3 tahun kemudian.
Tidak terasa kini usia Valdesta sudah menginjak tiga tahun. Fita tersenyum kala melihat anaknya dengan lincah berlari ke arahnya. Valdesta baru saja bisa berjalan bulan lalu, dan Fita sangat senang akan hal itu.
Arvin juga kini sudah berubah. Dia semakin peduli kepada keluarganya meskipun dengan sikap yang dingin. Fita tersenyum saat merasakan hembusan nafas Arvin yang menerpa leher jenjangnya.
Arvin tengah menciumi leher Fita, bahkan dengan gemas ia menggigitnya kecil. “Fit, maafin aku waktu dulu. Maaf karena aku nggak bisa jadi Ayah yang baik untuk Valdesta. Maaf untuk segela-galanya. Waktu itu aku sangat bersalah karena kematian Sandra. Dan maaf karena kamu selalu mengurusi anak aku sendirian.”
Mereka berdua sedang berada di pantai bersama Valdesta yang bermain pasir di hamparan air laut. Fita menatap Valdesta sekilas. Lalu beralih menatap suaminya dengan tatapan lekat.
“Aku sudah memaafkan kamu sejak lama. Lagi pula aku juga sadar, aku hanya pengganti untuk kalian. Aku paham,” lirih Fita meraba-raba pipi suaminya.
Arvin mengenggam tangan Fita yang masih berada di pipinya. Ia mengecupnya lama, lalu mengecup kening Fita lembut. Tatapan mereka beralih kepada Valdesta.
“Nggak kerasa, kita udah nikah tiga tahun, tapi kita tidak melakukan hubungan suami istri pada umumnya,” gumam Arvin merangkul pundak istrinya, menyandarkan kepala Fita ke bahunya.
Fita tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya itu. “Aku paham kondisi kamu saat itu dan kini. Aku nggak maksa kamu buat memperlakukan aku sebagai istri kamu, toh nanti juga kamu akan balik ke pelukan aku.”
Arvin terkekeh mendengarnya. Fita terlalu percaya diri akan hal itu. “Itu menurutmu, tapi menurut aku nggak begitu.”
Satu alis Fita terangkat. “Lalu apa?”
Arvin tidak menjawab. Ia hanya membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Sedangkan dari kejauhan Valdesta melihat kedua orang tuanya yang menatapnya lembut.
Valdesta berlari ke arah mereka. Memeluk erat. “Mama ... nyo kia uang,” ucap Valdesta dengan suara cadelnya.
Arvin mengacak rambut Valdesta gemas. “Ya sudah, ayo kita pulang.”
Fita tersenyum melihat interaksi keduanya. Arvin menggendong tubuh mungil Valdesta kedalam pelukannya. Tangan Fita di genggam olehnya. Sedangkan tangan yang satunya lagi, ia menggendong Valdesta. Mereka berjalan beriringan dengan hati yang berbunga-bunga.
*******
Arvin terdiam memandangi wajah Fita yang tertidur di ranjangnya. Sangat damai dan tenang, Arvin memeluknya erat, bahkan tangannya dengan nakal membuka kancing atas baju Fita tanpa dirasakan istrinya sama sekali.
Valdesta sore-sore seperti ini masih bermain di luar, jadi Arvin leluasa untuk menyentuh Fita sepuasnya. Apalagi melihat Fita yang tertidur pulas seperti itu. Arvin menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantiknya.
“Kamu sempurna Fit, maka nggak heran kalau kamu diminta untuk menjadi aktris lagi. Kamu terlalu cantik Fita,” gumam Arvin menyembunyikan wajahnya di dada Fita yang terbuka.
Karena tidurnya terusik, akhirnya Fita membuka matanya secara perlahan. “Euhhhh.”
Arvin langsung berdiri sambil berjalan menjauhi Fita. “Sudah bangun?”
Fita mengucek-ngucekan matanya. “Hmmm. Udah sore ya? Aku mau mandi dulu, Valdes dimana?”
Arvin menoleh ke arah Fita. Ia terlihat sexy saat sudah bangun tidur, apalagi rambutnya yang acak-acakan seperti itu, membuat gairah Arvin muncul seketika. “Main, diluar. Bersama Alena, tetangga baru kita.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
JugendliteraturArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)