💠 17 💠

2.6K 173 5
                                        

Arvin mengacak rambutnya frustasi. Pagi-pagi seperti ini kembarannya sendiri menyuruhnya agar berangkat bersama, tentu saja Arvin tidak bisa menolak karena Dira yang selalu membelanya. Dan sialnya ia harus melihat adegan yang cukup membuat hatinya sakit. Bayangkan saja sekarang Arvan dan Sandra sedang berada di dalam mobil yang sama sambil mesra-mesraan tanpa menghiraukan Arvin yang tengah kesal dengan mereka.

Cittt ...

Arvin mengerem mendadak. “Gue nggak bisa berangkat bareng kalian. Kak, lo bisa kan nyetir sendiri? Gue ada urusan penting.”

Arvin langsung turun dari mobilnya tanpa menoleh ke belakang. Arvan yang sedang memainkan rambut Sandra pun berhenti karena melihat sikap adiknya yang tampak berbeda dari biasanya. Sedangkan Sandra hanya menatap kepergian Arvin sekilas.

“Mungkin dia ada urusan kali, ya udah. Pindah tempat yuk,” ucap Sandra seakan-akan tahu apa yang tengah dipikirkan Arvan sekarang.

Arvin segera beralih ke kursi depan untuk mengemudikan mobilnya. Begitupun dengan Sandra yang pindah tempat di sebelah Arvan. Mereka berdua melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sedangkan Arvin sudah berada di lain tempat, dan mungkin ia akan membolos pagi ini.

“Aghhhhhhh!” Arvin menendang sampah-sampah yang berada di jalanan sembarangan.

Tujuannya saat ini hanya satu, basecamp. Hanya tempat itu yang mampu menenangkan segala pikiran Arvin saat ini, setelah sampai di tempat yang dituju. Arvin dapat melihat kalau disana hanya ada satu perempuan. Ahh Arvin lupa kalau teman dekatnya yang berada di Indonesia hanya satu.

“Kenapa tuh muka, pagi-pagi udah kusut banget kayak lap goreng emak gue,” celetuk Fita menaruh handponenya di saku celananya.

Arvin duduk di sebelah Fita dengan tangan yang merangkul di pundak perempuan itu. Tentu saja Fita tidak risih sama sekali, karena perempuan itu sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti itu dari sahabat terdekatnya.

“Lo pernah ngerasain nggak sih? Jatuh cinta sama orang, yang jelas-jelas orang itu udah punya pacar?” tanya Arvin mengeluarkan rokoknya.

Fita menengok ke arah Arvin. “Nggak pernah---- ehhh ngapain lo tanya-tanya begitu? Lo lagi jatuh cinta sama cewek, hah?”

Arvin membuang pandangannya ke arah lain. Sial, niatnya mau minta solusi malah dirinya yang tersudutkan. Arvin menggaruk-garuk kepalanya, sesekali ia menghisap rokoknya.

“Nggak. Gue cuma nanya aja sama lo, siapa tau lo pernah, kan?” ujar Arvin menyembunyikan kejujurannya.

Fita tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak pernah. Lagian ngapain juga jatuh cinta sama orang yang udah punya pacar. Kayak nggak ada cewek lain aja.”

Arvin termenung sejenak. Benar kata Fita, ngapain Arvin harus suka kepada Sandra, toh di dunia ini masih banyak perempuan yang lebih darinya. Arvin menoleh ke arah Fita dan ...

Deg.

Jantung Arvin tiba-tiba berdetak kencang begitu saja. Arvin menelan ludahnya susah payah, baru kali ini Arvin melihat Fita yang menggerai rambutnya. Padahal biasanya perempuan itu selalu mengucirnya asal.

Fita yang menyadari dirinya di perhatikan pun menoleh ke arahnya. “Ngapain lo liatin gue?”

Arvin gelagapan sambil menyesap rokoknya. Namun sialnya rokok itu dipatahkan oleh Fita dengan santainya. Fita membuang potongan rokok itu asal.

