Tak perlu rumah yang besar dan mewah. Cukup yang sederhana saja, asalkan aku mendapatkan kebahagiaan di dalamnya.
-Pelabuhan Hati-
Caca duduk di atas karpet bulu, menghadap pintu kaca penghubung antara balkon dan kamar. Suara hujan terdengar, bahkan rintiknya menabrak kaca, membuat embun datang. Lampu kamar sengaja dimatikan olehnya.
Ketika pintu kamar dibuka dan muncul Afkar sambil membawa satu mug berisi cokelat panas, Caca masih bergeming.
Laki-laki dengan setelan kaus pendek warna maroon dan celana selutut cream itu mengambil duduk tepat di samping Caca, setelah menaruh mug di tepian pintu kaca. Ia menatap perempuan di sampingnya yang hanya diam, memandangi hujan yang masih deras, padahal berlangsung selama lebih dari tiga puluh menit.
"Kenapa?" tanya Afkar setelah cukup lama ikut diam dan hanya memandangi paras istrinya.
Caca menggeleng pelan, tanpa menoleh.
Afkar berdeham, lalu menatap ke sekitar. Jujur, ia hanyalah laki-laki kaku yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berperilaku sangat manis pada perempuan. Dirinya masih sangat gugup tiap ingin melakukan kontak fisik pada perempuan di sampingnya ini.
Dulu, bisa saja ia memarahi atau bahkan bersikap tidak mengenakkan pada perempuan manapun, akan tetapi, saat ini keadaannya sudah berbeda. Dirinya sudah memiliki seorang perempuan yang menjadi tulang rusuknya. Perempuan yang harus dihargai dan dimuliakan sebagaimana ia melakukannya pada umma dan adiknya.
Jika ada yang mengatakan kalau perasaan bisa mengubah sikap seseorang, maka itu adalah sebuah kebenaran.
Raka dulu pernah mengatakan pada Afkar bahwa, sikap seseorang bisa dirubah, tapi tidak dengan sifatnya.
Sikapnya memang tidak mengenakkan dulu pada Caca, tapi tidak untuk satu bulan belakangan. Semaksimal mungkin, Afkar berusaha untuk memperbaiki sikapnya pada perempuan itu. Menghasilkan kesan baik yang tertanam dan bertumbuh dalam ingatan Caca.
Lalu, Afkar belajar bagaimana caranya untuk memperlakukan perempuan dengan semestinya. Tanpa merendahkan harga diri dan derajat istrinya.
Dan yang menjadi pedomannya untuk selalu bersikap baik pada Caca adalah ucapan dari umma.
"Kamu mungkin hanya tahu canda dan tawanya, tapi kamu nggak tahu gimana isi hatinya. Kamu juga nggak tahu persoalan apa yang sedang bertengkar dalam pikirannya. Dan, kamu juga nggak akan pernah tahu dia sedang merasakan apa dan baik-baik aja atau nggak, kalau kamu nggak mau mencoba untuk membuka mata dan hati.
Karakter yang ada dalam dirinya, itu dia buat sendiri. Semata-mata hanya untuk menyenangkan hati dan menjauhkan isi kepala dari ingatan luka."
"Bang, Umma tahu kamu sayang dan cinta sama Caca. Jadi, tolong ya, perlakukan dia selayaknya kamu memperlakukan Umma dan Tisya. Dia sama seperti kami, hatinya ada di tepian jurang, di mana kalau kamu salah tindak secuil pun, itu bisa membuatnya jatuh dan hancur berkeping-keping."
Dari sana, Afkar melihat jika perempuan memang manusia paling penipu sedunia. Entah berapa banyak topeng yang mereka pakai. Yang pasti, kecewa dan luka berhasil ditutupi rapat-rapat. Tanpa mementingkan diri sendiri.
"Aku di sini," ucap Afkar, berhasil membuat Caca menoleh padanya.
"Aku siap dengerin semua cerita yang mau kamu bagi, kayak kemarin."
Caca menatap iris itu dalam-dalam. Mencari tatapan tajam yang dulu selalu ditampakkan. Namun, nihil. Ia tak menemukan itu. Yang ada hanya tatapan lembut.
Bisakah Caca menceritakan apa yang ia rasa pada lelaki itu?
Perasaan yang selalu diberi jalan keluar untuk terus berdoa dan berdoa agar perasaan itu tersampaikan dan terobati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelabuhan Hati
RomanceMungkin, perlakuan saja tidak cukup untuk menunjukkan sebuah rasa yang begitu dalam. Ada kalanya lisan yang harus maju. Mengungkapkan pernyataan sederhana yang dinanti sejak awal. Namun, untuk beberapa orang-orang yang sulit mengungkapkan perasaan...
