💠 04 💠

4.4K 285 16
                                        

Saat jam pelajaran berlangsung. Sandra tidak begitu fokus dalam memahami pelajaran. Ia masih memikirkan kejadian kemarin dimana dirinya bertemu dengan kekasihnya yang sangat dia rindukan. Mungkin sudah satu minggu lebih Sandra melamun tanpa alasan yang jelas.

Robi memperhatikan Sandra yang duduk di sebelahnya. "Sand, lo kenapa?" tanya Robi berbisik. Namun sepertinya Sandra tidak mendengar bisikan temannya itu.

Robi melemparkan bolpoin yang ia penggam ke arah Sandra agar gadis itu menoleh kepadanya. "Sstttt .... Sand!"

Sandra mengerjap-ngerjapkan matanya kaget. "Apa?!" tanyanya ketus.

Robi menyengir kuda. "Lo kenapa sih? Noh lihat pelajaran, bukan malah ngelamun huh."

Sandra menatap Robi malas. Ia pun mencoba untuk fokus kepada pelajaran yang sedang ia pelajari. Namun sepertinya bayang-bayang laki-laki kemarin selalu teriang-iang di kepalanya.

Kring--

"Baik anak-anak. Pelajaran baru ini cukup sampai disini. Ahhh iya, ibu sampai melupakan sesuatu. Satu minggu lagi kita akan mengadakan camping. Bagi kalian yang mau ikut kegiatan tahun ini, bisa daftar ke ketua osis, dan silahkan istirahat," ucap Bu Alia menutup pelajarannya.

Sandra nampak tidak berminat sama sekali. Namun melihat Naumi dan Robi yang menatapnya seperti itu membuat Sandra bimbang.

"Eh Sand, lo ikut kan acara camping tahun ini? Sayang loh Sand ini terakhir kita camping. Bentar lagi kan kita lulus," ucap Naumi seperti meminta permohonan.

"Iya Sand, mau sampai kapan coba lo gini terus. Ikut aja yuk, itung-itung cari pengalaman gituh. Cari jodoh juga boleh kayaknya," timpal Robi yang mendapatkan jitakan maut dari Naumi.

Sandra mengedikkan bahunya acuh. "Kita lihat aja nanti."

Robi dan Naumi saling pandang. Mereka tidak yakin kalau Sandra akan ikut dalam kegiatan camping tahun ini. Terlihat dari gaya bicaranya saja dia seperti malas mengucapkannya.

"Lo sebenarnya kenapa sih? Dari tadi gue lihat-lihat, bengong aja?" tanya Naumi penasaran.

"Gue lihat dia kemaren," ucap Sandra menatap karidor sekolahnya dengan tatapan kosong.

Naumi menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Lihat? Lihat apa sih, lo tau Rob?"

Robi menggeleng. "Lo ngapain nanya gue Soimah. Kan dari kemaren gue pulang sendiri, maen sendiri, ya mana tau gue lihat. Ehhh bentar-bentar ... Lihat siapa yang lo maksud?"

"Kalau gue bilang Arvan masih hidup, apa kalian percaya?" tanya Sandra menatap kedua sahabatnya ragu.

Naumi dan Robi spontan menghentikan langkahnya. Robi menempelkan tangannya di kening Sandra. Memastikan suhu tubuhnya tidak bermasalah.

"Lo nggak halu kan? kan udah jelas bulan lalu Arvan meninggal. Nggak mungkin dia, lo salah orang kali."

"Iya Sand, gue tau lo kangen sama Arvan. Lo belum bisa lupain dia. Tapi please deh Sand, lo jangan sampai gila hanya karena cowok," timpal Naumi yang di angguki oleh Robi.

Sandra menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue nggak bohong, gue nggak halu, gue beneran lihat dia. Kemaren, dia hampir nyerempet gue. Dia pake motor gede warna merah," ucapnya mengingat jelas kalau laki-laki yang di maksudnya tadi adalah kekasihnya. Arvan.

ARVIN [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang