💠 29 💠

2.7K 143 1
                                        

Arvin mengacak rambutnya frustasi, malam-malam buta seperti ini, Sandra ingin memakan buah mangga, dengan alasan anaknya yang mau. Arvan beberapa kali menolak, namun Sandra malam menangis sesenggukan. Dan itu membuat Arvin semakin tidak tega dengannya.

“Ini udah malam Sand, aku nggak bisa nurutin kemauan kamu malam-malam kayak gini,” ketus Arvin masih fokus dengan laptopnya.

Sandra menundukkan kepalanya, ia meremas ujung bajunya dengan keringat yang membasahi pipinya. Tangannya kini mengelus-elus perutnya yang buncit. “Kamu yang sabar ya nak, Papa lagi kerja. Kamu nggak boleh nyusahin Papa, kasian dia.”

Sandra mencoba untuk mebaringkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya. Ia sudah capek merengek kepada Arvin untuk mencari buah mangga pada malam hari seperti ini. Namun nyatanya lelaki itu tampak tidak peduli sama sekali.

Arvin meletakkan laptopnya di meja tempat kerjanya. Lalu ia berjalan mendekati Sandra yang tertidur di ranjangnya sambil menyatukan alisnya seperti menahan sesuatu. Arvin mencium perut buncit Sandra dengan sayang.

“Maaf Sand, aku nggak bisa nerima kamu, tapi aku akan mencoba belajar untuk mencintai kamu mulai saat ini. Maaf untuk hari ini dan hari-hari sebelumnya, seharusnya aku menjalani kewajibanku sebagai suami yang benar ... Maaf,” lirih Arvin memeluk tubuh istrinya dan ikut Sandra ke dalam mimpinya.

******

Pagi harinya Fita dan Azhar berjalan beriringan. Mereka ingin mengunjungi rumah Azhar yang berada di Jakarta. Lebih tepatnya rumah orang tua Azhar, dari kemarin Azhar tidak enak karena menginap di rumah Fita. Dan sebagai maafnya, kini Azhar membawa Fita kerumahnya sekalian liburan disana.

“Apa hari ini ada jadwal?” tanya Azhar kepada Fita yang masih sibuk memainkan handponenya.

Fita menutup layar handphonenya lalu menatap Azhar sambil tersenyum. “Tidak. Sama sekali tidak.”

Azhar mengangguk. “Oke lah, bagus kalau begitu. Aku mau mengajakmu ke pantai, apa kamu mau Fit?”

“Tentu, sepertinya aku juga ingin liburan. Untuk menghilangkan beban pikiranku,” ucapnya santai.

Tak lama kemudian mereka sampai di rumah yang mereka tuju. Rumah kedua orang tua Azhar biasa-biasa saja. Berbeda jauh dengan keluarga Mixcel yang indah dan megah. Meskipun Azhar adalah seorang aktor terkenal, tetapi lelaki itu tidak pernah mengenalkan keluarganya ke medsos ataupun yang lainnya.

“Bener ini rumah kamu?” tanya Fita tampak ragu dengan bangunan yang berada di hadapannya.

Azhar menganggukkan kepalanya malu. “I-iya, maaf rumahnya tidak sebanding dengan rumahmu. Maklum, pekerjaan Papahku hanya seorang karyawan biasa, sedangkan Mamahku hanya seorang ibu rumah tangga.”

Fita mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sudah tau akan hal itu. Memang keluarga Azhar berbeda jauh dengan keluarganya. Namun tidak sepatutnya mereka tidak saling mengenal bukan?

Keduanya berjalan memasuki bangunan sederhana tersebut. Langkah Fita tiba-tiba berhenti, kakinya tiba-tiba lemas untuk berjalan. Matanya kini memanas menahan tangis. Dihadapannya terlihat dua orang paruh baya sedang tertawa lepas. Namun yang membuat hati Fita sakit adalah mereka ....

Papa ...

Tente Elizabeth ...

Azhar memegangi pundak Fita agar perempuan itu tersadar dari lamunannya. Fita menoleh sambil menghapus air matanya yang keluar begitu saja.

“Kamu baik-baik saja kan?” tanya Azhar khawatir.

Fita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tidak percaya kalau orang tua Azhar adalah orang tuanya juga. Ia sangat yakin kalau Papahnya adalah dia, wajahnya tidak berubah, dan tentu saja Fita sangat mengenal dua orang itu. Dan kemungkinan besar Azhar adalah saudara tirinya.

ARVIN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang