13. Tentang Umma

559 116 15
                                        

Gak jadi sebulan, gak mager aja jadi update

***

Malam hari, ketika Tisya sudah tidur, sedangkan Afkar dan Caca duduk berdampingan sambil menonton tv, bunyi pecahan gelas dari dapur membuat mereka menoleh terkejut. Terlebih Afkar, lelaki itu langsung beranjak dan bergumam, "Umma ...."

Sore tadi, Umma memberi tahu Afkar jika tubuhnya benar-benar merasa tidak enak. Sakit itu hadir lagi dan hanya bisa disembunyikan. Afkar harap-harap cemas saat Umma memberi tahu lewat pesan yang langsung dihapus ketika selesai dibaca.

Kekhawatiran Afkar benar-benar memuncak malam ini. Dengan jantung yang berdegup cepat, ia berlari menuju dapur, diikuti Caca. Setibanya di dapur, kedua matanya membola. Umma di sana, terduduk di lantai sambil memegangi perutnya.

"Umma?!" pekik Afkar dan Caca bersamaan.

Umma terisak di tempatnya. Menutup mata, berharap sakit itu hilang, atau setidaknya mereda. Sungguh, ini benar-benar sakit. Penyakit itu menyiksa.

"Umma, kenapa? Apa yang sakit? Kenapa Umma nggak panggil aku?" Caca yang sudah berjongkok di samping Umma itu langsung menyerobot dengan pertanyaan yang membuatnya bingung, sekaligus ketakutan.

"Abang bawa Umma ke rumah sakit, ya?" Afkar menyelipkan tangan di belakang leher dan lutut Umma untuk digendong.

Umma membuka mata dengan wajah yang sudah basah karena air mata. "Bang ... sakit ...," rintihnya.

Afkar merasa matanya memanas. Melihat sang ibu yang merintih membuat hatinya nyeri, berdenyut merasakan kesakitan yang dirasakan Umma. "Iya, Abang tahu pasti sakit, tapi Umma harus bertahan, ya?"

Afkar menatap istrinya. "Sya, tolong ambil dompet sama kunci mobil di atas nakas. Ambil juga kerudung Umma, kamu juga jangan lupa pakai kerudung," titahnya pada Caca, langsung dipatuhi perempuan itu.

Meski khawatir dan bingung secara bersamaan, Caca menaiki tangga dengan cepat. Mengambil barang yang dibutuhkan tadi.

Tak sampai lima menit, Caca sudah kembali. Ia memakaikan kerudung di kepala Umma. Setelah selesai, ia beranjak. "Ayo, Bang."

Afkar menggendong Umma. "Tolong kunci pintunya, terus cepet bukain pintu mobil, Sya."

Dengan gerakan cepat, Caca mematuhi. Umma masih terisak di gendongan Afkar sambil merintih. Caca merasa sedih. Tak sadar jika air matanya hampir merembes keluar.

Afkar mendudukkan Umma di kursi belakang, ada Caca yang akan menemani. Caca menaruh kepala Umma di pahanya, lalu mengusap wajah Umma lembut. "Umma, jangan takut, ada aku sama Abang, Umma nggak akan kenapa-kenapa," ucapnya.

Afkar sempat melirik wajah perempuan itu, lalu menarik napas dalam-dalam, ia harus tenang. Kemudian melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Umma harus cepat-cepat mendapatkan pertolongan. Dirinya tidak mau Umma kenapa-kenapa.

***

"Minum dulu."

Caca menoleh, mendapati Afkar duduk di sampingnya sambil mengulurkan air mineral yang sudah terbuka. Ia menerima dan meneguknya hingga setengah. "Makasih, Abang," ucapnya.

Afkar mengambil alih air mineral itu, lalu meminumnya di tempat yang Caca minum tadi. Kemudian, menghela napas berat sambil menatap pintu kaca di depannya. Umma ada di dalam sana, masih ditangani oleh dokter.

Hening menerpa. Kekalutan mereka menyatu dengan ketakutan yang berbeda. Afkar takut jika kondisi Umma semakin parah, sedangkan Caca takut jika ada sesuatu yang terjadi pada Umma, padahal kenyataannya memang sudah begitu, sayang saja dirinya tidak tahu.

Pelabuhan HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang