Arvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Kalau saja Sandra tau ini adalah Arvin adik kembarnya. Maka pastinya Sandra akan membencinya dalam sekejap. Padahal Arvin belum kenal dekat dengan calon kakak iparnya itu.
“K-kamu apa-apaan sih, aku Arvan. Pacar kamu sekaligus suami untukmu kelak,” ujar Arvin mencoba menetralkan rasa gugupnya.
Sandra merasakan pipinya mulai memanas hanya karena kata-kata manis dari Arvan. Ia segera menjauhkan wajahnya dari wajah Arvan. “Ya udah jalan lagi sana. Jangan lihatin aku kayak gitu.”
Arvin terkekeh kecil. Lalu ia pun menjalankan mobilnya kembali dengan keadaan hening. Arvin meneguk salivanya kasar, entah jalanan mana yang harus Arvin lewati sekarang.
“Emmm Sand, kamu tau jalan ke arah danau itu jalanan mana? Aku lupa,” ucap Arvin menoleh ke arah Sandra yang sedang kebingungan melihatnya.
“Kamu nggak-----.”
“Hah sampe!” gertak Arvin bahagia saat dirinya sudah sampai ke danau yang dimaksud oleh Sandra tadi.
“Kata kamu tadi lupa, tapi kenapa sekarang udah sampai? Aneh,” gumam Sandra namun masih bisa terdengar jelas oleh kedua telinga Arvin.
“Rahasia,” jawab Arvin menaik turunkan alisnya.
Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Arvin yang sedikit aneh itu. Arvin mengenggam jangan Sandra agar gadis itu tidak curiga lagi kepadanya. Ia mencoba membawa gadis itu ke tengah-tengah danau yang indah.
Mereka berdua sama-sama memandang danau yang sama. Sesekali Sandra melirik ke arah Arvin yang begitu fokus melihat seisi danau.
“Van, kamu mau naik perahu nggak?” tanya Sandra menunjuk-nunjuk perahu yang berada di sisi danau.
Arvin tersenyum sambil mengacak rambut Sandra gemas. “Kalau kamu maksa aku mau, kalau nggak. Ya udah jangan.”
Sandra mengerucutkan bibirnya kesal. “Ihhh kok gitu?”
Arvin menyengir kuda. Ia menarik tangan Sandra menuju perahu yang tadi ditunjukannya. “Ayo princess.”
Lagi dan lagi pipi Sandra kembali memanas. Jantungnya berdegup kencang saat diperlakukan manis oleh pacarnya itu. Padahal ini bukan hal yang pertama kalinya. Tetapi menurut Sandra ini akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupnya.
▦᰷᰷ᰰೈ⦂❒ VOTE ❒⦂ೈ▨
Sesudah bermain di danau. Arvin dan Sandra langsung pulang ke rumah masing-masing. Arvin melangkahkan kakinya memasuki kediaman Mixcel dengan hati yang berbunga-bunga. Entah kenapa ia mulai merasa nyaman dengan Sandra yang notabenenya pacar kakaknya.
“Kamu jangan melewati batasan. Sandra adalah titipan dari Arvan. Kamu nggak ada hak untuk mempunyai perasaan lebih untuknya, atau nanti kamu sendiri yang akan merasa sakit,” celetuk Galuh menyadarkan lamunan Arvin yang tengah berjalan melewati ruang tamu.
Arvin menggaruk-garuk kepalanya tidak mengerti. “Ehh Ayah. Kapan pulang? Kok nggak ngabarin Arvin sih?”
Galuh beranjak dari duduknya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Itu tidak penting Vin. Yang terpenting sekarang adalah kamu. Kenapa tadi Ayah lihat kamu terus saja tersenyum sambil memperhatikan Sandra yang tengah masuk ke dalam rumahnya.”
Arvin gelagapan. Arvin menganggap kalau dirinya sudah ketahuan basah oleh Ayahnya sendiri. “A-arvin cuma lihat dia doang. Udah ahh, Arvin capek. Pengen tidur.”
Galuh menggelengkan kepalanya melihat tingkah Arvin yang seperti itu. Sekarang Galuh merasa resah dengan kehadiran Arvin yang berada di Indonesia. Siapa yang tidak khawatir kalau kedua anaknya mempunyai perasaan kepada satu perempuan saja. Tetapi Galuh segera menjauhkan pikiran buruknya itu.
Arvin sudah berjanji tidak akan terpesona dengan Sandra. Semoga saja Arvin tidak mempunyai untuk pacar Arvan. Kalau sampai itu terjadi maka kemungkinan besar keluarga kita akan renggang ... Tidak. Itu semua tidak akan terjadi- batin Galuh.
Sedangkan Arvin yang sudah berada di kamarnya mengacak rambutnya frustasi. Entah kenapa ia merasa senang dan nyaman bersama Sandra. Tetapi Ayahnya benar, ia tidak boleh melewati batasannya. Tujuan Arvin ke sana hanya untuk menjaga Sandra untuk Arvan. Bukan untuk dirinya.
“Aghhhh kenapa harus gue! Kenapa nggak kak Alvin aja aghhnh!” teriak Arvin frustasi.
Bugh.
Arvin memukul dinding yang berada di kamarnya. “Gue nggak boleh suka sama dia. Sandra milik Arvan. Bukan milik gue!”
Arvin memejamkan matanya mencoba menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang dari biasanya.
Saat Arvin ingin membuka handphonenya. Tiba-tiba ada seseorang yang melemparkan batu hingga mengenai jendela kamarnya. Spontan Arvin langsung membuka jendelanya dan kaget melihat Sandra yang melambaikan tangannya ke udara.
Drrrtttt drrrtttt ....
Arvin tersentak kaget saat ada seseorang yang menelponnya. Arvin segera mengangkatnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Sandra.
“Hal-----.”
H-halo g-ue a-arvan----
Arvin melebarkan matanya kaget. Apa itu benar Arvan? Tapi kenapa suaranya sangat lemah seperti itu? Apa Arvan baik-baik saja disana?
Banyak sekali pertanyaan yang ingin Arvin tanyakan. Namun sepertinya Arvan akan sebentar menghubunginya saat ini.
G-gimana keadaan Sandra?
Saat dirinya masih terbaring lemah di rumah sakit pun. Arvan masih sempat-sempatnya mengingat pacarnya itu, apa segitu cintanya dia sama Sandra?
“Sandra baik-baik aja. Lo gimana keadaannya? Udah sehat?”
B-belum tap------
Tuttt tutttt .....
Belum saja Arvan melanjutkan ucapannya. Sambungan teleponnya harus terputus karena sinyalnya yang jelek. Arvin menatap nanar layar ponselnya.
“Semoga cepet sembuh kak. Gue nggak bisa lama-lama jaga Sandra. Gue takut kemakan air ludah sendiri,” gumam Arvin tersebut ke arah kamar Sandra yang tampak sepi itu.
Kenapa jantung gue selalu nggak tenang kalau deket sama Sandra? Apa gue .... Nggak mungkin!
▦᰷᰷ᰰೈ⦂❒ TBC ❒⦂ೈ▨
Jangan lupa vote and coment ya.
Maksh sudah mampir🙂
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Teen FictionArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)