“Lo nggak bisa terus-terusan merokok begini Vin, gue khawatir suatu saat nanti lo ngalamin apa yang kakak gue alamin. Dan gue nggak mau orang yang gue sayang pergi ninggalin gue dengan cara yang sama,” jelas Fita memberikan tatapan teduh untuk sahabatnya.

Fita berjalan keluar ruangan. Melihat perkebunan indah yang berada di belakang basecamp. Arvin yang mendengar ucapan Fita pun terdiam lama.

“Maksud lo?” tanya Arvin bingung.

Fita tersenyum tipis. “Gue sayang sama lo Vin, lo sahabat gue satu-satunya. Keluarga gue udah hancur, dan kakak tersayang gue harus pergi karena kanker paru-paru akibat rokok. Dan gue nggak mau lo juga ninggalin gue karena lo ... Lo selalu merokok.”

Arvin mendekatkan tubuhnya ke arah Fita. Jujur saja baru pertama kalinya Arvin melihat Fita yang serapuh ini, ia sudah tau kalau keluarganya bercerai sejak Fita masih kecil. Dan kakaknya, Andreas sudah meninggal tujuh tahun yang lalu akibat kanker paru-paru.

“Lo jelek kalo nangis kayak gini. Gue minta maaf untuk sekarang gue nggak bisa berhenti ngerokok.” Arvin menghapus jejak air mata yang Fita keluarkan. Tanpa ia duga Fita memeluknya erat. Menangis terisak di dada bidangnya.

“Nangis sampai lo puas. Gue siap jadi sandaran lo untuk kapanpun itu,” ungkap Arvin mengelus-elus puncak kepala Fita.

Dan benar saja, Fita benar-benar menangis di dada bidang lelaki itu sampai-sampai seragam sekolahnya pun basah karena air matanya. Arvin merasakan darahnya berdesir hebat saat tangisan Fita semakin kencang.

Mungkin Arvin benar-benar sudah terbawa suasana sehingga ia pun ikut meneteskan air matanya. Tak lama kemudian Fita sudah tidak menangis lagi, ia melepaskan pelukannya membuat Arvin terdiam sejenak. Aneh rasanya setelah Fita menjauhkan badannya dengan Arvin. Lelaki itu malah diam tidak berkutik.

“Makasih lo selalu ada buat gue. Lo satu-satunya sahabat gue yang ngerti apa yang gue rasain. Maaf baju seragam lo basah karena gue,” ucap Fita mengelus-elus dada bidang Arvin agar air matanya menghilang.

Namun bukannya menghilang, Arvin merasakan detak jantungnya kian memburu. Fita terdiam lama merasakan detak jantung Arvin yang semakin lama semakin kencang. Dengan bodohnya Fita menempelkan telinganya di dada Arvin.

Deg.

Deg.

“Vin? Lo nggak punya penyakit jantung kan?” tanya Fita khawatir.

“Aehhh g-gue n-nggak papa,” jawab Arvin gelagapan.

Arvin menepis tangan Fita lembut. Ia tidak tahu kenapa jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Dan entah kenapa setelah Fita mengelus dadanya ia merasakan getaran hebat yang menjalar di seluruh tubuhnya.

Fita semakin khawatir melihat wajah Arvin yang mulai pucat, padahal ini sudah pagi menjelas siang. “Vin?”

“Gue pergi dulu, ada urusan penting yang harus gue selesain, lo bisa balik sendiri kan? Hati-hati,” jawab Arvin dengan cepat. Ia sudah tidak tahan dengan jantungnya yang ingin melompat dari sarangnya.

Aneh memang, tapi inilah kenyataannya. Detak jantung Arvin semakin memburu saat sudah berdekatan dengan Fita. Entah pagi ini kesialan Arvin atau keberuntungan bagi Arvin. Entahlah, rasanya Arvin ingin mati saja hari ini.

Apa gue punya rasa sama Fita? Tapi nggak mungkin kan gue suka sama cewek bar-bar kayak dia?

====================================

Bersambung ...

ARVIN [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang