Arvan tersenyum pahit saat melihat kertas putih yang berada di genggamannya. Ia meremas kertas yang amat penting itu dengan emosi yang mengembu. Ia sudah yakin dengan pilihannya, hidup Arvan tidak akan lama lagi. Terbukti sekarang, tekanan darahnya semakin lama, semakin rendah.
“Sudah kuduga, pasti hasilnya sama,” gumam Arvan melempar kertas tersebut ke tong sampah. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan sendu.
“Sand, apa kamu bisa hidup tanpa aku? Semoga saja Arvin menyetujui keputusanku,” ucap Arvan memejamkan matanya untuk menyambut hari esok. Meskipun perih oleh kenyataan, tetapi Arvan harus menerima, karena semuanya adalah takdir dari Tuhan.
“Hidup, mati, semoga besok menjadi hari bersejarah dalam hidup,” gumam Arvan, lagi-lagi ia tertawa miris.
*******
Arvin tersenyum getir saat mengingat masa-masa indahnya saat di London bersama Fita. Menurut Arvin, kisah mereka sangat singkat. Apalagi saat itu Fita sering mengikutinya kemanapun Arvin pergi, sehingga lama-kelamaan Fita masuk ke dalam geng motornya di London.
Fita yang melihat Arvin hanya diam pun menepuk pundaknya. “Kenapa diem? Ayok jalan. Nanti telat.”
Mereka berangkat sekolah bersama menggunakan motor Arvin. Bukan karena tidak ada mobil, namun mereka bosan saja, jika harus ke sekolah memakai mobil terus-menerus.
Sesampainya di sekolah, Fita langsung terburu-buru masuk ke dalam kelasnya. Entah kenapa ia tidak mau berlama-lama bersama Arvin, entah kenapa rasanya berbeda dari yang dulu.
Arvin menatap punggung Fita yang semakin lama semakin mengecil. Gadis yang gue anggap paling berharga, udah banyak berubah. Batin Arvin tersenyum kecut.
Lantas ia pun memarkirkan motornya di jejeran terakhir. Sebelum melanjutkan langkahnya, ia menghela nafas panjang. Tatapan Arvin tertuju kepada Arvan yang terlihat pucat, hingga Sandra yang berada di sebelahnya.
“Woi, Vin!” seru Alvin merangkul pundak adiknya itu.
“Lo udah tau nggak, tentang surat ini?” tanya Alvin mengeluarkan sebuah surat panjang dari saku celananya.
Arvin mengerutkan keningnya terheran. “Surat apaan nih? Lah, kok ada kertas nama gue sama Sandra sih?” tanya Arvin langsung merampas kertas tersebut.
Alvin menatap Arvin sendu. “Mending lo baca aja. Tapi jangan disini ... Ikut gue.”
Alvin membawa Arvin menuju rooftop tempatnya untuk membolos. Setelah sampai di tempat tujuan, baru Alvin mempersilahkan Arvin agar membaca surat yang ia bawa.
Tatapan Arvin membulat tidak percaya. Berarti semua keluarganya sudah tahu tentang penyakit Arvan--- kakaknya, Arvin membaca semua kata yang tertulis di surat tersebut, tangannya mengepal erat, dan matanya kini memanas menahan amarah dan rasa sedih.
04/05/21.
Gue nggak tau ini takdir yang baik atau yang buruk. Tapi gue yakin, endingnya bakalan bahagia, mungkin? Atau mungkin tidak. Arvan Fatnon Mixcel, umur gue nggak akan lama lagi. Mungkin besok atau lusa, gue mungkin nggak bisa lihat dunia lagi.
Sandra, dia cewek gue yang paling gue sayang. Tapi gue nggak tau, setelah dia tau tentang penyakit gue, mungkin semuanya akan berubah. Ya memang kenyataannya. Gue punya kanker darah di usia gue yang masih kecil.
Awalnya gue menyangkal itu semua. Perkataan Ayah dan Bunda, yang selalu menyemangati gue hanya gue anggap angin lewat. Karena gue tau, Ayah sama Bunda sering perhatian kepada kami. Iya kami. Alvan, Alvin, gue, Arvin dan princess gue Arlina.
Semuanya terjadi begitu aja. Gue nggak tau kedepannya bakalan gimana. Tapi gue berharap semua orang yang gue sayang mendapat kebahagiaan walaupun nggak ada gue disisi mereka. Salah satunya Sandra. Gue harap setelah semuanya tau tentang penyakit gue, mereka akan menerima keputusan gue.
