkan, setelahnya.
"Skripsinya gimana?"
Pertanyaan dari Afkar berhasil membuat Caca merasa sesak di dada. Pagi tadi ketika ia bertemu kembali dengan dosen pembimbing dan skripsinya dicek, ia justru dimarahi karena terdapat cukup banyak kesalahan. Dosennya juga mengatakan beberapa hal yang membuat semangatnya turun. Rasa optimisnya hilang sudah.
Memang, lisan terkadang lebih tajam daripada pisau.
Melihat Caca yang hanya diam, Afkar memberanikan diri untuk merangkul dan mengusap bahunya. "Kenapa? Dosennya ngomong apa sama kamu?"
Caca menggeleng pelan dengan kepala yang menunduk. Ia pilin ujung kemeja Afkar yang tidak dimasukkan ke celana. Tidak berani menatap lelaki itu yang mengajukan pertanyaan. Ia takut jika Afkar juga akan marah padanya karena tidak bisa mengerjakan skripsi dengan mulus, tidak seperti lelaki itu.
"Jangan takut, aku nggak akan pernah lagi marah-marah sama kamu, Sya." Afkar melingkarkan tangan di tubuh Caca, memeluknya lembut. "Bilang, ada masalah apa? Nanti aku bantuin, pasti."
Caca merasa lega mendengar itu. Ia benamkan wajah pada dada sang suami. Mencari kehangatan dari pelukan yang memiliki makna tersendiri untuknya.
Pelukan ini, peluk yang setiap hadir membuat hatinya benar-benar menghangat.
"Banyak coretan, harus banyak revisi lagi. Terus, kata dosennya aku payah, skripsi gitu aja nggak bisa," tutur Caca menjelaskan.
"Jangan dengerin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati
RomanceMungkin, perlakuan saja tidak cukup untuk menunjukkan sebuah rasa yang begitu dalam. Ada kalanya lisan yang harus maju. Mengungkapkan pernyataan sederhana yang dinanti sejak awal. Namun, untuk beberapa orang-orang yang sulit mengungkapkan perasaan...
