Kalo ada typo maaf ya, ngetik langsung pub🥲
Semuanya bila diteliti memang seperti masih abu. Hal-hal yang seharusnya diberi tahu, justru menjadi rahasia. Peliknya, itu tentang perasaanmu padaku.
><
Pagi ini ketika Afkar akan berangkat kerja, Caca mengantar sampai depan pintu. Setelah berpamitan dan Caca mencium tangan Afkar, lelaki itu tidak kunjung berangkat. Hanya diam berdiri di depannya.
Alisnya menukik, memikirkan sesuatu apakah ada yang tertinggal.
"Ada yang kelupaan, Bang? Kok nggak berangkat?"
Afkar menelisik ke sekitar, cuaca pagi ini menyegarkan karena dini hari turun hujan tipis. Membuat suasana tampak sejuk. Matahari pun menyembul cerah perlahan. Ia kemudian menunjuk kening perempuan di depannya dengan dagu.
"Apa?" Caca menegang keningnya. "Di jidat aku ada apanya? Rambutnya keluar ya, Bang?"
"Mau cium." Afkar berkata pelan.
"Hah?" Caca meneguk ludahnya sendiri dengan jantung yang bertalu. Kenapa juga suaminya ini meminta izin, padahal bisa melakukannya dengan bebas?
Ya, walaupun mengingat sentuhan fisik mereka memang wajar jika saling meminta izin bila ingin memegang dan mencium sana-sini.
"Mau cium kening kamu, boleh?"
Nggak pake nawaitu dulu kali ya kalo ngomong? batin Caca resah.
Caca lantas mengangguk. Ia hanya diam terpaku ketika Afkar memegang kepala dan mendekatkan wajah. Sebelum bibir itu menempel di keningnya, dapat ia rasakan ibu jari Afkar mengusap lembut di sana sebanyak dua kali.
Cup.
Selang lima detik, Afkar menjauhkan wajah dan menatap Caca. Ia menatap mata kecil dan bulat itu dengan hangat. Perasaannya membuncah di dalam sana. Dadanya meletupkan kembang asmara disertai perut yang menggelitik.
Sepertinya ia harus berterimakasih pada sahabatnya, Ganda, karena memberi saran yang tidak salah. Afkar berkonsultasi pada orang yang tepat. Coba saja pada dua sahabatnya yang lain, sudah pasti tidak ada harapan.
"Aku berangkat. Assalamualaikum," ucap Afkar, lalu mengusap kepala Caca dan berjalan menjauhi perempuan itu.
Caca menjawab salam lirih sambil memandangi punggung tegap suaminya yang semakin menjauh.
Setelah mobil yang dikendarai Afkar menghilang dari penglihatannya, Caca memasuki rumah sambil bergumam tentang kejadian tadi. Ia masih terkejut karena Afkar sudah berani meminta cium-cium. Memang itu sebuah kemajuan, tapi tidak baik juga untuk jantungnya yang belum terbiasa.
Mulai sekarang ia harus mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi bila sentuhan fisik itu kembali terulang.
***
Pertemuan dengan dosen pembimbing berjalan dengan baik. Kelancaran skripsinya berkembang pesat, dinyatakan ia bisa sidang minggu depan. Langkah kakinya terasa dengan. Bahu kecilnya memancarkan aura semangat yang kentara.
Di sampingnya ada Aruna, teman baiknya sedari awal ia masuk ke kelas. Jelas saja Aruna yang lebih dulu memperkenalkan diri dan bercerita banyak tentang pengetahuan mengenai kampus yang mereka tempati. Caca tetaplah Arsya Fidiya yang pemalu dan tidak banyak bicara kepada orang baru. Sungkan, itulah yang ia rasakan setiap berdekatan dengan orang-orang baru.
Aruna memiliki tubuh yang tinggi, membuat mereka seperti adik-kakak saat berjalan beriringan seperti sekarang. Tinggi Aruna 165 cm, sedangkan Caca 155 cm.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati
RomanceMungkin, perlakuan saja tidak cukup untuk menunjukkan sebuah rasa yang begitu dalam. Ada kalanya lisan yang harus maju. Mengungkapkan pernyataan sederhana yang dinanti sejak awal. Namun, untuk beberapa orang-orang yang sulit mengungkapkan perasaan...
