Setelah tujuh bulan lebih. Akhirnya keinginan Valdesta ingin mempunyai adik terwujud. Tetapi dalam tujuh bulan penuh ini juga sikap Fita berubah-ubah, kadang pengen itu, kadang pengen ini. Arvin saja dibuat pusing setiap hari olehnya.
“Mas, aku nggak mau tidur sama kamu ya. Kamu bau,” ketus Fita beranjak dari ranjangnya.
Arvin yang mendengar suara istrinya itu langsung membuka matanya lebar-lebar. “Lah, kok gitu sih? Kan kita suami-istri, nggak boleh pisah ranjang.”
Fita mengerucutkan bibirnya kesal. “Abisnya kamu bau. Aku nggak suka bau badan kamu, aku sukanya bau badan Mevan hihi. Anter aku ketemu Mevan yuk! Katanya dia di rumah Bunda."
Arvin menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak mau ahh, ntar kamu lupain aku lagi kayak kemaren. Bilangnya mau sebentar ke rumah Alvin. Ehh taunya malah nginep semaleman. Ngeselin tau nggak.”
Mata Fita mulai berkaca-kaca. “T-tapi itu bukan kemauan aku hiks ... Itu maunya anak kamu huaa!”
Arvin mengerjap-ngerjapkan matanya. Kenapa Fita yang sekarang sangat cengeng? Melihat wajahnya yang memerah membuat Arvin gelisah. “Aduh sayang, kenapa pake acara nangis segala sih.”
“Kamu bilang aku ngeselin. Kan kamu sendiri yang ngeselin! Huaaa Bunda!” teriak Fita menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya kembali.
Arvin mengacak rambutnya frustasi. Mendekat ke arah istrinya sambil memegangi perutnya. “Owh, keinginan baby ya. Ya udah maafin Papa ya sayang. Kan Papa nggak tau hehe.”
Fita membuang wajahnya ke arah lain. Tiba-tiba ia mencubit kedua pipi suaminya gemas. “Mau ke Mevan!”
Arvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Tapi kan masih malem yang, ntar aja ya. Nunggu pagi gitu. Ini masih jam dua malem lol, kamu nggak mau tidur lagi?”
Fita menatap Arvin dengan mata yang berkaca-kaca. Ia juga tidak mau menyusahkan Arvin, tetapi keinginan bayinya sangat besar. Tapi sudahlah.
“Ya udah, tapi kamu mandi dulu ihh, aku nggak mau tidur sama orang bau,” ketus Fita mendorong bahu Arvin agar lelaki itu mandi.
Arvin melongo mendengar ucapan istrinya itu. Jam dua malam, mandi? Mandi kembang tujuh rupa kali. Arvin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.
Saat hendak berjalan menuju kamar mandi. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Mencium ketiak lelaki itu membuatnya kegelian. “Kamu mandi tapi jangan dibasuh ketiaknya ya. Wangi.”
“Hah?!” beo Arvin cengo. “Gimana? Gimana? Aku nggak salah denger kan? Masa iya mandi ketiaknya nggak dibasuh. Ya kali aku mandi uler yang.”
Fita cemberut mendengar ucapan suaminya itu. “Jangan mandi deh. Ayo tiduran.”
Arvin mengepalkan tangannya menahan amarah. Tadi bilang katanya suruh mandi. Sekarang ia disuruh tidur, sungguh Arvin ingin menjambak rambut Fita kencang-kencang sekarang juga. Kalau bukan cinta, ia tidak mau di atur-atur seperti ini oleh istrinya.
Tetapi apalah dayanya sekarang? Sekarang mereka sudah berada di atas ranjang. Dengan tangan Arvin yang merangkul pundak Fita, sedangkan Fita sibuk menciumi ketiak suaminya yang katanya 'wangi'.
Fita meraba-raba badan kekar Arvin. Meskipun laki-laki itu sudah terpejam. Tetapi rasanya Fita tidak ingin menyusul suaminya ke alam mimpinya itu.
“Mas, aku mau pedang kamu,” rengek Fita namun dihiraukan oleh Arvin.
“Mas ihhh, pengen sosis panjang kamu,” rengek Fita yang kedua kalinya. Sepertinya Arvin sangat lelah, karena sedari kemarin ia kurang tidur akibat tugas kantor yang menumpuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Novela JuvenilArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)