12. Afkar dan Ketakutannya

597 130 7
                                        

Karena aku lagi gak mager, jadi jarinya olahraga ngetik part ini

***

Hari ini, Caca akan mengantarkan makan siang untuk Afkar ke kantor. Ia membuatkan beberapa masakan kesukaan Afkar, di antaranya; capcai, tempe orek, sambal goreng tomat, dan ikan teri. Iya, awalnya Caca juga tidak menyangka jika lelaki itu menyukai makanan tersebut. Saat bertanya kenapa menyukainya, Afkar mengatakan, "Aku suka masakan rumah, apalagi kalau yang masak itu umma, dan ...."

"Dan?

"Kamu."

Oke lah, Caca mengaku kalau dirinya baper saat itu. Terserang gempa dadakan di jantungnya. Ambyar.

Setelah memeriksa penampilannya sudah rapi, ia menenteng kotak makan yang sudah tersusun rapi. Siang ini dirinya memakai abaya berwarna abu-abu dengan kerudung senada. Begitu cantik melekat di tubuhnya.

Setelah berpamitan pada Umma, Caca menaiki ojol yang ia pesan. Dalam tiga puluh menit, ia sudah sampai di kantor Afkar.

Cerita yang Caca dengar dari Umma tentang perusahaan yang Afkar pegang sekarang adalah perusahaan milik Abah yang dulu dititipkan pada orang kepercayaan abahnya. Jadi, ketika Afkar lulus kuliah, ia memegang kendali perusahaan itu.

Sejujurnya, nasib Caca dan Esha tidak beda jauh. Sama-sama menikah dengan seorang laki-laki yang memiliki materi sangat berkecukupan, tampan, baik. Kalau soal menyebalkan, sama juga, sama-sama menyebalkan. Hanya saja, Akbar humoris, sedangkan Afkar ... manusia minim ekspresi yang dulunya suka sekali marah-marah dengan Caca. Untungnya, sekarang sudah agak jinak. Kalau Caca sulit diatur saja suka galak, sedikit.

Sesudah membayar ongkos, Caca menatap gedung tinggi di hadapannya, lalu menarik napas. Sejujurnya, ia tidak terbiasa datang ke sini, akan tetapi mau tak mau harus membiasakan diri, mengingat dirinya istri dari sang pemilik perusahaan.

Belum banyak yang tahu jika Caca adalah istri Afkar, hanya beberapa saja. Sewaktu pernikahan mereka, hanya mengundang orang terdekat saja, orang-orang kantor tidak semua diundang.

Ketika Caca melewati resepsionis, ia tersenyum. Afkar pernah mengenalkannya pada staf di sana, berjaga-jaga jika dirinya datang sendirian dan ingin menemui Afkar, tidak perlu lagi dicegat seperti orang-orang kebanyakan.

"Pak Afkar habis meeting, tuh, Bu! Pas banget datengnya!" Caca yang mendengar itu hanya mengangguk.

Menaiki lift untuk menuju lantai di mana ruangan Afkar berada, Caca bertemu dengan Misbah. Laki-laki itu tersenyum lebar melihat keberadaan istri sekaligus adik kelasnya, dulu.

"Aduh, ada yang bawain makan siang buat suami, jadi laper," ucap Misbah, berdiri di samping Caca, lalu menekan tombol lantai 10 yang sama-sama mereka tuju.

Caca merekah kan senyum. "Nanti makan sama-sama, ya, Kak!"

Ide gila. Bisa-bisa Misbah digorok Afkar!

Misbah menggeleng cepat. "Em ... anu, nggak usah, Ca, elah becanda doang. Gue udah ada janji makan siang sama doi." Ia menaik-turunkan alisnya.

"Aku kira Kakak masih jomblo."

Misbah gemas menyentil bibir Caca yang mudah sekali mengatakan demikian. Apa semengenaskan itu dirinya? "Belum tahu, ya, Ca?"

"Tahu apa?"

"Tiga bulan lagi gue nikah." Misbah menyengir, wajahnya tampak songong.

"Wah ... alhamdulillah! Kok nggak dikenalin ke aku?" Caca jadi senang sendiri. Pasalnya, perempuan mana yang menyangkutkan hatinya pada laki-laki agak aneh ini?

Pelabuhan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang