💠 06 💠

3.7K 212 10
                                        

Arvin masih tersenyum kaku. Lalu Alicia membukakan pintu rumahnya lebar-lebar sambil berkata. “Ayo masuk Van, Sandra masih di kamarnya. Kamu kesana aja.”

Arvin meneguk salivanya kasar. Bagaimana ini? Ia tidak tahu harus bersikap apa lagi kepada kekasih kakaknya itu. “Ohh iya Tan ehhh Mah, Arvan ke atas dulu.”

Alicia menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa Arvan yang sekarang berbeda dengan Arvan yang dulu. Namun Alicia bersyukur karena gosip mengenai Arvan meninggal itu adalah salah.

Arvin berjalan menaiki tangga dengan langkah kaki gemetaran. Jujur saja ia gugup untuk bertemu dengan Sandra. Padahal kemarin Arvin sudah latihan agar bersikap biasa saja dengan Sandra.

Tok.

Tok.

Arvin mengepalkan tangannya. “Duhh gimana ya? Masa gue langsung masuk aja. Kan nggak enak.”

Sudah lama menunggu Sandra di depan pintu kamarnya. Akhirnya Arvin pun membukakan pintu gadis itu. Terserah dia akan mendapatkan amukan dari gadis itu, karena yang terpenting sekarang adalah sekolah.

Ceklek.

“Sand------.”

Cup.

“Pagi sayang!” seru Sandra mencium bibir Arvin membuat laki-laki mematung di tempat.

Sandra sengaja tidak membuka pintu kamarnya agar Arvin sendiri yang membukakannya. Sandra melambai-lambaikan tangannya berharap Arvin tersadar dari lamunannya.

“Ar----.”

“LO!” Tunjuk Arvin mengepalkan tangannya. Bersiap untuk menonjok gadis itu. Namun saat Arvin ingin melayangkan tangannya ke udara. Perkataan Arvan tiba-tiba melintas di otaknya.

G-gue t-titip Sandra!

Sandra memejamkan matanya takut. Sedangkan Arvin masih mematung di tempat. Tangannya terulur untuk memegangi kepala Sandra. Mengacak rambutnya dengan lembut.

“Nakal banget sih kamu,” ucapnya berusaha menutupi kecanggungannya.

Sandra membuka matanya lalu tersenyum senang. Tanpa meminta izin dari Arvin, Sandra memeluk tubuhnya erat. “Kenapa nggak bilang kalau kamu jemput?”

“Kan kejutan sayang,” ucapnya datar.

Sandra mendongakkan kepalanya. Membenarkan rambut Arvin. “Kapan kamu potong rambut. Kapan lagi kamu pake tato?”

Arvin tiba-tiba gelagapan. Ia kehabisan kata-kata? Ohh pasti, inilah yang Arvin takutkan. Arvin tidak bisa menjawab dengan perkataan yang Sandra lontarkan. Namun Arvin akan mencari cara untuk menyembunyikan dirinya dari siapapun termasuk keluarganya.

“I-ini.” Tunjuk Arvin kepada lehernya. “Emmmm cuma iseng aja, kok.” Lanjutnya merangkul pundak Sandra.

Arvin menengok jam yang berada di kamar Sandra. “Udah siang, sekolah yuk.”

Sandra mengangguk antusias. Saat mereka menuruni tangga Sandra melirik ke arah Arvin sebentar. Alicia sudah tidak ada di rumah, berarti Mamahnya itu sudah berangkat bekerja. Sedangkan Alex, Papahnya Sandra masih berada di Spanyol untuk bisnisnya yang sedang berkembang.

“Van, kenapa kemarin kamu tampar aku? Apa kamu lupa sama aku?”

Deg.

Spontan Arvin menghentikan langkahnya. “Gue tuh---- ehh aku lupa ... ya, lupa sama kamu karena udah lama nggak ketemu,” ucapnya gelagapan.

Sandra mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Arvin seakan-akan susah untuk menjawab pertanyaannya, dan lebih anehnya lagi, Arvan tidak memakai lo-gue. Tapi Arvan yang ini seakan-akan kaku dengan kata aku-kamu. Aneh!

ARVIN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang