18. Isi Hati Umma

193 31 3
                                        

Umma tidak tahu usianya akan lebih panjang atau tidak. Akan tetapi, ia ikhlas bila Allah memanggilnya dalam waktu dekat. Meskipun dikatakan kondisinya membaik, ia masih diam-diam membiarkan rasa sakit itu menjalar di tubuh dan tidak mengatakannya pada siapapun. Ia hanya tidak ingin anak-anak dan menantunya terus khawatir.

Yang ada di pikirannya saat ini adalah ia hanya ingin berada di samping sang suami. Memeluk kembali sosok yang sudah lama pergi. Rasa sakit itu semakin menggerogoti ketika ia sadar bahwa yang bisa direngkuh hanyalah sebuah pigura menampakkan wajahnya dan suami tersenyum cerah.

"Mas, jemput aku, ya. Aku kangen banget sama mas. Tapi, aku belum terlalu rela ninggalin anak-anak di sini." Umma mengusap pigura dengan sayang.

"Kalau mas masih di sini, pasti mas seneng lihat abang udah punya istri yang baik, lucu, sholehah. Mas juga pasti seneng, bungsu kita bentar lagi masuk SMA, mas." Ia terisak pelan. Merengkuh pigura itu dengan erat sambil memejamkan mata. "Aku mau terus sama mereka, mas, tapi aku capek harus terus nahan kalau aku baik-baik aja. Semuanya bohong."

Umma mungkin bisa mempercayai Caca untung mengurus Afkar dan Tisya, akan tetapi ia tidak mau kedua anaknya semakin merasa kehilangan karena orang tua satu-satunya pun ikut pergi. Entah akan seberapa besar luka karena kehilangan yang tumbuh berakar di hati mereka.

Namun, ia juga tidak bisa berbohong menjadi orang tua satu-satunya sangat sulit. Harus menguatkan anak-anak, tapi ia juga butuh dikuatkan. Ia juga butuh sandaran, tapi tidak mau mengkhawatirkan anak-anaknya.

Sulit. Maka dari itu yang ada dipikirannya sekarang hanyalah menyusul sang suami. Pikirannya terlalu berkecamuk.

Makin lama makin larut, Umma terlelap dengan jejak air mata di wajahnya.

***

"Abang."

Caca memasuki kamar setelah mengambil air putih dari lantai bawah dan mematikan semua lampu-lampu. Malam semakin larut, akan tetapi Caca dan Afkar belum juga terlelap. Pukul sebelas malam, jari jemari Afkar masih sibuk berselancar di atas keyboard laptop kerjanya.

"Hm?" Afkar menyahut tanpa mengalihkan tatapan.

Caca menaruh gelas di atas nakas dan duduk di samping Afkar. Kepalanya menyelonong di depan wajah lelaki itu. Menghalangi pandangan Afkar pada layar laptop. Ia kemudian mendengkus kecil saat Afkar menatapnya.

"Kerja mulu, ih! Tuh lihat udah jam berapa? Kayak nggak ada hari besok." Caca melotot kecil. Kedua tangannya ada di atas bahu Afkar dan memukul-mukul kecil di sana.

"Dikit lagi," ucap Afkar.

"Kalau dikit itu dari jam sembilan aja udah selesai, Abang. Ini udah jam sebelas masih dikit-dikit aja dari tadi. Abang nggak capek apa? Abang juga hari ini pulangnya telat tuh."

Tanpa mengalihkan tatapan, kedua tangan Afkar menyingkirkan laptop dari pangkuannya, lalu beralih merengkuh pinggang Caca dengan sebelah tangan, sedangkan sebelahnya lagi menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.

"Lagi banyak kerjaan, Sya. Aku yang pegang kendali, wajar kalau aku harus banyak kerja gini."

"Ya, tapi 'kan Abang punya asisten?" Caca membenarkan posisinya yang kurang nyaman.

Mereka tidak sadar bahwa skinship yang sekarang dilakukan membuat nyaman satu sama lain. Ketidaksadaran ini sangat menguntungkan untuk hubungan keduanya. Entah siapapun yang memulai lebih dulu, yang jelas bila disadari pasti akan sama-sama merasa canggung dan malu.

"Dia malah berencana resign."

"Lho, kok gitu?"

"Nggak tahu, nggak jelas, pusing aku sama dia."

"Ya, harusnya Abang tanyain baik-baik lagi. Abang tuh kebiasaan, dikit-dikit malesan sama orang, padahal itu demi kebaikan bersama," tutur Caca.