Arvin. kembaran gue, sekaligus orang yang paling gue percayai setelah kedua orang tua gue. Dia salah satu cowok yang tipikal cowok sangar, tapi gue yakin. Kalau sama Sandra dia nggak mungkin nyakitin dia. Karena apa? Karena Sandra milik gue.
Keputusan gue udah bulat. Gue mau Sandra punya pasangan yang baik setelah gue. Memang berat, tapi apa yang harus gue lakuin? Umur gue nggak bisa diharapkan lagi. Semuanya pasti mempunyai masalah hidup, dan sialnya masalah itu datang ke gue sendiri.
Lucu sih, gue jodohin adek gue sendiri ke belahan jiwa gue, siapa lagi kalau bukan Sandra orangnya. Gue harap setelah gue nggak ada di dunia ini lagi, cewek gue udah jadi milik orang lain.
Arvin. Gue harap kembaran gue menerima keputusan gue untuk segera menikahi Sandra, dan menjadikan miliknya untuk selama-lamanya. Sampai ajal mereka berdua menjemput. Dan gue harap semuanya bahagia walau tanpa gue.
Wanti gue nggak lama lagi. Arvin, semoga dia jaga titipan gue dengan benar.
Arvan Fatnon Mixcel.
Jakarta. 04/05/21.
Alvin mengelus-elus punggung Arvin memberikannya semangat. “Lo harus bisa jaga Sandra untuk ke sekian kalinya. Lo nggak mungkin buat dia kecewa saat waktu hidupnya udah di ambang kematian.”
Arvin menatap surat tersebut dengan tatapan kosong. “Gue nggak tau harus apa. Jujur aja, gue nggak punya perasaan apapun buat Sandra.”
Alvin tersenyum kecil. “Itu sekarang. Nggak tau kalau nanti.” Alvin menjeda ucapannya sebentar, lalu melanjutkan ucapannya. “Gue dapet surat ini di laci obat-obatan. Dan ternyata benar, Arvan mempunyai penyakit kanker darah. Makanya saat di London tubuh Arvan lemah terus. Dia pernah cerita sama gue, kalau dia udah lelah dan capek karena harus cuci darah setiap minggunya.”
Arvin tersentak kaget. Tiba-tiba nafasnya memburu tidak beraturan, ia takut kalau nanti hatinya berkata lain. Jujur saja Arvin sudah menaruh hati dengan perempuan lagi, siapa lagi kalau bukan Fita orangnya. Teman, sahabat, sekaligus adik angkatnya saat ini.
Alvin menepuk pundak Arvin. “Gue harap juga begitu. Terima keputusan kakak lo, sebelum lo diselimuti rasa bersalah. Gue harap lo terima keputusannya, apapun itu.”
“Tapi gue nggak bisa Ka udah jatuh cinta sama orang lain.” Bantah Arvin membuat Alvin mengerutkan keningnya terheran.
“Siapa cewek yang lo suka?” tanya Alvin penasaran.
“Fita!” Singkat Arvin memejamkan matanya takut. Alvin yang mendengar itupun tertegun sejenak, lalu ia tersenyum sinis kepada Arvin.
“Tinggalin dia.”
Arvin melotot tidak terima. “Nggak apaan Lo nyuruh-nyuruh gue seenak jidat, lo!”
“Tinggalin dia, atau Arvan akan benci sama lo seumur hidupnya, mungkin sampai mati sekalipun,” ucap Alvin meninggalkan Arvin sendirian di rooftop tersebut.
Arvin terdiam lama. Ia mengacak rambutnya frustasi, apakah dia harus merelakan cintanya demi permintaan kakaknya? Atau memperjuangkan cintanya dan mendapati kebencian dari orang tersayangnya. Kembarannya sendiri?
Aghhhh BANGSAT!
====================================
Bersambung ...
Vote and coment selalu.
Pilih Fita our Sandra?
Arvan matinya pending dulu jangan?
^_^
KAMU SEDANG MEMBACA
ARVIN [TERBIT]
Novela JuvenilArvin Fatnon Mixcel. Tidak pernah ia bayangkan jika harus menjalani hidup serumit itu. Pada usianya yang terbilang masih muda itu harus bertunangan bahkan menikah dengan Sandra, yang notabenenya pacar kakaknya. Arvan menitipkan Sandra kepadanya buka...
![ARVIN [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/264500586-64-k297028.jpg)