💠 02 💠

5.5K 296 10
                                        

Arvin menatap foto-foto dengannya dengan Arvan yang terpajang indah di dinding kamarnya. Sungguh indah, namun tak seindah hidupnya. Arvin tersenyum kecut melihat koper yang akan dia bawa ke Indonesia. Tanah kelahirannya yang sudah ia tinggalkan sejak umurnya masih kecil. Dia masih ingat betul jika dulu Arvin sangat takut hewan-hewan. Termasuk katak yang membuatnya trauma hingga saat ini.

“ARVIN! CEPAT NAK! NANTI KAMU KETINGGALAN PESAWAT!” teriak Laras. Oma-nya yang sudah membesarkannya hingga saat ini.

Dengan cepat Arvin mengusap foto dirinya dan Arvan. “Gue akan jaga dia, buat lo. Hanya buat lo.”

Arvin mengusap wajahnya kasar. Lalu ia berjalan menuruni tangga tak lupa dengan jaket kebanggaannya. Semua teman-temannya sudah menunggunya di ruang tamu. Sesekali Arvin meringis melihat semua teman-temannya menangis seperti perempuan.

“Huaaa .... Lo beneran mau ke Indonesia?!” tanya Nazar. Anggota geng motor Arvin.

“Lebay lo, Arvin tinggal disana nggak akan lama. Iya kan? Kita semua pasti bakalan kumpul lagi. Kalaupun dia di Indonesia, kita nggak akan jatuh miskin karena nggak dapet traktiran dari si bos,” celetuk Apuy. Teman Arvin sekaligus temannya berkelahi.

Fita hanya menatap Arvin nanar. “Vin, lo akan balik lagi ke sini kan?”

Arvin mengangguk sambil menatap para teman-temannya datar. “Gue nggak akan lama disana. Lagipula gue kesana cuma buat memenuhi pesan kakak gue. Nggak mungkin gue menatap di Indonesia. Lagian di London tempat gue mengenal artinya hidup.”

Laras yang mendengarkan ucapan sang cucu pun terdiam sejenak. “Ayo Vin, kamu harus segera ke bandara. Kamu bisa ketinggalan pesawat kalau terus-terusan mengobrol, apalagi kamu harus mampir dulu ke rumah sakit.”

Arvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kalian ikut?”

Semua temannya mengangguk antusias. “Kita nggak mungkin nggak ikut,” celetuk Nazar yang di angguki semua anggotanya.

Arvin terdiam sesaat. Ia melihat-lihat rumah Oma dan Opa-nya yang akan dia tinggalkan. Banyak kenangan yang akan ditinggalkan oleh Arvin. Ia tersenyum mendapati teman-temannya yang akan dia tinggalkan dan seluruh kerabat geng motonya yang akan dia tinggalkan lama. DEROZSCAR. Itulah nama yang tepat untuk geng motor mereka.

Sebelum Arvin berangkat ke bandara. Ia berniat akan mengunjungi rumah sakit terlebih dahulu dimana kakaknya di rawat disana. Entah kenapa rasanya ia tidak tega meninggalkan seluruh keluarganya yang berada di London. Jujur saja Arvin sudah sangat nyaman di kota itu, berbeda dengan di Indonesia yang tak pernah Arvin rasakan. Kecuali dirinya yang masih balita.

“Kak. Gue kesini mau pamit sama lo, gue akan penuhi janji gue dan menemui titipan lo, do'ain gue supaya perjalanan ke Indonesia lancar. Gue sayang sama lo kak. Gue pamit,” ucap Arvin mengenggam tangan Arvan yang terasa dingin.

Arvin menghela nafas panjang. Tidak tega melihat banyak alat medis yang dipasang di sekujur tubuhnya. Apalagi kemarin mendengar Dokter yang menanganinya bilang Arvan meninggal. Jujur saja hatinya sangat sakit, dan dia merasakan ada yang hilang dari tubuhnya. “Lo kelihatan kurus hiks ...”

“Vin, udah. Kita nggak punya butuh waktu banyak,” ucap Fita mengingatkan, jujur saja Fita ingin tertawa melihat Arvin yang menangis seperti anak kecil.

Arvin mengangguk. Meninggalkan ruang rawat Arvan dengan hati yang gelisah. Meskipun dia masih bersyukur karena kakaknya masih bisa bertahan walaupun badannya masih lemas dan jantungnya melemah. “Diamana Ayah, Bunda, Oma dan Opa?”

Fita tersenyum sekilas. “Mereka ada di mobil. Mungkin mereka akan anterin lo sampai bandara. Tapi kalau Tante Dira nggak tau, kayaknya dia akan ikut sama lo ke Indonesia.”

Arvin menganggukkan kepalanya. Sebelum memasuki mobilnya ia menatap ruang rawat kakaknya nanar. Begitu sakit jika ia mendengar jeritan kakaknya saat menahan sakitnya saat menjalani pengobatan terus-menerus.

“Jangan melamun terus, ayo naik Vin,” ucap Dira menyadarkan putranya agar tidak melamun terus-menerus. Meraka pun masuk ke dalam mobil dalam keadaan hening.

“Iya Bund.”

▦᰷᰷ᰰೈ⦂❒ VOTE ❒⦂ೈ▨ᰰ᰷


Sandra sudah diperbolehkan pulang sejak kemarin malam. Namun ucapan Mamahnya selalu teriang-iang di kepalanya. Ia masih tidak percaya kalau kekasihnya meninggal begitu saja. Bahkan Mamahnya pun tidak memberitahu dimana letak pemakaman kekasihnya berada.

“Besok gue mau sekolah,” ucap Sandra memainkan handphonenya.

Naumi yang mendengar itupun segera menoleh. “Jangan dulu deh. Gue takut lo kenapa-napa. Istirahat dulu aja Sand.”

Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gue akan tetep sekolah. Lagian gue udah sehat. Nggak perlu lo kasihani gue seakan-akan gue orang lumpuh.”

Naumi menghela nafas panjang. “Ya udah deh, terserah lo aja. Tapi gue ingetin, jangan sampai lo kepikiran Arvan lagi.”

Sandra terdiam mematung. Hatinya sangat sakit mendengar Naumi yang mengingat nama kekasihnya. Jujur saja Sandra sudah lelah menangis. Jadi dia hanya bisa diam tidak membalas ucapan Naumi.

“Gue pulang dulu ya Sand, inget. Jaga pola makan lo, gue besok kesini buat jemput lo sekolah. Jangan lupa bawa obat,” ucap Naumi memperingati.

Sandra hanya menjawabnya dengan anggukan saja. Lalu Naumi berjalan keluar kamar Sandra meninggalkan gadis itu terbaring lemah di atas ranjangnya.

Namun Sandra tidak benar-benar tertidur. Ia bangkit dari tidurnya melihat rumah yang berada di hadapannya itu terasa sepi dan sunyi. Sandra tau kalau semua keluarga di rumah itu tidak ada yang menempati.

Namun kitabnya pemikiran Sandra salah. Rumah itu ada yang menempati namun hanya Arlina. Adik kekasihnya, bukan Arvan yang berada di dalam benaknya.

Apa benar Arvan sudah meninggal? Tapi kenapa aku merasa Arvan masih hidup? Sebenarnya dimana kamu Ar, aku kangen sama kamu.

▦᰷᰷ᰰೈ⦂❒ TBC ❒⦂ೈ▨

ARVIN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang