Bismillah ... apa cerita ini masih ada yang baca?
***
Hari ini Umma sudah boleh pulang ke rumah karena kondisinya membaik. Dokter menganjurkan agar istirahat total dan jangan terlalu banyak pikiran. Upaya untuk penyembuhan penyakit itu pun harus dilakukan sesuai dengan prosedur. Sampai saat ini dokter belum bisa memvonis lebih tentang penyakit yang diderita Umma.
Pukul 10 pagi, setelah Afkar selesai meeting dengan koleganya, ia akan menjemput sang ibu dan istrinya di rumah sakit. Tisya masuk sekolah hari ini karena dibujuk oleh Umma, meski awalnya mati-matian menolak.
Caca mengemasi barang milik Umma. Membantu mertuanya juga untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Sembari melakukan itu, mereka mengobrol ringan. Tatapan Umma pada menantunya tidak pernah lepas, ia merasa benar-benar beruntung memiliki Caca dalam hidupnya. Berpikir jika nanti kalau dirinya pergi, Afkar dan Tisya ada yang mengurus dan menjaga.
Umma tidak menjadikan Caca sebagai asisten rumah, tapi ia percaya bahwasanya perempuan itu mampu merawat anaknya dengan baik. Hati yang tulus dan rasa peduli yang besar membuat diri Caca patut dipercayai.
"Umma minta maaf, ya," ujar Umma tiba-tiba.
Caca menoleh dengan tangan yang sibuk melipat baju. "Umma, kok bilang gitu?"
Mereka duduk di atas ranjang tempat Umma berbaring beberapa hari lalu. Duduk berdampingan. Tangan Umma merayap dan mengelus lembut punggung tangan Caca.
Ia ingat. Ingat betul bagaimana saat dirinya meminta pada Afkar. Meminta sesuatu yang sebenarnya tidak pantas dijadikan landasan atas hubungan yang Afkar dan Caca miliki sekarang. Ia lah alasan kenapa semuanya bisa terjadi, terlepas bagaimana perasaan Afkar pada Caca yang sebenarnya.
"Caca ... janji nggak akan ninggalin abang, walaupun ada sebuah kesalahan?" Umma bertanya dengan impitan yang merayap dada.
Caca merasa aneh, sekaligus janggal. "Buat apa aku ninggalin abang, Umma? Alasan apa yang kuat buat itu? Nggak ada 'kan?"
"Seandainya ..." Umma tersenyum tipis. " ... seandainya kesalahan itu merusak kepercayaan kamu, apa kamu masih mau dengerin penjelasan abang?"
Hatinya dibuat gamang. "Umma, kenapa? Inget 'kan kata dokter Umma nggak boleh banyak pikiran? Jadi, nggak perlu mikirin sesuatu yang bakal baik-baik aja. Abang sama aku pasti nggak akan kenapa-napa, kok. Ya, walaupun hubungan kita masih baru, tapi bukan berarti gampang dibuat hancur," tutur Caca.
"Kamu percaya apa itu rasa cinta?"
Caca mengangguk pasti. "Percaya."
"Apa selama dua bulan hidup bersama abang kamu nemuin itu?"
***
Afkar datang tepat waktu. Ia menjemput ibu dan istrinya yang sudah siap untuk pulang ke rumah. Jas hitam pagi ini dikenakan sudah dilepas dan ditaruh di jok mobil. Menyisakan kemeja abu-abu yang terbalut dasi masih rapi di tubuhnya.
"Nggak nunggu lama 'kan?" tanya Afkar sambil melangkah mendekati tempat Caca dan Umma duduk, di sofa yang ada di kamar inap.
Mereka kompak menoleh. Bersamaan juga tersenyum dan menjawab, "Nggak kok."
Afkar meraih tas yang berisi keperluan Umma. "Ayo, pulang sekarang."
Mereka bergegas meninggalkan rumah sakit untuk menuju rumah. Dalam perjalanan, Afkar benar-benar dijadikan supir karena dua perempuan berbeda generasi di kursi belakang asyik mengobrol tanpa basa-basi padanya. Ia melirik kaca yang menggantung di atas untuk melihat wajah-wajah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati
RomanceMungkin, perlakuan saja tidak cukup untuk menunjukkan sebuah rasa yang begitu dalam. Ada kalanya lisan yang harus maju. Mengungkapkan pernyataan sederhana yang dinanti sejak awal. Namun, untuk beberapa orang-orang yang sulit mengungkapkan perasaan...
