Sandra celingak-celingukkan mencari tangga yang biasa ia gunakan untuk memanjati kamar pacarnya, Sandra sengaja memilih jalanan yang sulit karena selain bosan. Ia juga malas bertemu dengan saudara-saudara pacarnya itu.
Sandra tersenyum ketika ekor matanya mendapatkan apa yang ia inginkan. “Gue cariin dimana-mana, ternyata tangganya ada disini toh.”
Sandra melempar batu kerikil ke arah kamar Arvan yang berada di atas rumah. Namun sepertinya tidak ada sahutan sama sekali dari lelaki itu. Sandra menghembuskan nafasnya sesaat, lalu ia mulai menginjakkan kakinya ke anak tangga, menuju kamar pacarnya.
“YEY SAMPE!” seru Sandra mengangkat tangannya ke atas saat menyadari dirinya sudah berhasil melewati tangga.
Sandra berbalik, berniat untuk mengetuk jendela kamar Arvan, namun baru saja melangkah. Tiba-tiba saja telinganya mendengar sesuatu yang pecah, seperti pecahan gelas atau semacamnya.
Sandra membulatkan matanya menyadari Arvan tengah menyayat tangannya. Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Sejak kapan Arvan suka menyayat tubuhnya?
“Ar-----.” Sandra meremas ujung bajunya agar tetap tenang dan tidak langsung menghampiri Arvan. Ia bisa lihat kalau Arvan sekarang tengah kacau, apalagi dengan rambutnya yang acak-acakan. Bajunya yang terbuka, serta keringat yang membasahi tubuhnya.
Terlihat dari jendela kamar Arvan. Sekarang Arvan tengah menyayat tangannya dengan tangan terkepal. Tak lama kemudian Arvan mengangkat sambungan telepon dari seseorang.
Karena penasaran. Akhirnya Sandra pun memberanikan diri untuk menemui Arvan yang berada di ujung ranjangnya. Langkah Sandra berhenti saat Arvan mengatakan.
“Gue nggak mungkin suka sama Sandra punya lo bodoh! Itu terlalu konyol Van hahaha,” ucap Arvin tertawa pahit.
Ya. Sekarang Arvin tengah teleponan bersama kembarannya. Sandra yang mendengar perkataan Arvan pun hanya bisa mematung di belakang tubuh kekasihnya. Arvin memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenapa saat Arvin jatuh cinta, ia salah mencintai seseorang. Dan harusnya rasa itu tidak ada sama sekali.
Benarkah? Hahaha ... Mana mungkin lo suka sama Sandra. Secara lo kan anti sama yang namanya wa.ni.ta. ucap Arvan menekankan kata 'wanita' di dalam sambungan teleponnya.
Arvin hanya bisa tersenyum pahit mendengar ucapan kakaknya. “Gue nggak ada waktu buat bahas dia. Cepet sembuh atau Sandra akan benar-benar jadi milik gue.”
Heh lo gila!
Tutt .... Tuttt ....
Arvin mematikan sambungan teleponnya dan langsung melempar benda pipih itu ke arah tong sampah. Arvin melanjutkan kegiatannya, yaitu menyayat tangannya.
“A-arvan!”
Deg.
Arvin mematung mendengar panggilan itu. Suara yang lemas nan lembut itu adalah milik Sandra, ya. Arvin yakin kalau itu dia. Tetapi bagaimana bisa Sandra berada di dalam kamarnya?
Arvin berbalik, dan kaget melihat Sandra yang berlinang air mata. Arvin langsung menyembunyikan tangannya ke belakang agar Sandra tidak melihat luka yang berada di tangannya itu, namun telat. Sandra menarik tangan Arvin dan langsung menatapnya sayu.
“Apa ini Van? Apa yang kamu lakuin? Dan ...” Sandra menjeda ucapannya. “Apa yang kamu katakan di telpon tadi benar? Kamu nggak suka sama aku?” Lanjutnya menatap manik mata Arvin yang kian memerah.
Arvin membuang pandangannya ke arah lain. “S-sand, kamu salah paham,” sarkas Arvin memejamkan matanya.
Sandra memegangi kepala Arvin. “Lihat aku Van! Kenapa kamu tega mengatakan semua itu? Siapa yang bicara ditelpon sama kamu? Jawab Van! Jawab!”
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Teen FictionArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)