Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangan yang tadinya teduh pun menghilang begitu saja. Sandra menatap Fita dari atas sampai bawah, Fita terlihat cantik dan mempunyai kriteria mempesona, dan mungkin juga Sandra akan menilai kalau Fita adalah tomboy. Sudah jelas dengan keluarnya yang bar-bar, serta pakaiannya yang urakan.
“Sayang, jauh-jauh dari dia. Aku nggak mau kamu kena virus Corona,” celetuk Arvin membuyarkan lamunan Sandra terhadap Fita
“Sialan lo Van, lo kira gue virus hah!” bentak Fita bersandiwara. Ia sudah tahu dari lama kalau Arvin memang menggantikan perannya sebagai kakaknya yaitu Arvan. Dan Fita akan menuruti semua ucapan Arvin seakan-akan kalau itu semua benar. Padahal nyatanya semua perkataan Arvin hanyalah rekayasa saja.
Fita berjalan ke arah Arvin. Lalu menendang kakinya agar lelaki itu tidak berdaya di hadapan pacar bohongannya.
Duk.
“Lo kenapa tendang gue?” tanya Arvin tidak berdosanya.
“Mikir pake otak, jangan pake otak-otak makanya,” ketus Fita membuat Sandra yang melihat itupun mampu membuatnya menahan tawa agar tidak pecah dihadapan Arvin.
“Minggir lo, gue mau jalan dulu sama pacar gue. Ayok yang,” ajak Arvin menarik tangan Sandra keluar dari kamarnya.
Fita mendengus sebal. Ia berlari dan berhenti di atas tangga. Sandra dan Arvin saling pandang. “Ekhemmm, halo Sandra. Aku Fita, temen Arvan sekaligus ahhh apa ya?
Fita nampak berpikir kalau dia siapanya Arvin. “Aghh pokoknya itu aja. Gue baru pulang dari London. Niat gue kesini cuma mau nemuin dia, jadi gue mohon sama lo. Sekali ini aja, pinjem pacar lo ya.”
Sandra menatap Fita aneh. “Lah, kok.”
“Nggak! Apa-apaan sih, gue mau jalan sama Sandra. Lo bae-bae aja di rumah gue, nggak usah pake acara pinjam-meminjaman,” sarkas Arvin menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Ak-----.”
“ARVIN! AJAK FITA MAIN SAMA KAMU! JANGAN KAMU TINGGALIN DIA SENDIRIAN!BUNDA MAU ARISAN DULU!” teriak Dira dari arah dapur membuat Fita bersorak gembira.
Tetapi berbeda dengan Arvin yang menggerutuki Bundanya. Sedangkan Sandra hanya bisa pasrah di situasi seperti ini. Nggak ada cara lain selain ikut mereka dan diam memperhatikan pembicaraan omong kosong dari keduanya.
******
“Ihhh bagus banget bonekanya.”
“Waw gue baru lihat wahana kayak gini.”
“Aghhhh gila! Gue baru kali ini lihat Monas tingginya kayak menara Eiffel!”
Arvin dan Sandra hanya bisa diam saja. Jujur sama mereka berdua sangat jengah dengan tingkah Fita yang kekanak-kanakan. Tetapi menurut Arvin ini hal yang biasa. Karena dulu ia pernah mengajak Fita bermain dan berakhir dengan membawa belanjaan anak-anak satu mobil penuh.
“Van! Ayo kita beli bakso! Beli ciki! Beli martabak. Uhhh pasti enak!” seru Fita terus saja berceloteh ini itu.
“Nggak! Ngapain sih lo ikut-ikutan kesini, udah bagus diem di rumah,” ketus Arvin kesal.
“A----.”
“Udah Van, biar gimanapun Fita baru pertama kalinya datang ke Indonesia. Jadi wajar kalau dia bersikap seperti ini,” ucap Sandra memboyong ucapan Fita.
Arvin hanya diam tidak menjawab. Tatapan tajamnya masih fokus kepada Fita yang tengah menjulurkan lidahnya mengejek.
“Bang beli martabaknya!” seru Fita yang sudah berlari ke arah pedagang berkaki lima itu.
Alhasil mereka bertiga pun berhenti di salah satu pedagang dari sana. Terlihat Fita tanpa sungkan memakan martabaknya dengan lahap. Tetapi tidak dengan Arvin dan Sandra yang memakan martabak dengan pelan.
Saat Arvin menoleh ke arah Sandra. Ia melihat ada sisa martabak di bibirnya. Arvin segera membersihkan kotoran itu dari mulutnya. Fita yang melihat itupun menatap Arvin sinis.
“Mengambil kesempatan dalam kesempitan kayaknya enak banget, ya. Padahal dia bukan siapa-siapanya hadeuhh,” celetuk Fita menyindir Arvin yang tengah memakan martabaknya.
“Maksud kamu apa?” tanya Sandra tidak mengerti ucapan Fita.
“Nggak ada. Udah lupain, gue cuma iseng kok,” ketus Fita beranjak dari duduknya membuat Arvin terdiam dengan sikap Fita kepadanya.
Kenapa tuh anak?- batin Arvin gelisah.
Tatapan Arvin beralih kepada Sandra. “Jangan terlalu dipikirin. Fita emang suka ngomong ceplas-ceplos, yuk susul Fita. Aku takut dia diculik Om-om lagi, kan berabe.”
Sandra menganggukkan kepalanya menerima uluran tangan Arvin agar lelaki itu genggam. Sedangkan Fita sudah berlari jauh dari pandangan mereka, aneh rasanya tiba-tiba Fita bersikap seperti itu. Dan kenapa juga Fita harus kesal melihat kedekatan Sandra dengan Arvin. Padahal Fita sudah tahu kalau mereka hanya sebatas kakak ipar dan adik ipar di kelak nanti.
“Gue kenapa sih? Nggak mungkin kan gue cemburu sama mereka?” tanya Fita pada dirinya sendiri. “Nggak mungkin lah gue cemburu, gila aja gue cemburu sama Arvin biadab itu.”
================================
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Teen FictionArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)