"Hafal banget kamu," ujar Afkar sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Aku kan juga korban, dulu." Caca tersenyum kuda. "Tapi, sekarang Abang udah nggak gitu sih sama aku. Udah berubah. Nah, coba ini nih," ia menarik kedua sudut bibir Afkar ke atas, "sering-sering senyum, deh."

Afkar menjauhkan tangan itu dan menggenggamnya. "Nggak mau. Buat kamu aja."

"Dih." Caca memalingkan wajah karena salting.

"Kenapa? Salting?" Afkar tersenyum meski tidak lebar. Ia merasa gemas ketika pipi bulat kecil itu bersemu alami dan matanya melirik ke sana-sini.

"Ya, y-ya wajarlah kalau salting." Caca menjauhkan tangannya dari genggaman Afkar, tapi tidak berhasil. "Apa?!" tanyanya ketika lelaki itu memandangnya intens.

"Apa sih? Kok jadi kamu yang galak?"

"Mang nggak boleh?"

"Jangan galak-galak. Soalnya lucu."

***

Matahari mulai beranjak ketika pukul sembilan pagi. Udara belum berubah menjadi panas, cenderung hangat diiringi dengan angin berembus pelan. Kolam renang berukuran 4×2,5 meter dimainkan airnya oleh Caca yang berjongkok di tepian.

"Ngapain, Ca?"

Caca menoleh dan beranjak ketika mendapati Umma berjalan mendekat. Ia cukup terkejut karena seharusnya wanita itu diam di kamar untuk beristirahat. Bukannya kemari mendatanginya.

"Umma, kenapa ke sini? Harusnya di kamar aja. Banyakin istirahat."

Umma mengusap kepala Caca sambil tersenyum. Bibirnya pucat dan guratan tidak sehat tergambar jelas di wajahnya. Ia berjalan bersama menantunya yang telaten menuntun, padahal masih bisa jalan sendiri dengan normal.

"Umma bosen dong kalau di kamar terus, Ca. Lagian kamu nggak ada temennya."

Mereka duduk di kursi panjang yang ada di dekat kolam. Di pojok beralaskan rumput hijau dan beberapa tanaman. Caca menggenggam kedua tangan Umma yang makin mengecil. Ia tatap lamat-lamat tangan itu.

"Umma, yang sehat-sehat ya. Jangan banyak pikiran. Harus makan yang banyak, buah dan sayur. Terus, Umma kalau ada perlu apa-apa harus bilang sama aku," ucap Caca.

Di dalam benaknya, Caca sendiri menyimpan banyak pertanyaan. Kenapa penyakit seserius itu bisa disembunyikan dengan mudah oleh Umma dan Afkar? Jujur, sampai sekarang hati Caca tidak bisa tenang.

"Umma mau susul abah boleh nggak?"

Angin semakin berembus dan matahari tertutup awan. Ditatap wajah Umma semakin sayu dan Caca tidak bisa menahan sedih. Matanya berkaca. Hatinya tersayat ketika kalimat itu keluar dari mulut Umma.

Apa itu artinya Umma sangat sakit selama ini?

"Kalau Umma susul abah, nanti abang, Tisya dan aku nggak ada siapa-siapa, dong? Emangnya Umma sesakit itu ya bertahan selama ini? Kenapa Umma harus tahan sendirian? Umma punya kami semua, kok. Ada kami semua di sini sama Umma. Nggak akan ke mana-mana."

Umma mengusap wajah Caca. "Di sini sepi, Sayang. Hati Umma sepi. Perasaan Umma hampa. Kosong."

Air mata Caca merembes keluar. Ia menggenggam lebih erat tangan Umma. "Umma pasti bisa sembuh. Aku yakin. Kita harus lakuin yang terbaik, kan?"

"Umma percaya Caca bisa jaga anak-anak Umma. Umma juga percaya kalau Caca anak yang baik, bahkan lebih baik apa yang Umma pikir. Umma titip abang dan Tisya ya, Sayang." Umma bertutur mengabaikan ucapan Caca tadi.

"Makasih karena Caca mau jadi bagian dari keluarga ini. Makasih karena udah mau menerima abang dengan segala kurang dan lebihnya. Makasih karena Caca udah kasih cinta dan kasih sayang buat abang."

"Caca dan abang nggak nunda punya anak, kan?"

Bila dilanjutkan, mungkin percakapan itu akan semakin membuat Caca tidak karuan.

Lantas, Caca menggeleng saja dan langsung mengajak Umma untuk memasuki rumah. Tanpa sadar di kepalanya menjadi berisik karena memikirkan perkataan Umma.

***

Update pertama di tahun 2023.

Cirebon, 19 Februari 2023

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 19, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Pelabuhan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang