14. Perasaan Itu

342 89 16
                                        

Tisya menepis tangan abangnya yang sedari tadi ingin memeluknya. Afkar berkali-kali menghela napas. Inilah hasilnya jika ia menutupi semua yang terjadi dengan umma kepada adiknya sendiri, bahkan Caca pun tak berhasil membujuk Tisya agar gadis itu tidak mendiaminya.

"Dek." Afkar menjauhkan tangan, lalu memanggil Tisya.

Tisya masih bungkam dengan tatapan terpusat pada sang ibu yang masih berbaring di atas brankar. Umma memang sempat sadar, namun setelah meminum obat, matanya kembali tertutup karena masih butuh banyak istirahat.

Tisya datang bersama Caca pagi-pagi, sementara Afkar memang menjaga Umma sendirian di rumah sakit. Afkar mengantar Caca pulang saat mereka takut jika Tisya terbangun malam hari dan mencari-cari keberadaan orang rumah.

"Ayo, makan dulu."

Tak gentar, Afkar mengusap kepala adiknya. Meskipun Tisya marah atau bahkan kecewa padanya, ia menerima. Wajar jika Tisya merasa begitu karena kesedihan dan juga ketakutan sedang mendekapnya.

Afkar pun sama, akan tetapi masih ada Tisya yang harus dijaga, dikuatkan, diyakinkan jika Umma akan melalui semua ini dengan baik.

"Mau makan masakan Umma." Empat kata, namun berhasil menusuk hati Afkar.

"Iya, nanti kalau Umma udah pulang ke rumah. Sekarang, Adek makan masakan Kak Arsya dulu. Masa udah dimasakin nggak mau makan?"

Tisya sontak menggeleng. Menaruh kepala di dekat genggaman tangannya dengan Umma.

Afkar menghela napas. Tisya belum makan apa pun dari bangun tidur, ketika Caca membawanya ke sini, gadis itu memang tak mau memakan apa pun, bahkan minum saja tidak mau. Yang dilakukan Tisya hanya duduk dan menggenggam tangan Umma. Sesekali mengelus dan menciumnya. Jangan lupakan juga air mata yang mengiringi.

"Abang suapin, mau?" Afkar berjongkok, kemudian mengusap punggung Tisya. Kali ini tidak ada penolakan dari gadis itu.

Mata Tisya berkaca-kaca. Ia menatap abangnya, kemudian berkata, "Kenapa rasanya hati aku sakit ya, Bang? Kayak ditusuk-tusuk. Sama sakitnya ketika ngelihat abah nggak bernapas lagi."

Afkar membiarkan gadis itu menangis. Ia sejujurnya lega karena Tisya bisa berkata jujur soal perasaan yang sedang dirasakan. Itu jauh lebih baik daripada diam, namun kesakitan itu hanya dipendam sendiri oleh adiknya.

Pintu kamar inap yang ditempati Umma terbuka. Muncul Caca dengan Azhar, Akbar, Esha dan Adel yang ada digendongannya. Afkar berdiri dan menyambut mereka.

"Gimana kondisi Umma kamu?" Akbar bertanya ketika Afkar mencium tangannya.

"Sejauh ini masih stabil, Mas, tapi masih perlu pengawasan khusus. Habis minum obat, Umma langsung istirahat lagi, mungkin bentar lagi juga bangun."

Mereka duduk di sofa. Adel meminta digendong oleh Afkar dan disambut oleh lelaki itu. Sementara Azhar berdiri di samping Tisya yang menatap kosong ke depan dengan posisi masih sama.

"Tisya, ada Azhar, nih," ucap Caca sambil mengusap bahu adik iparnya.

Azhar terus memperhatikan Tisya tanpa kedip. Melihat temannya menangis membuatnya ikut merasa sedih. "Jangan sedih, Ntis, nanti Ummanya ikut sedih," ujarnya.

"Kamu bilang gitu karena kamu nggak tahu rasanya jadi aku," kata Tisya dengan suara serak.

Mereka yang ada di sana menyimak interaksi dua anak yang beranjak remaja dalam diam. Kedekatan Azhar dan Tisya memang patut diacungi jempol. Meski kerap bertengkar, tapi selalu bisa menjadi sepasang teman yang baik.

"Pernah, kok, waktu Mami lahirin Adel. Mami juga sempet sakit. Papi diem-diem nangis, terus aku juga nangis. Tapi, nggak papa, kok, habis itu Mami sembuh. Bisa masakin makanan kesukaan aku lagi, bisa bangunin aku tidur kalau mau sekolah, bisa dijahili sama Papi juga," papar Azhar. Tidak tahu jika papinya sudah merasa malu karena kepergok menangis.

Pelabuhan HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang