💠 12 💠

2.8K 162 1
                                        

Sandra dan Arvin menatap bintang yang sama. Mungkin hanya Sandra yang bahagia disini, karena sedari tadi Arvin terus saja menggeser tubuhnya tidak nyaman. Bukan karena alergi atau apapun. Tapi Arvin sangat gugup jika terus bersentuhan dengan tubuh Sandra.

“Van, kamu kenapa sih. Kok tegang gitu?” tanya Sandra menatap Arvin yang terlihat gelisah.

Arvin menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tersenyum kaku, lalu menatap bintang yang berada di langit kembali. “Bintangnya indah, sama seperti kamu.”

Sandra mengerutkan keningnya. “Belajar gombal dari mana sih kamu?”

Arvin menggaruk-garuk kepalanya. “Bukan gombal, itu memang kenyataan. Kamu itu indah, nggak jauh beda sama bintang yang ada di atas sana. Terus bersinar memancarkan keindahan malam.”

Sandra melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Tanpa memberitahu Arvin terlebih dahulu, Sandra sudah memeluk tubuh Arvin erat. Bahkan Sandra mengecup pipi Arvin bertubi-tubi karena saking bahagianya.

“Makasih udah bikin aku bahagia terus, tetap seperti Van. Aku suka,” ujar Sandra menyandarkan kepalanya di dada bidang Arvin.

Degup jantung keduanya saling berdetak kencang. Arvin mengepalkan tangannya sambil memejamkan mata. Ia tidak boleh suka kepada calon kakak iparnya sendiri. Namun mau bagaimana lagi, jika hatinya berkata lain.

Tangan yang tadinya terkepal, sekarang beralih ke arah kepala Sandra. Arvin mengelus-elus kepala Sandra dengan tangan yang bergetar.

“Aku akan berusaha untuk jadi yang terbaik dimana kamu,” ujar Arvin tanpa sadar.

Sandra tersenyum senang. Keduanya sama-sama melihat langit yang sama. Sandra menguap ketika Arvin menghentikan usapannya. Karena mengantuk akhirnya Sandra tertidur di bahu Arvin. Sedangkan lelaki itu terus saja menghitung bintang.

“Satu ... Dua ... Tiga, dan pada hari itu juga, mungkin aku akan pergi ninggalin kamu. Untuk selama-lamanya,” lirih Arvin menghentikan telunjuknya, tepat di bintang yang kian menghilang.

Arvin tersenyum kecut. Ucapannya mungkin akan terjadi dimasa yang akan mendatang, Arvin menengok ke arah Sandra.

“Yehh malah tidur nih anak,” gumam Arvin menggelengkan kepalanya.

Arvin membopong tubuh Sandra ke arah ranjangnya. Mungkin sekarang Arvin harus terbiasa dengan kegiatan seperti ini, tidur di sofa dan menemani Sandra hingga terlelap di pelukannya.

Arvin mengambilkan selimut tebal untuk Sandra. Awalnya Arvin ingin membawa Sandra kerumahnya. Namun sepertinya hari sudah malam, dan mungkin orang tuanya akan terganggu karena kedatangannya.

Saat Arvin berjongkok. Tiba-tiba Sandra menarik tangan Arvin sehingga lelaki itu terjatuh di atasnya. Arvin menatap Sandra lekat, detak jantungnya berdegup kencang.

Ada apa ini? Nggak .... Nggak mungkin gue ada rasa sama Sandra. Ini nggak bisa dibiarin!

Arvin mendorong tubuhnya hingga terbentur ke dinding kamarnya. Tangan yang tadinya terkepal sekarang memegangi dadanya yang kembali berdetak. “Nggak mungkin gue jatuh cinta, kan?”

******

Pagi-pagi seperti ini, Arvin sudah stay di lapangan. Apalagi kalau bukan bertanding basket dengan kelas sebelah. Sandra tersenyum gembira karena Arvin terus saja menang dan menang.

“SEMANGAT VAN!” teriak Sandra melambai-lambaikan tangannya ke udara.

Arvin tersenyum tipis, lalu melanjutkan permainannya tanpa mendengarkan support dari para teman-temannya. Naumi dan Robi saling pandang. Mereka bingung dengan tingkah Sandra yang menjadi centil seperti ini.

ARVIN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang