Fita menangis sejadi-jadinya di toilet khusus perempuan. Banyak siswi-siswi yang berbisik-bisik mengenai dirinya. Namun Fita tidak menghiraukan itu semua karena sekarang moodnya sedang hancur.
“Kenapa? Kenapa lo jadi cuekin gue kayak gini Vin ... Gue cuma butuh kasih sayang dari kedua orang tua, itu aja ... Kenapa lo sampe marah-marah kayak tadi hiks ... Apa perkataan Papah dulu benar, aku memang anak pembawa sial?” tanyanya pada dirinya sendiri sambil menatap wajahnya di cermin toilet, ditemani air mata yang mengalir deras di pelupuk matanya.
Fita tersenyum kecut saat mengingat kejadian dulu, saat dirinya kehilangan kedua orang tuanya, serta kakak satu-satunya yang menjadi alasan Fita untuk hidup di dunia ini dengan raga yang masih utuh.
FLASBACK ON.
“PERGI KAMU ANAK SIALAN!” bentak Haris-- Papah Fita.
Fita kecil terduduk lemas di bawah ranjang kamar Papah dan Mamah tirinya. Ibunya sudah lama berpisah dengan Papahnya. Sedangkan Haris menikah lagi dengan seorang jalang yang dia bawa dari club malam.
Diusianya yang masih kecil seperti ini Fita harus menyaksikan adegan dewasa yang harusnya tidak dilihat olehnya. Fita dipaksa oleh Haris agar pergi dari kamarnya karena mengganggu aktifitasnya. Tetapi wanita yang kini berada di pangkuan Haris menggelengkan kepalanya.
“Biarkan dia melihat kita sayang. Lagi pula anak sekecil itu tidak akan tahu apa yang sedang kita lakukan sekarang,” ucap wanita itu mencium bibir Haris di depan mata Fita.
Haris yang sudah terlena dengan wanitanya pun meniduri wanita itu tanpa menghiraukan tangisan Fita yang kian mengencang. Saat Fita ingin mengambil sesuatu dari saku celananya, tiba-tiba Reno--- kakak kandungnya menarik adiknya keluar dari kamar.
Fita tersenyum melihat kakaknya yang terlihat babak belur. Mungkin kakaknya sudah bekerja keras diluaran sana. Fita yakin itu, karena Reno sudah memberitahunya, kalau tubuhnya luka-luka berarti dia sudah bekerja keras untuk adik satunya.
“Kak, muka kakak luka lagi?” tanya Fita mengusap wajah kakaknya dengan lembut.
Reno menggelengkan kepalanya. “Kakak nggak papa. Kamu ke kamar gih, ini udah malem banget.”
Fita mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi sama kakak ... Ayok! Kita bobok bareng.”
Reno mengacak rambut coklat Fita gemas, lalu menggendong adiknya ke kamarnya yang seperti gudang tidak layak dipakai. Meskipun begitu Reno sangat bahagia dan bersyukur karena masih bisa tidur walaupun dengan keadaan yang menyedihkan.
Reno terbilang anak yang pintar dan pembangkang, namun Reno masih tau batasan. Umur Reno sudah menginjak 17 tahun, sedangkan Fita baru saja 10 tahun.
“kenapa kakak selalu merokok terus sih, bukannya Mamah udah larang kakak untuk berhenti merokok ya?” Tangan Fita mengambil sepuntung rokok yang berada di mulut Reno.
“Kamu nggak usah dengerin kata-kata Mamah, dia pembohong. Katanya Mamah nggak akan ninggalin kita, tapi sampai sekarang, dia malah ninggalin kita sama cowok lain. Dan malah buang kita ke Papah yang jahat,” ucap Reno membaringkan tubuhnya di lantai yang penuh dengan debu.
Fita membersihkan lantainya menggunakan tangan kecilnya. Lalu membawa kardus bekas dari pojok ruangan untuk dijadikan bantal. Sedangkan tubuh kakaknya, ia jadikan sebagai selimut agar badannya menghangat.
Dengan senang hati Reno memeluk tubuh adiknya erat. Tetapi entah apa yang Reno rasakan saat ini, tiba-tiba badannya terasa nyeri dan dadanya terasa sesak.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Novela JuvenilArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)