Galuh tertawa keras saat menyadari dirinya kalah beberapa kali bermain catur dengan anak angkatnya, siapa lagi kalau buka Fita. Si ratu yang mempunyai otak genius, Galuh mengacak puncak kepala Fita penuh kasih sayang.
“Kenapa anak Ayah sangat pintar seperti ini? Kamu selalu mengalahkan Ayah, entah itu di London, ataupun di Indonesia, rasanya sama aja. Ayah kalah olehmu beberapa kali.” Puji Galuh bangga dengan anak angkatnya itu.
Arlina yang melihat Ayahnya lebih dekat dengan Fita pun rasanya cemburu. “Ayah, kok nggak ngajakin Arlina main sih, Arlina kan juga mau Ayah elus-elus kayak gitu.”
Dira terkikik geli melihat putrinya yang cemburu seperti itu, padahal biasanya Arlina tidak akan bersikap manja seperti itu di depan semua keluarganya.
“Ouhhh iya Ayah lupa mempunyai dua princess sekarang. Yasudah ayok kita bermain!” seru Galuh membuat Arlina bersorak gembira.
Tetapi tiba-tiba Arlina berhenti di hadapan Papahnya. Ia melihat ke arah para kakak-kakaknya yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Alvin yang sedang membaca koran, Dira yang sedang menonton televisi, Arvan yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya, serta Arvin yang bermain game di handponenya.
Arlina memutar bola matanya malas, melihat keluarganya yang sibuk sendiri-sendiri. Arlina mau bermain dengan keluarganya bersama-sama. Bukan sibuk masing-masing seperti ini.
Fita yang melihat Arlina yang mengetuk-ngetuk dagunya berpikir pun Mendekat ke arahnya. “Kok malah diem, nggak jadi main sama Ayah?”
Arlina mengerucut bibirnya kesal. “Gue mau main sama-sama. Tapi gue bingung, mau main apaan, Ayah sibuk sama caturnya. Sedangkan kak Alvin, kak Arvan sama kak Arvin malah sibuk masing-masing. Bahkan Bunda pun malah ikut-ikutan sibuk sendiri.
Pandangan Fita jatuh pada semua nama yang tadi Arlina sebutkan. Ia melihat Bundanya menangis karena tengah menonton 'ikatan cinta' yang ternyata pemeran utamanya salah paham sama pasangannya. Ck drama sekali.
Lama berpikir keras, akhirnya Fita menemukan ide yang sangat ampuh. “Gue tau caranya agar kita main sama-sama.”
“Gimana? Gimana?” tanya Arlina penasaran.
Fita membisikan sesuatu kepada telinga Arlina. Dan sedetik kemudian Arlina berteriak kegirangan, membuat semua keluarganya menoleh kepadanya, dan juga Fita tentunya.
Fita menepuk jidatnya, kenapa Arlina sangat antusias mendengarkan ide yang Fita temukan. Semua pasang mata tertuju kepada kedua kaum hawa yang sekarang tengah cengengesan tidak jelas.
“PERHATIAN! PERHATIAN!” teriak Arlina manaiki meja ruang keluarnya.
Semua keluarganya berkumpul di kursi yang sama. Bahkan Galuh yang tengah belajar catur pun menghentikan aktivitasnya, ia berjalan ke arah kursi dekat Fita.
“Ada apa ini?” tanya Dira kebingungan.
“Berhubung besok aku libur, dan pastinya para kakak-kakak aku tercinta pun libur. Jadi aku mau malam ini kita bermain ramai-ramai. Puasin malam ini dengan bermain basket bersama, gimana-gimana? Kalian setuju?”
Semua keluarganya cengo, terutama Galuh yang tidak mengerti apa kemauan anak bungsunya itu. “Tapi Ayah ada tugas num---.”
“NGGAK ADA PENOLAKAN! Atau Arlina nggak mau lagi ngomong sama kalian,” ketus Arlina membuat Fita mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya.
“Ya udah ayo!” seru Arvin mengangkat tangannya ke atas, guna memberi jawaban 'iya' untuk adik bungsunya itu.
Arlina tersenyum senang. “Arlina hitung nih dari tiga ... dua ... sa----.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Ficção AdolescenteArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)